Bee Hoon :
yap betul. dulu aku berpikir kesetiaan itu cukup dengan tidak selingkuh dan tidak main belakang. aku merasa sudah berjalan di jalan yang lurus. tapi nyatanya, trust issue pasangan tidak selalu lahir dari kesalahan fatal yang kita buat. sering kali, rasa tidak aman itu tumbuh subur di "ruang kosong" yang lupa kita isi.
kita lupa bahwa ketidakterbukaan membuat hubungan terasa transaksional. ketidakkonsistenan komunikasi menciptakan pola yang mencurigakan. informasi yang tidak jelas memicu imajinasi liar, dan absennya validasi justru mematahkan mentalnya saat dia hanya butuh ditenangkan.
namun, pada akhirnya kita sampai di satu titik lelah.
sangat mudah bagi orang lain untuk berkata, "cukup ceritakan harimu," atau "luangkan waktu sebentar untuk berkabar." kenyataannya, hal-hal kecil itu jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. ada kalanya dunia di luar sana sudah terlalu bising hingga kita tak punya sisa energi untuk sekadar menjelaskan hal-hal sepele.
kita sudah mencoba menjadi gelas yang penuh untuk menenangkan mereka, sampai kita lupa bahwa gelas kita sendiri sudah retak dan kosong. kita sadar bahwa trust issue mereka butuh kejelasan, tapi kita juga sadar bahwa kapasitas mental kita ada batasnya.
ada sebuah kejujuran pahit yang harus diakui: terkadang, mencintai seseorang yang memiliki trauma mendalam membutuhkan kekuatan yang saat ini tidak kita miliki. menjadi "rumah" yang aman bagi orang lain itu mulia, tapi kita tidak bisa terus membangun dinding rumah orang lain jika fondasi diri kita sendiri sedang runtuh karena kelelahan. jika pada akhirnya kita memilih berhenti, itu bukan karena kita tidak setia, tapi karena kita sudah tidak sanggup lagi bertarung dengan bayang-bayang yang bahkan tidak kita ciptakan sendiri.
2026-05-16 20:09:37