nurtanimeha :
Di sudut ruang yang paling dingin, di mana cahaya lampu enggan menyentuh lantai, aku berdiri membawa sebongkah nama yang kukunci rapat di balik rusuk—nama yang jika kusebut, seolah-olah seluruh semesta mendadak hening, menunggu kabar buruk dari retakan hatiku yang sudah terlalu sering kukikis sendiri.
Ada sebuah jarak yang tidak bisa diukur oleh meteran mana pun, bukan karena kau berada di belahan bumi yang jauh, melainkan karena kita berada di dua dimensi yang berbeda; aku di dunia yang sibuk menyusun kalimat untuk menyapamu, dan kau di dunia yang bahkan tidak menyadari bahwa setiap tarikan napasmu telah kujadikan ritme detak jantungku sendiri.
Aku adalah pengamat yang setia dari balik bayang-bayang, mencatat setiap lekuk senyummu yang jatuh seperti hujan di musim kemarau, menyimpannya sebagai memori yang kubingkai dalam ingatan yang mulai memudar. Aku hafal caramu menatap cakrawala, hafal nada suaramu saat tertawa pada hal-hal yang mungkin bagiku adalah rahasia terbesar—dan setiap kali kau tertawa, ada bagian kecil dari diriku yang gugur, hancur, namun entah mengapa, tetap merasa utuh hanya karena melihatmu bahagia, meski bahagiaku adalah sisa dari apa yang tak pernah kau perhatikan.
Inilah luka itu, luka yang tak pernah membusuk, luka yang justru aku rawat dengan doa-doa tengah malam agar kau senantiasa dilindungi oleh takdir yang lebih baik daripada sekadar menjadi miliku. Mengagumimu dari jauh adalah bentuk mencintai yang paling menyakitkan sekaligus paling suci; aku memeluk bayangmu dalam mimpi, aku mengecup punggung tanganmu dalam lamunan, dan aku membakar diriku sendiri dalam tungku kerinduan yang hanya aku yang punya kuncinya.
Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, terkadang ia adalah tentang membiarkan seseorang menjadi cahaya di ujung lorong yang gelap, meski kau tahu tanganmu tak akan pernah sanggup menyentuh hangatnya. Aku menelan kecewaku setiap kali kau bercerita tentang orang lain, aku meredam amuk cemburuku setiap kali namamu disebut bersama takdir yang bukan diriku, dan aku terus berjalan dengan topeng tegar ini, berpura-pura bahwa aku baik-baik saja dengan peran sebagai penonton yang tidak pernah diundang ke atas panggung
2026-06-03 15:12:48