@itx.broken_hina:

𝕚𝕥𝕩.𝕓𝕣𝕠𝕜𝕖𝕟_𝕙𝕚𝕟𝕪𝕒
𝕚𝕥𝕩.𝕓𝕣𝕠𝕜𝕖𝕟_𝕙𝕚𝕟𝕪𝕒
Open In TikTok:
Region: PK
Saturday 16 May 2026 16:11:05 GMT
8278
339
6
39

Music

Download

Comments

user9352034459607
@sayeed 55 :
❤️❤️❤️
2026-05-28 04:58:15
0
serajkakar0
Seraj Kakar :
🤗🤗🤗
2026-05-17 10:43:40
0
brokenlife1199
👑 Heartbreak 🍁 :
🥹🥀
2026-05-16 19:18:11
0
user5862721745668
وکیل آحمد آ :
🥰🥰🥰
2026-05-16 17:04:52
0
raizkhan21216
raizkhan212 :
🥰🥰🥰
2026-05-16 16:20:07
0
user8107566747
Ismail Khan :
🥰🥰🥰
2026-06-06 10:55:40
0
To see more videos from user @itx.broken_hina, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Tidak ada referensi yang pasti, memang. Sejarah Desa Kalimulyo hanya sebatas cerita dari mulut ke mulut yang diceritakan secara turun temurun. Bermula dari kisah Ki Ageng Talun yang menjadi pembuka desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati yang pergi dari desanya untuk mencari ketenangan setelah mengakibatkan meninggalnya salah satu muridnya. Setelah pengembaraan panjangnya, dia bermaksud untuk kembali ke desanya. Dengan menaiki sebuah rakit bambu dia melintasi Sungai Juwana . Ditengah perjalanan, Kelapa Gading yang dibawanya terjatuh ke sungai. Ia berusaha untuk mengambilnya kembali, tetapi justru rakitnya oleng dan dia tercebur ke dalam sungai. Susah payah dia menuju tepi sungai. Daerah tersebut hingga sekarang disebut Desa Gadingrejo Kecamatan Juwana . Ketika beristirahat di tepi sungai, terdengarlah suara burung perkutut yang merdu. Tak ayal itu menarik perhatian Ki Ageng Talun. Maka di carilah suara itu, hingga tanpa terasa dia semakin jauh masuk ke daerah di sebelah selatan Sungai Juwana tersebut sehingga sampailah dia di sebuah daerah yang dialiri oleh sebuah sungai kecil. Ki Ageng Talun terpikat oleh ketengan daerah tersebut yang membuatnya merasa semakin dekat dengan Allah swt. Di sana Ki Ageng Talun memutuskan untuk beristirahat beberapa hari untuk menyendiri mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa. Dan akhirnya daerah itu terwujudlah menjadi suatu tempat dengan nama Mijen yang artinya sendiri. Dahulu kala, wilayah ini merupakan nama salah satu pedukuhan di Desa Kalimulyo yang terletak di ujung utara desa, namun karena kecilnya wilayah, lambat laun nama itu semakin jarang digunakan. Sungai kecil di daerah tersebut ternyata menarik perhatian Ki Ageng Talun. Sungai di bagian bawah ( utara ) ternyata muncul banyak binatang air bernama “Kijing”. Kizing adalah binatang bercangkang (moluska) pipih sejenis keong dan bukur yang hidup bersembunyi di dalam lumpur. Karena banyaknya Kizing, dia memberi nama daerah itu dengan nama Kizingan. Kizingan adalah salah satu pedukuhan yang terdapat di bagian utara Desa Kalimulyo, terdiri atas 7 RT (Rukun Tetangga) yang terhimpun dalam 1 RW (Rukun Warga) yaitu RW 01. Sungai di bagian atas (selatan) ternyata memiliki dua cabang. Melihat keadaan ini, dia pun menamakan daerah tersebut dengan nama Kalipang yang merupakan akronim dari “Kali” (sungai) dan Ngepang (bercabang). Dukuh Kalipang dan Pengkol terdapat di bagian selatan Desa Kalimulyo dan masuk dalam RW (Rukun Warga) 02. Sejak menjelang masa kemerdekaan RI, sungai kecil yang membujur di tengah-tengah desa Kalimulyo mengalami pendangkalan, sehingga akhirnya hilang sama sekali. Namun hingga saat ini, di sekitar bekas sungai kecil itu menjadi daerah yang mempunyai sumber air yang lebih besar dibandingkan dengan daerah lainnya. Selain itu setiap kali diadakan acara, seperti untuk pembuatan sumur, sering kali ditemukan potongan-potongan kayu dan berbagai benda lain yang terkubur di dalam tanah. Ki Ageng Talun sendiri, menetap di daerah Kizingan Desa Kalimulyo Kecamatan Jakenan hingga meninggal dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kamandowo yang terletak di perbatasan antara pedukuhan Kizingan dan Kalipang. Makam ini dikeramatkan oleh warga sekitar hingga sekarang. Dan sejak tahun 60-an, lewat jerih payah K. Lazimun, ulama Desa Kalimulyo saat itu, mengadakan Haul setelah mengadakan penyelidikan tentang makam dan asal usul Ki Ageng Talun yang salah satunya melakukan cros ceck dengan masyarakat dari Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati . Haul Ki Ageng Talun sampai sekarang tetap dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam #desakalimulyo #jakenanpati #PatiSejahtera #kehidupandesa #kabupatenpati #kisah #cerita #asalusul
Tidak ada referensi yang pasti, memang. Sejarah Desa Kalimulyo hanya sebatas cerita dari mulut ke mulut yang diceritakan secara turun temurun. Bermula dari kisah Ki Ageng Talun yang menjadi pembuka desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati yang pergi dari desanya untuk mencari ketenangan setelah mengakibatkan meninggalnya salah satu muridnya. Setelah pengembaraan panjangnya, dia bermaksud untuk kembali ke desanya. Dengan menaiki sebuah rakit bambu dia melintasi Sungai Juwana . Ditengah perjalanan, Kelapa Gading yang dibawanya terjatuh ke sungai. Ia berusaha untuk mengambilnya kembali, tetapi justru rakitnya oleng dan dia tercebur ke dalam sungai. Susah payah dia menuju tepi sungai. Daerah tersebut hingga sekarang disebut Desa Gadingrejo Kecamatan Juwana . Ketika beristirahat di tepi sungai, terdengarlah suara burung perkutut yang merdu. Tak ayal itu menarik perhatian Ki Ageng Talun. Maka di carilah suara itu, hingga tanpa terasa dia semakin jauh masuk ke daerah di sebelah selatan Sungai Juwana tersebut sehingga sampailah dia di sebuah daerah yang dialiri oleh sebuah sungai kecil. Ki Ageng Talun terpikat oleh ketengan daerah tersebut yang membuatnya merasa semakin dekat dengan Allah swt. Di sana Ki Ageng Talun memutuskan untuk beristirahat beberapa hari untuk menyendiri mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa. Dan akhirnya daerah itu terwujudlah menjadi suatu tempat dengan nama Mijen yang artinya sendiri. Dahulu kala, wilayah ini merupakan nama salah satu pedukuhan di Desa Kalimulyo yang terletak di ujung utara desa, namun karena kecilnya wilayah, lambat laun nama itu semakin jarang digunakan. Sungai kecil di daerah tersebut ternyata menarik perhatian Ki Ageng Talun. Sungai di bagian bawah ( utara ) ternyata muncul banyak binatang air bernama “Kijing”. Kizing adalah binatang bercangkang (moluska) pipih sejenis keong dan bukur yang hidup bersembunyi di dalam lumpur. Karena banyaknya Kizing, dia memberi nama daerah itu dengan nama Kizingan. Kizingan adalah salah satu pedukuhan yang terdapat di bagian utara Desa Kalimulyo, terdiri atas 7 RT (Rukun Tetangga) yang terhimpun dalam 1 RW (Rukun Warga) yaitu RW 01. Sungai di bagian atas (selatan) ternyata memiliki dua cabang. Melihat keadaan ini, dia pun menamakan daerah tersebut dengan nama Kalipang yang merupakan akronim dari “Kali” (sungai) dan Ngepang (bercabang). Dukuh Kalipang dan Pengkol terdapat di bagian selatan Desa Kalimulyo dan masuk dalam RW (Rukun Warga) 02. Sejak menjelang masa kemerdekaan RI, sungai kecil yang membujur di tengah-tengah desa Kalimulyo mengalami pendangkalan, sehingga akhirnya hilang sama sekali. Namun hingga saat ini, di sekitar bekas sungai kecil itu menjadi daerah yang mempunyai sumber air yang lebih besar dibandingkan dengan daerah lainnya. Selain itu setiap kali diadakan acara, seperti untuk pembuatan sumur, sering kali ditemukan potongan-potongan kayu dan berbagai benda lain yang terkubur di dalam tanah. Ki Ageng Talun sendiri, menetap di daerah Kizingan Desa Kalimulyo Kecamatan Jakenan hingga meninggal dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kamandowo yang terletak di perbatasan antara pedukuhan Kizingan dan Kalipang. Makam ini dikeramatkan oleh warga sekitar hingga sekarang. Dan sejak tahun 60-an, lewat jerih payah K. Lazimun, ulama Desa Kalimulyo saat itu, mengadakan Haul setelah mengadakan penyelidikan tentang makam dan asal usul Ki Ageng Talun yang salah satunya melakukan cros ceck dengan masyarakat dari Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati . Haul Ki Ageng Talun sampai sekarang tetap dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam #desakalimulyo #jakenanpati #PatiSejahtera #kehidupandesa #kabupatenpati #kisah #cerita #asalusul

About