@seeyou0993:

See You
See You
Open In TikTok:
Region: VN
Saturday 16 May 2026 10:54:46 GMT
915
45
1
0

Music

Download

Comments

chrisrso
ChrisRSO :
🤗🤗🤗
2026-05-16 11:02:10
1
To see more videos from user @seeyou0993, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

📘 ملخص كتاب
📘 ملخص كتاب "القطعة النادرة". ✍️ للكاتب نورالدين إديوسف 1️⃣ احذر من محيطك… فبعض الاهتمام قناع لمصالح خفية. 2️⃣ لا تبح بطموحاتك… فليست كل الآذان أمينة. 3️⃣ ركّز على مجال واحد… التشتت عدو العظمة. 4️⃣ كن هادئًا… القرارات العظيمة تُولد في العقول الباردة. 5️⃣ غيّر نظرتك للمال… هو وسيلة قوة لا عيب. 6️⃣ اخرج من عقلية القطيع… المختلفون فقط يُذكرون. 7️⃣ اصنع قيمة حقيقية… لا تكن رقمًا عابرًا. 8️⃣ لا تنتظر الشفقة… العالم يحترم الأقوياء فقط. 9️⃣ أتقن اللامبالاة… وفّر طاقتك لما يستحق. 🔟 لا تكن طيبًا بسذاجة… الحكمة أهم من النوايا. 1️⃣1️⃣ تعلّم الذكاء الاجتماعي… ليس كل شيء يُقال مباشرة. 1️⃣2️⃣ كن راقيًا… لكن لا تكن سهل الاستغلال. 1️⃣3️⃣ افهم الناس… فالسلوك لغة خفية. 1️⃣4️⃣ راجع تعليمك… ليس كل ما تعلمته يناسب الواقع. 1️⃣5️⃣ كن قائدًا (ألفا) أو مستقلاً (سيغما)… لا تكن تابعًا. 1️⃣6️⃣ تعلّم قراءة الشخصيات… كل إنسان له مفتاح. 1️⃣7️⃣ ابنِ شخصيتك… فالمال نتيجة وليس بداية. 1️⃣8️⃣ عش بتوازن… الإفراط يفسد كل شيء. 1️⃣9️⃣ تحرر من الخوف… التبعية تبدأ من الداخل. 2️⃣0️⃣ اجعل القرآن مصدر قوتك… لا مجرد عادة. 2️⃣1️⃣ لا تقبل إلا بالنجاح… أو لا تشتكِ من العادية. 2️⃣2️⃣ لا تكن مهرجًا… الهيبة تُبنى بالاتزان. 2️⃣3️⃣ كن واعيًا… فالعالم مليء بالخدع الخفية. 2️⃣4️⃣ غيّر أفكارك باستمرار… الجمود بداية السقوط. 2️⃣5️⃣ افهم المجتمع بعمق… السطح خادع دائمًا. 2️⃣6️⃣ اجذب بالاستغناء… كلما قلّ تعلقك زادت قيمتك. 2️⃣7️⃣ احمِ عقلك الباطن… فهو من يصنع واقعك. 2️⃣8️⃣ تعلّم من الفشل… فهو درس لا عقوبة. 2️⃣9️⃣ أثّر في غيرك… القيادة فعل لا لقب. 3️⃣0️⃣ كن ذكيًا… تعلّم من أخطاء غيرك قبل أن تدفع الثمن. 🧠 الخلاصة: إما أن تكون “قطعة نادرة” يُبحث عنها… أو نسخة عادية يتم استبدالها بسهولة.... #تحفيز #تطوير_الذات #ملخص_كتاب #القطعة_النادرة #نورالدين_إديوسف
Andalusia in Your Eyes Part 1| POV: Sang Pencipta selalu menenun helai-helai takdir dengan teramat rapi, teramat sempurna. Siapa sangka dua jiwa yang terasing itu justru dipertemukan di rahim peradaban yang hampir dilupakan waktu. Sore itu adalah pertemuan kesekian kalinya kalian bersisian meniti sisa kejayaan Andalusia. Rasa canggung orang asing telah sepenuhnya luruh, digantikan oleh jalinan rasa yang kian lekat dan hangat. Langit di atas Granada meluruhkan warna jingganya dengan khidmat, menyaring semburat matahari senja melalui jendela-jendela lengkung Istana Alhambra, mengubah dinding-dinding batu sewarna emas kemerahan itu menjadi Altar cahaya yang sakral. Kamu berdiri di dalam Aula Dua Saudari (Sala de dos Hermanas), terpaku menatap kubah langit-langit yang dipahat rumit sekaligus begitu menakjubkan, tempat ribuan stalaktit batu atau muqarnas menangkap sisa cahaya senja yang berpendar redup. Matamu yang berbinar takjub merekam keagungan geometri yang melintasi zaman, membaca jalinan huruf Arab kuno yang terpahat berulang-ulang di sepanjang relief dinding pualam. Kamera lawas di dadamu kini membisu; jiwamu terlalu penuh oleh kekaguman yang mutlak pada keindahan yang dipahat atas nama dedikasi manusia. Namun di samping pilar marmer yang dingin, Keonho tidak sedang memandang ukiran yang melekat pada dinding. Pria itu berdiri bertumpu pada bayang-bayang lengkungan, membiarkan kemeja linen putihnya yang santai digulung hingga siku. Seluruh atensinya, seluruh napasnya, telah tersita sepenuhnya oleh dirimu. Wibawa tajam khas jazirah yang biasa ia kenakan sebagai perisai di dunia modern kini telah luruh, digantikan oleh binar mata elang yang teramat ekspresif dengan alis hitamnya yang rapi seakan menggarisbawahi sepasang mata yang dihiasi bulu mata lentik nan lebat itu menciptakan sebuah tatapan yang hidup, yang memancarkan kedalaman rasa kagum yang tak lagi mampu ia bendung dalam keheningan.
Andalusia in Your Eyes Part 1| POV: Sang Pencipta selalu menenun helai-helai takdir dengan teramat rapi, teramat sempurna. Siapa sangka dua jiwa yang terasing itu justru dipertemukan di rahim peradaban yang hampir dilupakan waktu. Sore itu adalah pertemuan kesekian kalinya kalian bersisian meniti sisa kejayaan Andalusia. Rasa canggung orang asing telah sepenuhnya luruh, digantikan oleh jalinan rasa yang kian lekat dan hangat. Langit di atas Granada meluruhkan warna jingganya dengan khidmat, menyaring semburat matahari senja melalui jendela-jendela lengkung Istana Alhambra, mengubah dinding-dinding batu sewarna emas kemerahan itu menjadi Altar cahaya yang sakral. Kamu berdiri di dalam Aula Dua Saudari (Sala de dos Hermanas), terpaku menatap kubah langit-langit yang dipahat rumit sekaligus begitu menakjubkan, tempat ribuan stalaktit batu atau muqarnas menangkap sisa cahaya senja yang berpendar redup. Matamu yang berbinar takjub merekam keagungan geometri yang melintasi zaman, membaca jalinan huruf Arab kuno yang terpahat berulang-ulang di sepanjang relief dinding pualam. Kamera lawas di dadamu kini membisu; jiwamu terlalu penuh oleh kekaguman yang mutlak pada keindahan yang dipahat atas nama dedikasi manusia. Namun di samping pilar marmer yang dingin, Keonho tidak sedang memandang ukiran yang melekat pada dinding. Pria itu berdiri bertumpu pada bayang-bayang lengkungan, membiarkan kemeja linen putihnya yang santai digulung hingga siku. Seluruh atensinya, seluruh napasnya, telah tersita sepenuhnya oleh dirimu. Wibawa tajam khas jazirah yang biasa ia kenakan sebagai perisai di dunia modern kini telah luruh, digantikan oleh binar mata elang yang teramat ekspresif dengan alis hitamnya yang rapi seakan menggarisbawahi sepasang mata yang dihiasi bulu mata lentik nan lebat itu menciptakan sebuah tatapan yang hidup, yang memancarkan kedalaman rasa kagum yang tak lagi mampu ia bendung dalam keheningan. "Aku menghabiskan bertahun-tahun mempelajari bagaimana manusia menyusun batu demi batu untuk mendekati kesempurnaan," suara Keonho mengalir rendah, memecah kesunyian di antara pilar dengan ritme sastra Arab yang berat, mengalun bagai gema puisi lama yang syahdu di menara yang jauh. Dia melangkah satu ketukan lebih dekat. Jarak di antara kalian terkikis, membiarkan kehangatan tubuhnya dan aroma oud murni yang mistis merengkuhmu di tengah dinginnya udara ruangan tua. Keonho menatap garis wajahmu yang diterpa seberkas cahaya keemasan, lalu sebuah senyuman yang teramat tulus dan lepas terukir di bibirnya yang biasa kaku. Matanya beralih sejenak ke arah ukiran kaligrafi khufi yang melingkari plinth dinding di hadapan kalian, sebelum kembali mengunci manik matamu. "Dinding-dinding istana ini berbisik, 'Wa laa ghaaliba illa...'—tidak ada yang bisa menang atau berkuasa atas waktu dan keindahan," bisik Keonho pelan, melafalkan untaian kalimat kuno itu dengan kefasihan yang menggetarkan udara. Jemarinya yang panjang terangkat perlahan, bergerak sehalus kepakan sayap, dengan keberanian yang teramat lembut menyelipkan sehelai rambut yang menutupi pipimu ke belakang telinga. Sentuhan kulitnya yang hangat mengirimkan getaran hebat yang membuat jantungmu seolah berhenti berdetak. "Namun sore ini, melihat bagaimana cahaya senja itu jatuh di wajahmu... Wallah, seluruh kemegahan Alhambra ini mendadak kehilangan bahasanya di hadapanku," lanjut Keonho, suaranya merendah, dipenuhi penghormatan yang luhur. "Manusia membutuhkan waktu berabad-abad dan jutaan marmer untuk membangun tempat seindah ini. Namun, melihat senyummu sore ini, keindahan dunia yang melekat pada batu-batu ini seolah memudar, tersisih oleh pesonamu yang jauh lebih hidup." (continued in the comment) #keonho #khalid #cortis #alternativeuniverse #moodboard

About