@xybca.628: #bojonegoro24jam #4u #4upage #fypage

T`🐒⛓️
T`🐒⛓️
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 10 May 2026 19:16:31 GMT
16302
801
33
316

Music

Download

Comments

harttps_
🐔 :
sugihwaras hadir masss
2026-06-24 05:28:32
1
azkarayhan58
XRHN58 :
Bojonegoro Baureno
2026-05-13 10:35:52
4
rapopokok67
hehehe67 :
mulh ngopi tekan veteran digudak sak rombongan😭
2026-05-19 10:19:20
0
_mcggmania
@ᴘɪᴢᴢ✌ :
Ngraho hadir cak
2026-05-18 10:32:10
0
grngn42
SINGGELE_GG :
mosokk
2026-05-12 03:10:13
0
sedulur.netral.indonesia
tya :
kene sng netral AE jek di plirak plirik i sandekar 🗿
2026-05-30 11:52:55
0
dani_gg87
DAN_ANJAL$ :
auh
2026-05-12 07:35:25
1
ahmd_ky8
••••••™ :
2026-05-11 13:33:08
0
vinoarjuna_18
Maestro11🇵🇹 :
Deso gunungsari hadir cak
2026-05-12 11:47:19
0
ilhamakbar864
ilhamgapernahmendua✌🏻 :
bonek aman ta mas?
2026-05-12 14:38:28
0
lukatoni21
Tony S :
alah laa
2026-05-16 13:34:53
0
ar_lboy
zona masalah :
mosok ngunu kak@ocehehe ?
2026-05-16 15:04:32
0
To see more videos from user @xybca.628, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Efesus 5:15 (TB)  Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, Dulu aku sering mengira ayat ini berbicara tentang kepatuhan. Tentang berhati-hati agar tidak salah. Tentang menjaga diri agar tidak melanggar aturan. Tentang menjadi cukup baik di hadapan Tuhan. Namun semakin lama aku merenungkannya, semakin aku menyadari bahwa ayat ini terasa jauh lebih hangat daripada itu. Karena Tuhan tidak berkata,
Efesus 5:15 (TB) Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, Dulu aku sering mengira ayat ini berbicara tentang kepatuhan. Tentang berhati-hati agar tidak salah. Tentang menjaga diri agar tidak melanggar aturan. Tentang menjadi cukup baik di hadapan Tuhan. Namun semakin lama aku merenungkannya, semakin aku menyadari bahwa ayat ini terasa jauh lebih hangat daripada itu. Karena Tuhan tidak berkata, "Perhatikan berapa banyak kesalahanmu." Tapi Ia berkata, "Perhatikan bagaimana kamu hidup." Bukan sekadar apa yang kamu lakukan. Tetapi ke mana hidupmu sedang bergerak. Apa yang membentuk cara berpikirmu. Apa yang menjadi arah langkahmu. Apa yang menjadi pusat hatimu. Jika hidup hanya soal aturan, maka kita akan menjadi orang yang selalu takut. Takut salah. Takut gagal. Takut dihukum. Takut mengecewakan Tuhan. Dan perlahan kita mulai berjalan bukan karena cinta, melainkan karena kecemasan. Bukan karena mengenal Tuhan, melainkan karena takut terhadap konsekuensi. Tetapi hidup bersama Tuhan ternyata jauh lebih indah daripada sekadar daftar aturan. Ia mengundang kita masuk ke dalam relasi. Relasi yang begitu dekat sehingga keputusan-keputusan kita tidak lagi lahir dari pertanyaan, "Apa aturan yang harus aku ikuti?" Melainkan, "Bagaimana karakter Tuhan dinyatakan melalui langkahku hari ini?" Karena hikmat bukanlah kemampuan menghafal semua aturan. Hikmat adalah mengenal hati Sang Penuntun. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita tahu ke mana harus melangkah. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita tahu apa yang bernilai. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita mampu melihat hidup dari perspektif yang lebih tinggi daripada ketakutan kita sendiri. Mungkin itulah mengapa Alkitab tidak berkata, "Jangan hidup seperti orang yang kurang pintar." Melainkan, "Jangan hidup seperti orang bebal." Karena kebebalan bukanlah kurangnya kecerdasan. Kebebalan adalah kehilangan arah. Berjalan tanpa tujuan. Mengikuti arus tanpa hikmat. Menjalani hidup tanpa sungguh-sungguh memperhatikan ke mana langkah itu membawa kita. Sedangkan orang arif adalah mereka yang hidup dengan kesadaran. Mereka tidak hidup secara otomatis. Tidak berjalan tanpa berpikir. Tidak membiarkan keadaan menentukan identitas mereka. Mereka memperhatikan hidupnya dengan jujur. Mereka belajar. Mereka bertumbuh. Mereka terus membiarkan Tuhan membentuk cara pandangnya. Karena Tuhan adalah Sang Pencipta keteraturan. Maka ketika Roh-Nya bekerja di dalam diri seseorang, hasil akhirnya bukanlah kekacauan batin. Melainkan keteraturan. Bukan ketakutan yang semakin besar. Melainkan kejernihan. Bukan kepanikan. Melainkan hikmat. Itulah sebabnya ketika kita jatuh, kita merasa lemah, kita tidak harus langsung melihatnya sebagai murka Tuhan. Tapi kita dapat melihatnya dengan jujur. Dengan rendah hati. Dengan dewasa. Mengakui bahwa langkah itu memang salah. Bahwa perspektif itu memang perlu diperbaiki. Bahwa ada sesuatu yang perlu dipelajari. Namun tanpa kehilangan keyakinan bahwa kasih Tuhan tetap menyertai proses tersebut. Karena hidup yang berhikmat bukanlah hidup yang tidak pernah jatuh. Hidup yang berhikmat adalah hidup yang terus belajar bersama Tuhan. Terus dituntun. Terus diarahkan. Terus dibentuk. Dan mungkin inilah yang ingin diingatkan oleh ayat itu. Jangan hidup tanpa arah. Jangan berjalan tanpa kesadaran. Jangan kehilangan hikmat. Jangan lupa kepada siapa kamu sedang mengikuti. Sebab ketika kamu mengenal Sang Penuntun, kamu tidak lagi sekadar menjalani hidup. Kamu sedang berjalan pulang bersama-Nya.🤍

About