@soptid899: เซตคู่หูดูโอ้สอบเข้ามหาวิทยาลัย a level ครบ 7 วิชาพร้อมวีดีโอติว #เทรนด์วันนี้ #fyp #kritเองค้าบ #jsuper7 #jknowledge @Krit เองค้าบ @Krit เองค้าบ @Krit เองค้าบ

Krit เองค้าบ
Krit เองค้าบ
Open In TikTok:
Region: TH
Friday 08 May 2026 10:38:38 GMT
1118
6
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @soptid899, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di suatu hari yang tenang di Madinah, suasana Masjid dipenuhi oleh para sahabat. Cahaya matahari masuk lembut dari celah-celah dinding, menyinari mimbar tempat berdirinya sosok yang paling mereka cintai: Nabi Muhammad ﷺ. Beliau naik ke atas mimbar. Wajahnya teduh, namun ada sesuatu yang berbeda—sebuah ketenangan yang terasa lebih dalam, seakan mengandung pesan yang tak biasa. Dengan suara yang lembut namun penuh makna, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang Allah beri pilihan: antara dunia dengan segala keindahan dan kenikmatannya, atau apa yang ada di sisi Allah. Maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.” Para sahabat terdiam. Mereka mendengarkan, namun belum sepenuhnya memahami. Kalimat itu terasa seperti perumpamaan—sebuah kisah tentang seseorang yang tak mereka kenal. Namun tiba-tiba… Terdengar suara tangis yang pecah di tengah keheningan. Itu adalah tangisan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Air matanya jatuh deras. Dadanya bergetar. Dengan suara yang tertahan, ia berkata: “Demi ayah dan ibuku, kami tebus engkau, wahai Rasulullah…” Para sahabat saling berpandangan. Mereka heran. Mengapa Abu Bakar menangis? Mengapa ia begitu emosional atas kisah yang tampaknya hanya perumpamaan? Sebagian bahkan berbisik: “Lihatlah orang tua ini… Rasulullah hanya menceritakan tentang seorang hamba, tapi ia malah menangis seperti ini…” Namun mereka tidak tahu. Mereka belum mengerti. Bahwa “hamba” yang dimaksud bukanlah orang lain… Itu adalah Rasulullah sendiri. Dan Abu Bakar… adalah satu-satunya yang langsung memahami. Hatinya yang paling dekat, cintanya yang paling dalam, membuatnya menangkap makna yang tersembunyi. Ia sadar—ini bukan sekadar cerita. Ini adalah isyarat. Isyarat bahwa Rasulullah ﷺ sedang diberi pilihan oleh Allah… Dan beliau memilih untuk kembali kepada-Nya. Itulah sebabnya Abu Bakar menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena ia paling paham… bahwa perpisahan itu sudah dekat. Rasulullah ﷺ kemudian melanjutkan sabdanya, seakan menegaskan kedudukan sahabat yang menangis itu: “Sesungguhnya orang yang paling banyak jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar…” Para sahabat kembali terdiam. Kali ini, bukan karena bingung. Tapi karena mulai menyadari betapa dalam hubungan di antara mereka. Rasulullah ﷺ melanjutkan: “Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat yang sangat dekat) dari umatku, pasti aku akan mengambil Abu Bakar. Namun yang ada adalah ukhuwah Islam.” Kalimat itu menggema di dalam hati mereka. Betapa tinggi kedudukan Abu Bakar… Bukan hanya karena amalnya. Tapi karena hatinya. Hati yang mampu memahami Rasulullah bahkan sebelum kata-kata itu dijelaskan. Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan perintah yang penuh makna simbolis: “Jangan ada pintu (ke masjid) yang tersisa terbuka, kecuali pintu Abu Bakar.” Itu bukan sekadar tentang pintu. Itu adalah penegasan. Tentang kedekatan. Tentang kepercayaan. Tentang seseorang yang akan berdiri paling depan setelah Rasulullah tiada. Hari itu, sebagian sahabat pulang dengan kebingungan. Namun Abu Bakar pulang dengan hati yang remuk. Karena ia tahu… Dunia ini sebentar lagi akan kehilangan cahaya terbesarnya. Dan benar saja… Tak lama setelah itu, Rasulullah ﷺ benar-benar berpulang kepada Allah. Dan saat seluruh Madinah terguncang oleh kesedihan… Abu Bakar berdiri tegar. Karena sejak hari itu di atas mimbar… Ia sudah lebih dulu belajar menerima. Kalau kisah ini menyentuh hatimu, jangan lewatkan kesempatan untuk bershalawat hari ini… Tulis di kolom komentar ya🤍 Allahumma Shalli ‘ala Muhammad✨🌙 Semoga kita termasuk umat yang kelak dikumpulkan bersama beliau🥹 📚Sumber Hadis: HR. Sahih al-Bukhari No. 3904, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
Di suatu hari yang tenang di Madinah, suasana Masjid dipenuhi oleh para sahabat. Cahaya matahari masuk lembut dari celah-celah dinding, menyinari mimbar tempat berdirinya sosok yang paling mereka cintai: Nabi Muhammad ﷺ. Beliau naik ke atas mimbar. Wajahnya teduh, namun ada sesuatu yang berbeda—sebuah ketenangan yang terasa lebih dalam, seakan mengandung pesan yang tak biasa. Dengan suara yang lembut namun penuh makna, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang Allah beri pilihan: antara dunia dengan segala keindahan dan kenikmatannya, atau apa yang ada di sisi Allah. Maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.” Para sahabat terdiam. Mereka mendengarkan, namun belum sepenuhnya memahami. Kalimat itu terasa seperti perumpamaan—sebuah kisah tentang seseorang yang tak mereka kenal. Namun tiba-tiba… Terdengar suara tangis yang pecah di tengah keheningan. Itu adalah tangisan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Air matanya jatuh deras. Dadanya bergetar. Dengan suara yang tertahan, ia berkata: “Demi ayah dan ibuku, kami tebus engkau, wahai Rasulullah…” Para sahabat saling berpandangan. Mereka heran. Mengapa Abu Bakar menangis? Mengapa ia begitu emosional atas kisah yang tampaknya hanya perumpamaan? Sebagian bahkan berbisik: “Lihatlah orang tua ini… Rasulullah hanya menceritakan tentang seorang hamba, tapi ia malah menangis seperti ini…” Namun mereka tidak tahu. Mereka belum mengerti. Bahwa “hamba” yang dimaksud bukanlah orang lain… Itu adalah Rasulullah sendiri. Dan Abu Bakar… adalah satu-satunya yang langsung memahami. Hatinya yang paling dekat, cintanya yang paling dalam, membuatnya menangkap makna yang tersembunyi. Ia sadar—ini bukan sekadar cerita. Ini adalah isyarat. Isyarat bahwa Rasulullah ﷺ sedang diberi pilihan oleh Allah… Dan beliau memilih untuk kembali kepada-Nya. Itulah sebabnya Abu Bakar menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena ia paling paham… bahwa perpisahan itu sudah dekat. Rasulullah ﷺ kemudian melanjutkan sabdanya, seakan menegaskan kedudukan sahabat yang menangis itu: “Sesungguhnya orang yang paling banyak jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar…” Para sahabat kembali terdiam. Kali ini, bukan karena bingung. Tapi karena mulai menyadari betapa dalam hubungan di antara mereka. Rasulullah ﷺ melanjutkan: “Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat yang sangat dekat) dari umatku, pasti aku akan mengambil Abu Bakar. Namun yang ada adalah ukhuwah Islam.” Kalimat itu menggema di dalam hati mereka. Betapa tinggi kedudukan Abu Bakar… Bukan hanya karena amalnya. Tapi karena hatinya. Hati yang mampu memahami Rasulullah bahkan sebelum kata-kata itu dijelaskan. Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan perintah yang penuh makna simbolis: “Jangan ada pintu (ke masjid) yang tersisa terbuka, kecuali pintu Abu Bakar.” Itu bukan sekadar tentang pintu. Itu adalah penegasan. Tentang kedekatan. Tentang kepercayaan. Tentang seseorang yang akan berdiri paling depan setelah Rasulullah tiada. Hari itu, sebagian sahabat pulang dengan kebingungan. Namun Abu Bakar pulang dengan hati yang remuk. Karena ia tahu… Dunia ini sebentar lagi akan kehilangan cahaya terbesarnya. Dan benar saja… Tak lama setelah itu, Rasulullah ﷺ benar-benar berpulang kepada Allah. Dan saat seluruh Madinah terguncang oleh kesedihan… Abu Bakar berdiri tegar. Karena sejak hari itu di atas mimbar… Ia sudah lebih dulu belajar menerima. Kalau kisah ini menyentuh hatimu, jangan lewatkan kesempatan untuk bershalawat hari ini… Tulis di kolom komentar ya🤍 Allahumma Shalli ‘ala Muhammad✨🌙 Semoga kita termasuk umat yang kelak dikumpulkan bersama beliau🥹 📚Sumber Hadis: HR. Sahih al-Bukhari No. 3904, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

About