Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@dre2fit: Playing like a sloth 😮💨🔥#pickleball #sloth
Dre Quick Hands
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 06 May 2026 23:36:07 GMT
360
4
0
0
Music
Download
No Watermark .mp4 (
0.99MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
0.42MB
)
Watermark .mp4 (
0.93MB
)
Music .mp3
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @dre2fit, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
#Rust
@… made a 7 man quit with 2 cheaters best duo ever #rust #gaming #consolerust #duos #viral
#closeupaffiliatesquad @Closeup Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) berpotensi untuk melakukan pembatalan pencatatan saham atau delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Induk CIMB Niaga, CIMB Group Holdings Bhd dikabarkan tengah meningkatkan upaya untuk menjajaki kemungkinan delisting anak usahanya di Indonesia itu dan berencana untuk melakukan konsultasi dengan pihak regulator terkait langkah tersebut. Sebagaimana melansir Reuters, CIMB Investment Bank Bhd (CIMB IB) mengungkapkan wacana tersebut dalam catatan risetnya yang terbaru. Bank investasi tersebut menyatakan bahwa langkah ini didasari oleh pandangan CIMB bahwa saham CIMB Niaga masih dinilai terlalu rendah (undervalued). Selain itu, CIMB juga memiliki prospek positif jangka panjang terhadap Indonesia, terutama mengingat kekuatan CIMB Niaga di sektor pengelolaan kekayaan (wealth management), perbankan korporasi, konektivitas ASEAN, layanan perbankan bagi segmen nasabah kaya (mass affluent), serta perbankan syariah. Lebih lanjut disebutkan bahwa terdapat tiga opsi yang tengah dipertimbangkan untuk memenuhi ketentuan mengenai saham yang beredar di publik (free-float) bagi CIMB Niaga. Antara lain, penempatan saham kepada investor strategis dengan valuasi yang dapat diterima; penawaran umum perdana kembali (re-IPO) - yang tampaknya sulit dilakukan dalam kondisi pasar Indonesia saat ini; serta privatisasi, yang saat ini dinilai sebagai opsi yang lebih strategis dan kredibel. "CIMB mencatat adanya berbagai opsi untuk melakukan delisting, termasuk skema yang memungkinkan pemegang saham minoritas untuk tetap memiliki sisa kepemilikan saham setelah proses delisting selesai. Hal ini merujuk pada preseden pengaturan kepemilikan saham minoritas yang pernah diterapkan pada CIMB Thai dan CIMB Bank Malaysia," jelas CIMB IB, dikutip dari Reuters, Rabu (21/10/2026). Mereka menambahkan, upaya untuk tetap menjaga aliran dividen dari CIMB Niaga kepada grup induk tetap menjadi pertimbangan utama dalam mengevaluasi langkah strategis apa pun. "Dengan rasio modal inti tier 1 (CET1) sebesar 23 persen, CIMB melihat adanya ruang untuk optimalisasi modal, yang berpotensi diarahkan menuju angka 20 persen, meskipun belum ada target resmi yang ditetapkan." "CIMB tetap disiplin dalam pendekatannya terhadap merger dan akuisisi; mereka hanya terbuka untuk peluang akuisisi berskala kecil (bolt-on) di bidang-bidang seperti pengelolaan kekayaan (wealth management), perbankan usaha kecil dan menengah (UKM), serta Niaga Syariah, sementara transaksi berskala besar dikesampingkan," tambahnya. Sementara itu, dalam catatan terpisah, MBSB Investment Bank Bhd menyatakan bahwa CIMB memiliki 92,5% saham di CIMB Niaga. Jika CIMB Niaga dijadikan perusahaan tertutup (go private) pada harga saat ini sebesar 1.550 rupiah per saham, maka nilai akuisisi yang diperlukan adalah Rp2,95 triliun rupiah (RM670 juta). Jika ditambah premi sebesar 30%, nilai akuisisi tersebut menjadi Rp3,84 triliun (RM871 juta). "Dengan demikian, diperkirakan akan terjadi penurunan rasio CET1 sebesar 18 hingga 23 basis poin dari posisi terakhir yang berada di angka 13,9 persen. Namun, kami memperkirakan angka penurunannya akan lebih mendekati batas bawah kisaran tersebut. CNBC Indonesia telah menghubungi Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan untuk meminta konfirmasi mengenai hal ini, namun ia tidak segera menjawab. Kabar ini cukup mengejutkan, karena belum lama ini, raksasa finansial Malaysia itu menyatakan melihat adanya peluang besar di Indonesia, di tengah kekhawatiran investor global. Group CEO CIMB Group, Novan Amirudin mengatakan pelemahan rupiah ke level terendah sepanjang masa saat ini adalah waktu yang tepat untuk masuk ke pasar Indonesia. "Nah, rupiah sedang rendah saat ini. Jadi bagi investor yang melihat potensi jangka panjang di Indonesia, tentu ini adalah waktu yang tepat untuk masuk. Tetapi kami bukan investor jangka pendek," kata Amirudin dalam wawancara dengan Bloomberg, pada bulan Juni. #bizidinfo #delisting #cimbniaga
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy