@umacrafttv: Adivina la PALABRA: con Haru Urara💓🐴 #umamusume #Minecraft #haruurara #goldship #adivinalapalabra

UmaCraftTV
UmaCraftTV
Open In TikTok:
Region: FR
Saturday 09 May 2026 07:21:13 GMT
677723
84011
551
6849

Music

Download

Comments

grimacros33
GrimAcroS33 :
LA FLDSMDFR 🗣️🗣️🗣️
2026-05-09 07:34:33
340
a.j_ontop
aj :
whatever you say boss
2026-05-09 17:47:16
1722
ben3jxd
꧁ঔৣ乃乇几フ卂ঔৣ꧂ :
alguien habló de mi creación
2026-05-09 13:25:58
2467
turbo.goose7
Turbo Goose :
2026-05-09 07:25:18
589
tadeo.mandujano5
Elpapufino :
Es triste y deprimente recordar que no existen🥀
2026-05-10 01:23:22
53
un_fan_de_ado
ADOMIN :
LA FLDSMDFR🗣️‼️el invento que convierte el agua, en agua 🗣️‼️‼️:v:v:v
2026-05-09 15:38:41
644
viewspec8
ViewSpec :
2026-05-09 15:24:51
54
j.jzen
JoJofenix012 :
REFERI! LA D SI IBA BIEN
2026-05-09 13:27:01
54
yusepe_chiquito_fino
yusepe chiquito colombiano :
capte la referencia
2026-05-09 12:06:15
52
void0_0sensible
Un perro :
Las marcas de agua de los edits:
2026-05-21 20:58:06
6
shsluy
uy D. gambling :
2026-05-09 16:51:15
683
lord.omega0
Omega :
cómo que la D no va allí
2026-05-09 08:43:27
160
To see more videos from user @umacrafttv, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Arkana dan Arsen akhirnya tiba di ruang persenjataan kerajaan. Pintu kayu besar itu sudah terbuka paksa. Asap memenuhi ruangan. Beberapa obor terjatuh ke lantai hingga api mulai menjalar ke rak-rak senjata kerajaan. Namun,tidak ada siapa pun di sana. Patih Wirabumi menghilang. Mata Arkana langsung menyipit tajam. “Tidak mungkin…” gumamnya pelan. Arsen berjalan cepat memeriksa ruangan. Beberapa prajurit kerajaan tergeletak tidak sadarkan diri. Tapi tidak ada tanda pertarungan besar. Seolah Patih memang sengaja meninggalkan tempat itu sebelum mereka datang. Tiba-tiba Arsen berhenti melangkah. Di lantai dekat meja persenjataan… tergeletak sebuah selendang biru tua. Deg Arkana langsung membeku saat mengenalinya. Selendang milik Nayandira. Masih basah oleh hujan. Dan di bawahnya terukir simbol bunga teratai. Lambang sanggar tua di pinggir hutan Adhirajasa. Tempat yang dulu pernah menjadi rumah Nayandira sebelum masuk ke keraton. “Tidak…” napas Arkana langsung melemah. Sedangkan Arsen buru-buru mengambil selendang itu. Wajahnya berubah pucat. “Dia mengejar Nayandira.” Rasa takut benar-benar terlihat jelas di wajah Arkana. Karena ia sadar… Patih tidak sedang mencoba merebut kerajaan. Melainkan mencoba menghancurkan mereka. Arkana langsung berbalik. “Siapkan kuda.” Suaranya dingin. Tapi Arsen tahu lelaki itu sedang panik. Dan itu membuat dadanya terasa sesak. Karena selama ini Arkana selalu terlihat tenang dalam keadaan apa pun. Namun malam ini… Nayandira berhasil membuat Sultan Adhirajasa takut kehilangan. Di lain tempat Hujan masih turun saat Nayandira akhirnya tiba di sanggar tua di pinggir hutan Adhirajasa. Bangunan kayu itu tampak jauh lebih sepi dibanding terakhir kali ia datang. Beberapa bagian atap mulai lapuk dimakan usia. Lampu minyak di teras depan berkedip pelan diterpa angin malam. Namun entah kenapa… tempat itu tetap terasa seperti rumah. Tempat terakhir di mana Nayandira pernah hidup tanpa beban kerajaan. Tanpa tahta. Tanpa cinta yang rumit Nayandira melangkah masuk perlahan. Aroma kayu basah langsung menyambutnya. Matanya menatap ruangan kosong itu lama. Dulu tempat ini selalu dipenuhi suara tawa murid-murid tari. Dulu tempat ini hangat. Sebelum semuanya berubah sejak ia mengenal Arkana dan Arsen. Tangannya perlahan menyentuh salah satu tiang kayu sanggar. Dan tanpa sadar… air matanya kembali jatuh. “Aku lelah…” bisiknya lirih. Bukan karena keraton. Bukan karena politik. Tapi karena ia merasa menjadi alasan dua saudara itu saling terluka. “Kalau begitu… kenapa tidak pergi saja dari semua ini?” Nayandira langsung menoleh. Dan di ujung ruangan. Patih Wirabumi berdiri di sana Pakaiannya sedikit basah oleh hujan. Wajah tuanya terlihat tenang seperti biasa. Nayandira langsung menunduk hormat. “Patih?” Tidak ada rasa curiga sedikit pun di wajahnya. Karena selama ini… Patih Wirabumi selalu terlihat seperti orang tua yang baik di matanya. “Apa yang Patih lakukan di sini?” tanya Nayandira pelan. Patih tersenyum tipis. “Aku mengkhawatirkanmu.” Nayandira menatap lelaki tua itu cukup lama. Ia merasa ada seseorang yang benar-benar memahami lelahnya. Patih berjalan mendekat perlahan. “Keraton sedang kacau,” ucapnya lembut. “Aku tahu kau pasti datang ke tempat ini.” Nayandira menggigit bibirnya pelan. “Aku hanya ingin sendiri sebentar.” Patih mengangguk pelan. Tatapannya lembut. Terlalu lembut sampai Nayandira tidak menyadari sesuatu yang salah. “Sulit berada di antara dua orang yang saling membenci, bukan?” tanya Patih pelan. Napas Nayandira langsung tertahan. Karena kalimat itu terasa menusuk tepat ke dadanya. “Aku tidak pernah ingin mereka terluka,” bisiknya lirih. Patih tersenyum samar. “Aku tahu.” Lalu lelaki tua itu melanjutkan pelan: “Tapi terkadang… kehadiran seseorang memang ditakdirkan untuk menghancurkan.” Nayandira perlahan mengangkat wajahnya. Entah kenapa kalimat Patih terdengar aneh di telinganya. Angin malam berembus pelan. Lampu minyak di sudut sanggar berkedip semakin redup. Dan dari luar suara langkah kuda mulai terdengar mendekat ke arah sanggar #haechan #jaemin #pov #nctdream #fakesub
Arkana dan Arsen akhirnya tiba di ruang persenjataan kerajaan. Pintu kayu besar itu sudah terbuka paksa. Asap memenuhi ruangan. Beberapa obor terjatuh ke lantai hingga api mulai menjalar ke rak-rak senjata kerajaan. Namun,tidak ada siapa pun di sana. Patih Wirabumi menghilang. Mata Arkana langsung menyipit tajam. “Tidak mungkin…” gumamnya pelan. Arsen berjalan cepat memeriksa ruangan. Beberapa prajurit kerajaan tergeletak tidak sadarkan diri. Tapi tidak ada tanda pertarungan besar. Seolah Patih memang sengaja meninggalkan tempat itu sebelum mereka datang. Tiba-tiba Arsen berhenti melangkah. Di lantai dekat meja persenjataan… tergeletak sebuah selendang biru tua. Deg Arkana langsung membeku saat mengenalinya. Selendang milik Nayandira. Masih basah oleh hujan. Dan di bawahnya terukir simbol bunga teratai. Lambang sanggar tua di pinggir hutan Adhirajasa. Tempat yang dulu pernah menjadi rumah Nayandira sebelum masuk ke keraton. “Tidak…” napas Arkana langsung melemah. Sedangkan Arsen buru-buru mengambil selendang itu. Wajahnya berubah pucat. “Dia mengejar Nayandira.” Rasa takut benar-benar terlihat jelas di wajah Arkana. Karena ia sadar… Patih tidak sedang mencoba merebut kerajaan. Melainkan mencoba menghancurkan mereka. Arkana langsung berbalik. “Siapkan kuda.” Suaranya dingin. Tapi Arsen tahu lelaki itu sedang panik. Dan itu membuat dadanya terasa sesak. Karena selama ini Arkana selalu terlihat tenang dalam keadaan apa pun. Namun malam ini… Nayandira berhasil membuat Sultan Adhirajasa takut kehilangan. Di lain tempat Hujan masih turun saat Nayandira akhirnya tiba di sanggar tua di pinggir hutan Adhirajasa. Bangunan kayu itu tampak jauh lebih sepi dibanding terakhir kali ia datang. Beberapa bagian atap mulai lapuk dimakan usia. Lampu minyak di teras depan berkedip pelan diterpa angin malam. Namun entah kenapa… tempat itu tetap terasa seperti rumah. Tempat terakhir di mana Nayandira pernah hidup tanpa beban kerajaan. Tanpa tahta. Tanpa cinta yang rumit Nayandira melangkah masuk perlahan. Aroma kayu basah langsung menyambutnya. Matanya menatap ruangan kosong itu lama. Dulu tempat ini selalu dipenuhi suara tawa murid-murid tari. Dulu tempat ini hangat. Sebelum semuanya berubah sejak ia mengenal Arkana dan Arsen. Tangannya perlahan menyentuh salah satu tiang kayu sanggar. Dan tanpa sadar… air matanya kembali jatuh. “Aku lelah…” bisiknya lirih. Bukan karena keraton. Bukan karena politik. Tapi karena ia merasa menjadi alasan dua saudara itu saling terluka. “Kalau begitu… kenapa tidak pergi saja dari semua ini?” Nayandira langsung menoleh. Dan di ujung ruangan. Patih Wirabumi berdiri di sana Pakaiannya sedikit basah oleh hujan. Wajah tuanya terlihat tenang seperti biasa. Nayandira langsung menunduk hormat. “Patih?” Tidak ada rasa curiga sedikit pun di wajahnya. Karena selama ini… Patih Wirabumi selalu terlihat seperti orang tua yang baik di matanya. “Apa yang Patih lakukan di sini?” tanya Nayandira pelan. Patih tersenyum tipis. “Aku mengkhawatirkanmu.” Nayandira menatap lelaki tua itu cukup lama. Ia merasa ada seseorang yang benar-benar memahami lelahnya. Patih berjalan mendekat perlahan. “Keraton sedang kacau,” ucapnya lembut. “Aku tahu kau pasti datang ke tempat ini.” Nayandira menggigit bibirnya pelan. “Aku hanya ingin sendiri sebentar.” Patih mengangguk pelan. Tatapannya lembut. Terlalu lembut sampai Nayandira tidak menyadari sesuatu yang salah. “Sulit berada di antara dua orang yang saling membenci, bukan?” tanya Patih pelan. Napas Nayandira langsung tertahan. Karena kalimat itu terasa menusuk tepat ke dadanya. “Aku tidak pernah ingin mereka terluka,” bisiknya lirih. Patih tersenyum samar. “Aku tahu.” Lalu lelaki tua itu melanjutkan pelan: “Tapi terkadang… kehadiran seseorang memang ditakdirkan untuk menghancurkan.” Nayandira perlahan mengangkat wajahnya. Entah kenapa kalimat Patih terdengar aneh di telinganya. Angin malam berembus pelan. Lampu minyak di sudut sanggar berkedip semakin redup. Dan dari luar suara langkah kuda mulai terdengar mendekat ke arah sanggar #haechan #jaemin #pov #nctdream #fakesub

About