{Ravvv🕊️ :
Di balik dinginnya dinding batu kerajaan dan sunyinya lorong-lorong istana, aku hidup dengan satu luka yang tak pernah bisa kusuarakan: aku mencintai wanita yang tak akan pernah bisa kumiliki, Putri Elenora. Aku hanyalah seorang pengawal kerajaan, lelaki biasa tanpa darah bangsawan, tanpa gelar, tanpa mahkota—hanya seorang penjaga dengan pedang di tangan dan hati yang diam-diam hancur setiap kali memandangnya. Aku menjaganya setiap hari, berdiri cukup dekat untuk melihat senyumnya, mendengar suaranya, merasakan hangat keberadaannya, namun terlalu jauh untuk benar-benar menjadi miliknya. Dan itulah bagian paling menyakitkan dari semua ini: mencintainya sepenuh jiwa, tetapi harus tetap diam seolah hatiku tidak pernah memanggil namanya. Aku pernah berharap, bodohnya, bahwa mungkin ketulusan bisa melampaui kasta, bahwa mungkin cinta seorang prajurit sederhana bisa cukup untuk mengetuk pintu hatinya dan menantang takdir. Namun semakin aku mencintainya, semakin aku sadar bahwa dunia kami memang tidak pernah diciptakan untuk bersatu. Ia ditakdirkan untuk singgasana, untuk mahkota, untuk seorang lelaki yang pantas berdiri di sisinya, sedangkan aku hanya ditakdirkan berdiri di belakangnya, menjaga kebahagiaannya sambil perlahan kehilangan bahagiaku sendiri. Ada rasa sakit yang begitu dalam saat aku harus menerima bahwa aku tidak akan pernah menjadi rumah bagi wanita yang selama ini kujadikan seluruh isi doaku. Tetapi jika mencintainya berarti harus merelakannya, maka aku akan belajar ikhlas meski hatiku remuk setiap harinya. Sebab jika aku benar-benar mencintainya, aku harus rela melihatnya bahagia, walau kebahagiaan itu tidak pernah melibatkan namaku. Jadi biarlah aku tetap menjadi bayangan yang setia di belakang cahaya hidupnya, tetap menjaga, tetap mencintai, dan tetap mendoakan sang ratu dengan hati yang patah—karena meski aku tak pernah bisa memilikinya, aku akan selalu berharap dunia memperlakukannya dengan lembut, seindah cara aku mencintainya dalam diam."
2026-06-09 10:06:29