@marcod623: #jane #thelongfaces #jjkedit #piano #pianotutorial

MarcoD623
MarcoD623
Open In TikTok:
Region: PE
Wednesday 13 May 2026 22:23:31 GMT
315477
20541
680
1656

Music

Download

Comments

ngr12453
mp :
piano version ain’t it bro, emotion just isn’t there
2026-05-15 07:23:48
115
zio_pera92
zio_pera92 :
I usually don't comment but
2026-05-14 19:33:13
2079
bbeforeg
🧏 :
How do ppl remember allat keys??
2026-05-14 23:49:00
12
lobotomy.dash_
Адекватный человек(!)🌕🏝️ :
music is lowkey best form of art
2026-05-14 08:26:40
930
mercurio_62
Nthing :
bwah bwah bwah
2026-05-14 15:59:59
179
glonk960
Jay :
2026-05-14 07:48:35
875
6777543456o
￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ :
Yuji does this deserve a like
2026-05-14 19:49:14
53
lexsoeditz
ƘAISER :
I don't comment in vids like this but...
2026-05-15 06:37:42
28
light_2202
light :
2026-05-14 05:58:20
58
akirakun1412
Akira :
Won't the devil guide your hand, for good luck
2026-05-15 09:31:14
0
lilrattie20
lilrat20 :
[Adesivo]
2026-05-14 10:14:31
59
alvieaqj3v4
𝑋𝑌𝑁𝑋 | 𝑋𝑌𝑁𝑇𝑅𝐼𝑋 💫 :
"Just like my video"
2026-06-07 08:07:03
5
spartanb317
random con motosierras :
lo último que escucho ryu antes de que sukulo hiciera un rap con su cara
2026-05-14 18:12:43
10
astolfo892
MAZAFAKER :
2026-05-14 19:24:55
24
potential_man01
Good naoya :
is it peak?
2026-05-14 15:03:34
16
captainfleetzer_1987
¿-Consigliere-? :
2026-05-14 16:28:30
89
just_jackson724
Jackson The Stupid :
2026-05-14 15:45:44
9
jesusgonzales2000
￴ ￴ ￴￴￴￴ ￴ ￴ ￴ ￴￴￴￴ :
2026-05-16 02:04:36
18
aronski822
🇦🇱🇽🇰Aronski🇵🇱 :
2026-05-14 20:33:20
8
mininachos
Nachos :
on any of the parts that would say “you’re early” should’ve been an A and not a G#
2026-05-15 15:16:31
27
denya7665
denya6786 :
bwah bwah bwah...
2026-05-15 05:32:18
6
youraveragebackstroker
forgotten man :
And Jane
2026-05-14 12:24:24
38
cryhardd1
ด.ช-สรยุทธ :
2026-05-14 08:19:17
105
kakazfr
kaz_expie :
2026-05-15 04:36:29
12
bakekon
EVIL Mimi :
2026-05-14 17:23:34
18
To see more videos from user @marcod623, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV:Sejak pertama kali mengenal Mark, aku tahu hidupku tidak akan pernah lagi “tenang” dengan cara yang biasanya. Anak itu tengil, suka jail, dan selalu punya cara aneh untuk membuatku geleng-geleng kepala. Kadang aku kesal, kadang aku tertawa sampai perut sakit. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah: Mark mencintaiku sepenuh hati. Tanpa ragu, tanpa syarat. Sayangnya, dunia kami tidak semudah itu. Ayahku tak pernah merestui hubungan kami, bukan karena Mark jahat, bukan karena ia tidak layak tetapi karena ayah kami pernah memiliki dendam yang tak selesai di masa lalu. Permasalahan yang bahkan aku sendiri tak pernah benar-benar mengerti, namun cukup besar untuk membuat ayah membenci nama keluarga Mark sampai ke keturunannya. “Dia anak musuh ayah. Kamu nggak boleh dekat-dekat dia.” Kalimat itu terus terngiang di kepalaku, seperti tembok tinggi yang tiba-tiba berdiri di antara kami. Mark tidak menyerah. Berkali-kali ia datang ke rumah, berusaha menjelaskan, berusaha meminta kesempatan. Tapi setiap datang, ia pulang dengan luka baru kadang karena kata-kata ayahku, kadang karena tatapan yang tak ingin mengakui kebaikannya.Aku ingin percaya semuanya akan baik-baik saja… sampai akhirnya ayah mengambil keputusan paling kejam dalam hidupku: Ia meminta aku memutuskan hubungan dengan Mark dan menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang bahkan tidak pernah aku kenal, apalagi aku cintai. Aku menolak. Menangis. Bahkan memohon. Tapi ayah tidak berubah. Yang paling menyakitkan adalah ketika Mark mendengar semuanya… dan justru meminta aku untuk mengikuti keinginan ayah. Aku marah. Benar-benar marah. “Kenapa kamu nyerah? Kenapa kamu malah ikut mereka?” Aku membentaknya dengan suara bergetar. Mark hanya menatapku. Mata cokelatnya yang biasanya penuh centil itu kini kosong, seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari amarahku. “Aku nggak nyerah,” ia berkata pelan. “Aku cuma nggak mau jadi alasan kamu dijauhin keluarga kamu. Aku nggak mau kamu dipaksa memilih antara aku atau ayahmu. Kamu bisa benci aku nanti, tapi jangan pernah benci keluargamu sendiri karena aku.” Aku terdiam. Rasanya dadaku diremas dari dalam. Mark mendekat, mengusap pipiku yang basah. “Kamu tahu aku cinta kamu. Itu nggak berubah. Tapi kalau aku terus melawan… kamu yang hancur.” Di momen itu, aku sadar dia sedang patah. Tapi ia mematahkan dirinya sendiri agar aku tetap utuh. Ia menggenggam tanganku kencang, seolah menahan waktu. “Kali ini… nurutin ayah kamu dulu, ya?” Aku tidak membalas apa pun. Aku hanya memeluknya, sekuat yang aku bisa, seakan pelukan itu bisa membuat nasib berpihak pada kami. Tapi ketika ia melepaskan pelukanku, aku tahu… itu adalah akhir yang tak pernah kami inginkan.  #pov #fyp #mark
POV:Sejak pertama kali mengenal Mark, aku tahu hidupku tidak akan pernah lagi “tenang” dengan cara yang biasanya. Anak itu tengil, suka jail, dan selalu punya cara aneh untuk membuatku geleng-geleng kepala. Kadang aku kesal, kadang aku tertawa sampai perut sakit. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah: Mark mencintaiku sepenuh hati. Tanpa ragu, tanpa syarat. Sayangnya, dunia kami tidak semudah itu. Ayahku tak pernah merestui hubungan kami, bukan karena Mark jahat, bukan karena ia tidak layak tetapi karena ayah kami pernah memiliki dendam yang tak selesai di masa lalu. Permasalahan yang bahkan aku sendiri tak pernah benar-benar mengerti, namun cukup besar untuk membuat ayah membenci nama keluarga Mark sampai ke keturunannya. “Dia anak musuh ayah. Kamu nggak boleh dekat-dekat dia.” Kalimat itu terus terngiang di kepalaku, seperti tembok tinggi yang tiba-tiba berdiri di antara kami. Mark tidak menyerah. Berkali-kali ia datang ke rumah, berusaha menjelaskan, berusaha meminta kesempatan. Tapi setiap datang, ia pulang dengan luka baru kadang karena kata-kata ayahku, kadang karena tatapan yang tak ingin mengakui kebaikannya.Aku ingin percaya semuanya akan baik-baik saja… sampai akhirnya ayah mengambil keputusan paling kejam dalam hidupku: Ia meminta aku memutuskan hubungan dengan Mark dan menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang bahkan tidak pernah aku kenal, apalagi aku cintai. Aku menolak. Menangis. Bahkan memohon. Tapi ayah tidak berubah. Yang paling menyakitkan adalah ketika Mark mendengar semuanya… dan justru meminta aku untuk mengikuti keinginan ayah. Aku marah. Benar-benar marah. “Kenapa kamu nyerah? Kenapa kamu malah ikut mereka?” Aku membentaknya dengan suara bergetar. Mark hanya menatapku. Mata cokelatnya yang biasanya penuh centil itu kini kosong, seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari amarahku. “Aku nggak nyerah,” ia berkata pelan. “Aku cuma nggak mau jadi alasan kamu dijauhin keluarga kamu. Aku nggak mau kamu dipaksa memilih antara aku atau ayahmu. Kamu bisa benci aku nanti, tapi jangan pernah benci keluargamu sendiri karena aku.” Aku terdiam. Rasanya dadaku diremas dari dalam. Mark mendekat, mengusap pipiku yang basah. “Kamu tahu aku cinta kamu. Itu nggak berubah. Tapi kalau aku terus melawan… kamu yang hancur.” Di momen itu, aku sadar dia sedang patah. Tapi ia mematahkan dirinya sendiri agar aku tetap utuh. Ia menggenggam tanganku kencang, seolah menahan waktu. “Kali ini… nurutin ayah kamu dulu, ya?” Aku tidak membalas apa pun. Aku hanya memeluknya, sekuat yang aku bisa, seakan pelukan itu bisa membuat nasib berpihak pada kami. Tapi ketika ia melepaskan pelukanku, aku tahu… itu adalah akhir yang tak pernah kami inginkan. #pov #fyp #mark

About