ajikalaaa :
Dahulu, aku mengira dunia perupa hanyalah soal memindahkan bayangan ke atas kanvas. Aku jatuh cinta pada "Gustave Courbet", yang dengan kejujuran "Realisme-nya" mampu menangkap setiap detail keindahan tanpa perlu bersolek di hadapan dusta. Aku terpaku pada "Caspar David Friedrich", yang melukiskan "Romantisme" melalui perpaduan warna berani, seolah ia sedang menyalin percakapan antara sunyi dan cakrawala.
Lalu ada "Salvador Dalí", sang penyulap "Surealism" yang menjahit imajinasi di luar nalar, melipat logika menjadi mimpi-mimpi yang cair. Aku pun berguru pada "Vincent van Gogh", yang melalui "Impresionisme-nya" sanggup menangkap getaran perasaan sesaat sebelum ia hilang ditelan pekatnya malam. Hingga akhirnya aku tiba pada "Jackson Pollock", dengan "Abstrak Ekspresionisme" yang begitu jujur, liar, dan berani mencurahkan isi dada tanpa saringan apa pun.
Namun kini, bagiku mereka hanyalah sejarah. Sebab bagiku, "kau" adalah satu-satunya tokoh yang ingin kucintai melebihi apa pun.
Aku ingin mencintai setiap detail "Realis" yang nyata pada garis senyummu; memeluk setiap "Absurditas Surealis" yang menjebakku dalam labirin pikiranmu yang indah; dan merayakan setiap "Impresi" sesaat yang kau tinggalkan di setiap kedipan mataku.
Jika Pollock punya cipratan cat yang jujur, maka aku punya detak jantung yang liar setiap kali namamu terukir di kepala. Kau adalah perpaduan dari keberanian warna Caspar David dan kejujuran garis Courbet—sebuah mahakarya yang membuatku sadar bahwa untuk melihat surga, aku tak lagi butuh kuas atau arang, aku hanya butuh matamu.
—Ajikalaaa
2026-05-15 11:28:49