@professeurscnaris: Une compilation très intéressante que j’ai faite, de gens qui ont parlé à ma place♥️Lisez, lisez et lisez♥️ On se reprend très bientôt pour bien d’autres histoires à découvrir ✌️ #cejour #bac2026🎓📖📔📚📑💡yes_we_can_do_it2026 #litterature

Professeur-scénariste
Professeur-scénariste
Open In TikTok:
Region: SN
Sunday 10 May 2026 18:52:47 GMT
72524
5767
86
1107

Music

Download

Comments

balle.de.match_
OMG__Michel✅ :
l'esprit s'eguise avec des livres 👌🏾🔥📚
2026-05-21 07:12:52
62
olise1747
olise17 :
je suis en classe de première j'ai lu beaucoup de livres mais j'arrive pas à parler français couramment c'est pas quoi mais j'arrive pas à parler ni a écrire
2026-05-10 20:01:15
22
sandraciodini
sandraciodini :
pour moi ce n'est pas un effort mais un vrai plaisir
2026-05-20 10:47:12
9
vog.baku.mbula
Vog Baku Mbula🇨🇩 :
J'ai toujours dit ça à mon entourage, ils pensent que je suis dans l'abus, voici l'illustration parfaite de l'importance de la lecture pour le cerveau et pour l'être humain en général. Intéressant dans les interactions sont ceux qui sont cultivés🙏💪
2026-05-19 11:36:39
3
divrog_b
divrog_B :
Lire est très important surtout les livres en developpement personel
2026-05-18 10:11:03
6
diegoamaru2
diegoamaru2 :
Encore faut il lire les bons livres…
2026-05-25 21:01:05
5
nalaamidath
Nala Amidath🇧🇯🇧🇯 :
Je commence par lire aujourd’hui 👍
2026-05-23 19:30:24
6
ali616917
Ali :
Je n’ai lu aucun livre pourtant j’ai une grande aisance à parler et je ne cherche que très rarement mes mots
2026-05-17 06:51:40
15
coolsmartguy
CoolSmartGuy :
Bravo pour cet assortiment de témoignages de gens dans le vrai concernant la lecture. 👍👏👏👏
2026-05-19 09:22:04
3
user57378902
Michael Jackson :
So je vous dis le nombre de livres que j’ai lu, vous n’allez pas me croire. C’est pourquoi je peux remettre nimporte qui a sa place dans un debat 😏
2026-06-02 22:40:53
6
villarosacotonou
VIlla Rosa Cotonou :
La connaissance est une forme de pouvoir. Lire c'est la seule activité qui te fait voyager sans bouger de chez toi.
2026-06-01 20:16:12
2
abdelkader8166
Nice 2 b born in Morocco :
up
2026-05-23 17:27:31
1
isabellebou5
isa :
J ai senti ça depuis toute petite … et en grandissant je constatais que moins je lisais moins je m exprimais de belle facon
2026-06-13 03:40:41
1
yarilnzesse77
Yaril Nzesse511 :
l'éloquence vient avec la pratique pas avec les livres par contre le vocabulaire devient tout de suite intéressant quand on s'y met
2026-05-25 12:04:23
2
arya0185
Amal :
Bravo 👏🏼
2026-05-21 22:58:58
2
babybreakmarket
babybreakmarket :
Lisons- lisons- lisons
2026-05-23 07:08:37
2
antonio242_tony
Antonio_Rayan :
Enfin
2026-05-11 19:03:32
5
user57378902
Michael Jackson :
Lire c’est comme manger et boire, l’esprit qui ne lit pas maigrit comme le corps qui ne mange pas. Victor Hugo
2026-06-02 22:42:53
0
hasnagraida
Hasna Gr 💋 :
pas spécialement ...
2026-05-15 22:11:00
6
juniorcoly656
Junior Coly656 :
l'une des meilleure série qui soit
2026-05-19 09:08:07
3
taxi75bonplans
TAXI75BONPLAN :
2026-05-22 11:54:00
1
hamadou3690
Hamadou3690 :
super merci bien 👍
2026-05-14 16:41:01
4
kouassi.pierre.ko6
Kouassi Pierre Kouame :
Felicitations Monsieur
2026-05-14 21:04:29
4
anithefrenchteach
Anithefrenchteacher :
Moi aussi la lecture m’a sauvé la vie; elle me l’a enseignée aussi.
2026-05-23 19:38:27
2
aidramouhamedlamine.1
AÏDRA MOUHAMED LAMINE :
waoh bon je vais continuer ma lecture à plus
2026-05-26 12:35:22
1
To see more videos from user @professeurscnaris, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

BIREUEN I ACEH INFO – Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, terletak di pusat Kota Kabupaten Bireuen. Tepatnya di lintas nasional Bireuen-Takengon, Km 1, Dusun Kommes, Desa Bireuen Meunasah Capa, Kecamatan Kota Juang. Masjid yang dibangun sejak tahun 1965 ini, kini terus berbenah dan semakin indah. Bahkan masjid kebanggaan masyarakat Kabupaten Bireuen, terus diperluas. Letaknya yang sangat strategis, masjid yang mirip dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, kini menjadi tujuan wisatawan religi. Daya tariknya mungkin dari arsitektur Timur Tengah. Masjid ini juga sering dimanfaatkan oleh pengantin baru untuk melangsungkan pernikahan dan prewedding. Salah satu destinasi wisata religi di Bireuen ini, tidak hanya dikunjungi warga setempat, tapi juga dari luar kabupaten, bahkan luar negeri, khususnya Malaysia. Sejarah Masjid Agung Bireuen Masjid Agung Bireuen ini memiliki sejarah panjang. Dulu masjid ini belum memiliki nama, atau sering dikatakan oleh jamaah dan masyarakat setempat sebagai Masjid Jamik. Sejak beberapa tahun ini, berubah nama menjadi Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Tak asal ganti nama. Penabalan itu terjadi melalui seminar dan konsultasi ke ulama kharismatik Aceh. Dr Saifullah MPd, Rektor IAI Al-Muslim Peusangan, adalah ketua panitia pelaksana penamaan Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, pada rapat pengurus masjid, akhir Maret 2017 lalu. Awalnya pada tahun 1965, di Bireuen, terbitlah sebuah kesepakatan pembangunan masjid, bahwa bagi setiap pemilik pohon kelapa, apabila memanen hasil kelapa, agar menyumbangkan dua butir dari setiap pohon yang dipanen, untuk biaya masjid. Inilah cerita singkat orang tua terdahulu yang disampaikan kembali oleh Imam Besar Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk Shaifuddin, yang ditemui Acehinfo.id, Jumat (4/2/2022). “Masyarakat sangat antusias dengan dua butir kelapa untuk pembangunan masjid,” tambah Tgk M Jafar (bilal Masjid Agung Sultan Jeumpa, Bireuen), mengenang cerita indah masa lalu tersebut. Saat itu, lanjutnya, jamaah Masjid Bireuen ini meliputi wilayah Teupin Mane dan Buket Teukuh. Menurut cerita tutur orang tua terdahulu, sekitar tahun 1965 terjadi gempa besar dan sebuah masjid di Desa Pulo Ara rusak total. Satu-satunya rumah ibadah tersebut (menurut Tgk Muhammad Jafar, dulu masjid di Bireuen baru ada di Pulo Ara, imum syiknya Tgk Bullah, ayah dari mantan Bupati Bireuen Mustafa A Glanggang). Masyarakat pun duek pakat (berembuk) dan membangun masjid baru di Dusun Kommes Bireuen. Solusi kelapa sumbangan pun akhirnya menjadi rupiah untuk membeli segala sesuatu keperluan pembangunan masjid baru, yang sekarang bernama Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Cambuk Pertama di Aceh Saat Bireuen dipimpin oleh H Mustafa A Glanggang, di masjid ini pula telah menjadi tempat pelaksanakan hukuman cambuk pertama di Aceh. Sejarah mencatat, sebanyak 26 dari 27 pelaku pelanggaran maisir (judi) di Kabupaten Bireuen, dicambuk usai shalat Jumat 24 Juni 2005 lalu. Hukuman ini merupakan pelaksanaan Undang-undang Syariat Islam di Aceh. Waktu itu, orang memadati halaman masjid, menyaksikan uqubat cambuk dan catatan sejarah bagi Aceh serta Masjid Agung Sultan Jeumpa itu sendiri. Itulah gambaran penegakan syariat Islam di Kabupaten Bireuen, kala itu. Masjid yang Megah Hari ke hari hingga berbilang tahun akhirnya Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen menjadi sebuah masjid nan megah. “Pendiri masjid waktu itu mungkin tidak pernah membayangkan masjid yang dulunya dibangun dari sumbangan kelapa, kini menjadi masjid agung atau masjid kabupaten,” kata Tgk M Jafar. Saat ini, masjid ini memiliki tiga kubah besar. Luas bagian dalam 50×30 meter, luas luarnya mencapai 60×50 meter, berdiri di areal seluas dua hektar lebih. Kini masjid ini mulai diperluas ke bagian baratnya dan akan ditambah tiga kubah dan dua menara di bagian Utara dan Selatan. Tempat wudhuknya pun sudah dibangun baru di sebelah barat dan sebelah utara. Tempat wudhu sebelah Utara merupakan wakaf H Jamaluddin A Gani, pengusaha sekaligus pengurus Masjid Agung Sultan J
BIREUEN I ACEH INFO – Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, terletak di pusat Kota Kabupaten Bireuen. Tepatnya di lintas nasional Bireuen-Takengon, Km 1, Dusun Kommes, Desa Bireuen Meunasah Capa, Kecamatan Kota Juang. Masjid yang dibangun sejak tahun 1965 ini, kini terus berbenah dan semakin indah. Bahkan masjid kebanggaan masyarakat Kabupaten Bireuen, terus diperluas. Letaknya yang sangat strategis, masjid yang mirip dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, kini menjadi tujuan wisatawan religi. Daya tariknya mungkin dari arsitektur Timur Tengah. Masjid ini juga sering dimanfaatkan oleh pengantin baru untuk melangsungkan pernikahan dan prewedding. Salah satu destinasi wisata religi di Bireuen ini, tidak hanya dikunjungi warga setempat, tapi juga dari luar kabupaten, bahkan luar negeri, khususnya Malaysia. Sejarah Masjid Agung Bireuen Masjid Agung Bireuen ini memiliki sejarah panjang. Dulu masjid ini belum memiliki nama, atau sering dikatakan oleh jamaah dan masyarakat setempat sebagai Masjid Jamik. Sejak beberapa tahun ini, berubah nama menjadi Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Tak asal ganti nama. Penabalan itu terjadi melalui seminar dan konsultasi ke ulama kharismatik Aceh. Dr Saifullah MPd, Rektor IAI Al-Muslim Peusangan, adalah ketua panitia pelaksana penamaan Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, pada rapat pengurus masjid, akhir Maret 2017 lalu. Awalnya pada tahun 1965, di Bireuen, terbitlah sebuah kesepakatan pembangunan masjid, bahwa bagi setiap pemilik pohon kelapa, apabila memanen hasil kelapa, agar menyumbangkan dua butir dari setiap pohon yang dipanen, untuk biaya masjid. Inilah cerita singkat orang tua terdahulu yang disampaikan kembali oleh Imam Besar Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk Shaifuddin, yang ditemui Acehinfo.id, Jumat (4/2/2022). “Masyarakat sangat antusias dengan dua butir kelapa untuk pembangunan masjid,” tambah Tgk M Jafar (bilal Masjid Agung Sultan Jeumpa, Bireuen), mengenang cerita indah masa lalu tersebut. Saat itu, lanjutnya, jamaah Masjid Bireuen ini meliputi wilayah Teupin Mane dan Buket Teukuh. Menurut cerita tutur orang tua terdahulu, sekitar tahun 1965 terjadi gempa besar dan sebuah masjid di Desa Pulo Ara rusak total. Satu-satunya rumah ibadah tersebut (menurut Tgk Muhammad Jafar, dulu masjid di Bireuen baru ada di Pulo Ara, imum syiknya Tgk Bullah, ayah dari mantan Bupati Bireuen Mustafa A Glanggang). Masyarakat pun duek pakat (berembuk) dan membangun masjid baru di Dusun Kommes Bireuen. Solusi kelapa sumbangan pun akhirnya menjadi rupiah untuk membeli segala sesuatu keperluan pembangunan masjid baru, yang sekarang bernama Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Cambuk Pertama di Aceh Saat Bireuen dipimpin oleh H Mustafa A Glanggang, di masjid ini pula telah menjadi tempat pelaksanakan hukuman cambuk pertama di Aceh. Sejarah mencatat, sebanyak 26 dari 27 pelaku pelanggaran maisir (judi) di Kabupaten Bireuen, dicambuk usai shalat Jumat 24 Juni 2005 lalu. Hukuman ini merupakan pelaksanaan Undang-undang Syariat Islam di Aceh. Waktu itu, orang memadati halaman masjid, menyaksikan uqubat cambuk dan catatan sejarah bagi Aceh serta Masjid Agung Sultan Jeumpa itu sendiri. Itulah gambaran penegakan syariat Islam di Kabupaten Bireuen, kala itu. Masjid yang Megah Hari ke hari hingga berbilang tahun akhirnya Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen menjadi sebuah masjid nan megah. “Pendiri masjid waktu itu mungkin tidak pernah membayangkan masjid yang dulunya dibangun dari sumbangan kelapa, kini menjadi masjid agung atau masjid kabupaten,” kata Tgk M Jafar. Saat ini, masjid ini memiliki tiga kubah besar. Luas bagian dalam 50×30 meter, luas luarnya mencapai 60×50 meter, berdiri di areal seluas dua hektar lebih. Kini masjid ini mulai diperluas ke bagian baratnya dan akan ditambah tiga kubah dan dua menara di bagian Utara dan Selatan. Tempat wudhuknya pun sudah dibangun baru di sebelah barat dan sebelah utara. Tempat wudhu sebelah Utara merupakan wakaf H Jamaluddin A Gani, pengusaha sekaligus pengurus Masjid Agung Sultan J

About