@1stbatch_kfupm: Skip, skip, skip!!! #kfupm #kfupm_girls#1st_batch #lastfinal

Ms. Engineer💅🏻
Ms. Engineer💅🏻
Open In TikTok:
Region: SA
Saturday 16 May 2026 20:58:05 GMT
664
12
1
4

Music

Download

Comments

i_jxl1
D :
طيب إذا هذا أنا قبل سنة التخرج
2026-05-18 21:03:36
1
To see more videos from user @1stbatch_kfupm, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada hal-hal yang semakin dikejar justru semakin menjauh. Ada pula hal-hal yang tidak pernah benar-benar kita pahami, tetapi kehadirannya cukup untuk membuat hati terus merenung. Salah satunya mungkin tiga huruf yang membuka Surah Al-Baqarah: الم Alif Lām Mīm Tiga huruf yang dibaca setiap hari oleh jutaan manusia, namun tetap menyisakan ruang sunyi yang tidak mudah dijelaskan. Menariknya, setelah Alif Lām Mīm, Allah berfirman: > "Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85) Ayat ini terasa begitu dekat dengan Alif Lām Mīm. Betapa sering manusia merasa sudah mengetahui banyak hal, padahal dibanding luasnya ilmu Allah, seluruh pengetahuan yang kita banggakan hanyalah setitik embun yang menempel sesaat di ujung daun. Mungkin itulah sebabnya para ulama terdahulu begitu hati-hati ketika berbicara tentang huruf-huruf muqaththa'ah. Mereka lebih memilih adab daripada spekulasi. Lebih memilih berkata, "Allah lebih mengetahui maksud-Nya." Sikap yang terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat sulit di zaman ketika hampir semua orang ingin terlihat paling tahu. Ada sebuah hadits yang sering mengingatkan tentang batas pengetahuan manusia: > Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim) Barangkali kerendahan hati dalam ilmu juga termasuk di dalamnya. Mengakui bahwa ada wilayah yang belum kita mengerti bukanlah kelemahan. Justru itulah awal dari kebijaksanaan. Dalam tradisi para pencari jalan ruhani, ada satu kesadaran yang terus diulang: Bahwa semakin dekat seseorang kepada lautan pengetahuan Ilahi, semakin ia menyadari betapa sedikit yang ia ketahui. Sebagaimana firman Allah: > "Di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui." (QS. Yusuf: 76) Maka Alif Lām Mīm terasa seperti sebuah jeda. Sebuah ruang hening di awal perjalanan. Bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan untuk menumbuhkan rasa takjub. Karena mungkin ada hal-hal yang memang tidak diturunkan untuk diselesaikan oleh pikiran, melainkan untuk melembutkan hati. Dan mungkin, di antara hikmah terbesar Alif Lām Mīm adalah mengajarkan bahwa tidak semua misteri membutuhkan jawaban. Sebagian misteri hadir agar manusia tetap rendah hati di hadapan Yang Maha Mengetahui. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita ketahui yang akan menyelamatkan kita. Tetapi seberapa tulus kita mengakui bahwa ilmu Allah tidak bertepi, sedangkan ilmu kita hanyalah setetes dari samudra yang tak berpantai. > "Dan sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku." (QS. Al-Kahfi: 109) — Al Faqīr ilal 'Ilmi, Al Hallajz #fy #sunyi #renungan #perjalananhidup #alquran " width="135" height="240">
Ada hal-hal yang semakin dikejar justru semakin menjauh. Ada pula hal-hal yang tidak pernah benar-benar kita pahami, tetapi kehadirannya cukup untuk membuat hati terus merenung. Salah satunya mungkin tiga huruf yang membuka Surah Al-Baqarah: الم Alif Lām Mīm Tiga huruf yang dibaca setiap hari oleh jutaan manusia, namun tetap menyisakan ruang sunyi yang tidak mudah dijelaskan. Menariknya, setelah Alif Lām Mīm, Allah berfirman: > "Dzālika al-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn." "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2) Seolah sebelum memasuki lautan petunjuk, manusia terlebih dahulu dipertemukan dengan sesuatu yang tidak dapat ia genggam sepenuhnya dengan akalnya. Bukan untuk membuat bingung. Mungkin untuk mengingatkan bahwa tidak semua rahasia harus ditaklukkan oleh pemahaman. Karena ada kalanya ilmu tumbuh bukan saat seseorang mendapatkan jawaban, tetapi saat ia menyadari batas dirinya. Allah sendiri berfirman: > "Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85) Ayat ini terasa begitu dekat dengan Alif Lām Mīm. Betapa sering manusia merasa sudah mengetahui banyak hal, padahal dibanding luasnya ilmu Allah, seluruh pengetahuan yang kita banggakan hanyalah setitik embun yang menempel sesaat di ujung daun. Mungkin itulah sebabnya para ulama terdahulu begitu hati-hati ketika berbicara tentang huruf-huruf muqaththa'ah. Mereka lebih memilih adab daripada spekulasi. Lebih memilih berkata, "Allah lebih mengetahui maksud-Nya." Sikap yang terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat sulit di zaman ketika hampir semua orang ingin terlihat paling tahu. Ada sebuah hadits yang sering mengingatkan tentang batas pengetahuan manusia: > Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim) Barangkali kerendahan hati dalam ilmu juga termasuk di dalamnya. Mengakui bahwa ada wilayah yang belum kita mengerti bukanlah kelemahan. Justru itulah awal dari kebijaksanaan. Dalam tradisi para pencari jalan ruhani, ada satu kesadaran yang terus diulang: Bahwa semakin dekat seseorang kepada lautan pengetahuan Ilahi, semakin ia menyadari betapa sedikit yang ia ketahui. Sebagaimana firman Allah: > "Di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui." (QS. Yusuf: 76) Maka Alif Lām Mīm terasa seperti sebuah jeda. Sebuah ruang hening di awal perjalanan. Bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan untuk menumbuhkan rasa takjub. Karena mungkin ada hal-hal yang memang tidak diturunkan untuk diselesaikan oleh pikiran, melainkan untuk melembutkan hati. Dan mungkin, di antara hikmah terbesar Alif Lām Mīm adalah mengajarkan bahwa tidak semua misteri membutuhkan jawaban. Sebagian misteri hadir agar manusia tetap rendah hati di hadapan Yang Maha Mengetahui. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita ketahui yang akan menyelamatkan kita. Tetapi seberapa tulus kita mengakui bahwa ilmu Allah tidak bertepi, sedangkan ilmu kita hanyalah setetes dari samudra yang tak berpantai. > "Dan sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku." (QS. Al-Kahfi: 109) — Al Faqīr ilal 'Ilmi, Al Hallajz #fy #sunyi #renungan #perjalananhidup #alquran

About