@hienhan.99: Có Ai Nghĩ Thêm Cho E Đấy Lý Do Đi Ạ#xuhuongtiktok #viralvideo #xiennuongtrunghoa #andem #xinu @XINU - XIÊN NƯỚNG TRUNG HOA

Đang Bận Đi Làm
Đang Bận Đi Làm
Open In TikTok:
Region: VN
Sunday 17 May 2026 13:03:35 GMT
612
17
2
1

Music

Download

Comments

neit.gnoul
sao cung dc. :
@Khau Mazic
2026-06-14 14:37:29
0
To see more videos from user @hienhan.99, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov : Hari itu hujan turun sangat deras. Kamu masih ingat jelas detiknya—wiper mobil yang bergerak cepat, lampu jalan yang kabur, dan suara Jaewon di kursi belakang yang tertawa kecil karena baru saja kamu membelikannya mainan kecil dari minimarket.  Jake menyetir dengan satu tangan, sesekali menoleh ke belakang, memastikan kamu dan Jaewon baik-baik saja. “Pelan dikit, Jake,” katamu sambil tersenyum, pura-pura kesal. “Tenang, ini sudah biasa,” jawabnya santai, meski bibirnya ikut tersenyum. Satu detik setelah itu, semuanya berubah. Lampu dari arah berlawanan menyilaukan. Teriakan rem. Benturan keras. Dunia seperti dilipat tanpa peringatan. Tubuhmu terlempar, suara kaca pecah, dan yang terakhir kamu dengar bukan lagi suara Jake atau Jaewon, hanya sunyi yang terlalu tajam. Lalu gelap. Ketika kamu membuka mata lagi, kamu sudah tidak lagi berada di tubuhmu. Kamu berdiri di sana, melihat dari sudut yang aneh, melayang, tidak menyentuh tanah, tidak merasakan angin. Mobil itu ringsek. Orang-orang berlari. Sirene mulai terdengar jauh. Dan di antara semuanya, kamu melihat Jake. Dia keluar dari mobil dengan tangan gemetar, wajahnya penuh luka kecil, tapi matanya… kosong. “YN…?” suaranya pecah. Dia berlari ke arahmu, ke arah tubuhmu yang sudah tidak lagi menjawab. Tangannya mengguncang bahumu, seperti berharap dunia ini salah. “Sayang bangun… tolong bangun…” Jaewon menangis di kursi belakang, masih hidup, masih memanggil-manggil dengan suara kecil yang hancur. “Mama…? Papa…?” ”Jaewon.” Jake segera mengeluarkan Jaewon.  Saat itu kamu mencoba menyentuh mereka. Tapi tanganmu menembus. Tidak ada hangat. Tidak ada rasa. Hanya ruang kosong yang menyakitkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. “Jake…” bisikmu, panik, mencoba memeluknya. “Aku di sini… aku di sini…” Tapi dia tidak mendengar. Tidak pernah. Karena kamu telah tiada.  ••• Hari-hari setelah itu seperti luka yang tidak pernah menutup. Pada awalnya, Jake seperti kehilangan arah. Rumah yang dulu penuh suara tawa, sekarang hanya berisi langkah kaki yang terdengar terlalu keras, terlalu kosong.  Jaewon kecil, yang dulu selalu berlari ke arahmu, sekarang lebih sering diam. Matanya sering kosong, dan setiap kali dia memanggil “mama”, suaranya seperti pecah di tengah jalan. “Papa… jaewon rindu mama…”  Suara itu keluar suatu malam, saat Jake sedang duduk di lantai ruang tamu. Jaewon berdiri di depannya, memeluk boneka kecil yang dulu kamu belikan. Jake langsung menarik anak itu ke pelukannya. “Sayang…” suaranya berat, serak. “Papa juga rindu mama.” Jaewon menangis keras di dadanya. “Hikss… jaewon mau juga dipeluk sama mama kayak temen jaewon yang di peluk mama nya…” Kamu yang berdiri di sudut ruangan itu langsung menutup mulutmu. Walaupun kamu tidak punya tubuh, kamu masih bisa merasakan sesuatu runtuh di dalam dirimu. “Sayang… mama di sini,” bisikmu pelan, meski suaramu tidak pernah sampai. Kamu berlutut di depan Jaewon dan merangkulnya, tapi tanganmu menembus tubuh kecil itu.   “Mama selalu di sini sama Jaewon, sama papa…” Tapi Jaewon tidak merasakan apa pun. Itu bagian yang paling menyakitkan.. ••• Waktu berjalan tanpa belas kasih. Dua tahun. Dua tahun kamu hanya menjadi bayangan di antara mereka. Melihat Jake yang mencoba menjadi kuat tapi gagal di malam hari. Melihat Jaewon yang tumbuh dengan satu ruang kosong di hidupnya yang tidak pernah bisa diisi siapa pun. Malam itu, kamu mulai melihat sesuatu yang tidak pernah kamu perhatikan sebelumnya. Jam di dinding ruang tamu berdetak lebih keras. Rumah terasa lebih sempit. Dan di sudut kamar, ada sesuatu seperti… batas yang tidak terlihat. Seperti dunia ini mulai menarikmu kembali ke suatu tempat. Dan kemudian kamu mendengarnya. Suara itu. Bukan dari Jake. Bukan dari Jaewon. Tapi dari sesuatu yang lebih jauh. “Empat puluh hari.” Kamu langsung menoleh. Tidak ada siapa pun. Tapi suara itu terus berlanjut, seperti gema di dalam kepalamu. “Jika dalam empat puluh hari mereka tidak melupakanmu… kamu akan kembali.” “Jika mereka melupakanmu… kamu akan menghilang.” #enhypen #jake #xybca #fyp
#pov : Hari itu hujan turun sangat deras. Kamu masih ingat jelas detiknya—wiper mobil yang bergerak cepat, lampu jalan yang kabur, dan suara Jaewon di kursi belakang yang tertawa kecil karena baru saja kamu membelikannya mainan kecil dari minimarket. Jake menyetir dengan satu tangan, sesekali menoleh ke belakang, memastikan kamu dan Jaewon baik-baik saja. “Pelan dikit, Jake,” katamu sambil tersenyum, pura-pura kesal. “Tenang, ini sudah biasa,” jawabnya santai, meski bibirnya ikut tersenyum. Satu detik setelah itu, semuanya berubah. Lampu dari arah berlawanan menyilaukan. Teriakan rem. Benturan keras. Dunia seperti dilipat tanpa peringatan. Tubuhmu terlempar, suara kaca pecah, dan yang terakhir kamu dengar bukan lagi suara Jake atau Jaewon, hanya sunyi yang terlalu tajam. Lalu gelap. Ketika kamu membuka mata lagi, kamu sudah tidak lagi berada di tubuhmu. Kamu berdiri di sana, melihat dari sudut yang aneh, melayang, tidak menyentuh tanah, tidak merasakan angin. Mobil itu ringsek. Orang-orang berlari. Sirene mulai terdengar jauh. Dan di antara semuanya, kamu melihat Jake. Dia keluar dari mobil dengan tangan gemetar, wajahnya penuh luka kecil, tapi matanya… kosong. “YN…?” suaranya pecah. Dia berlari ke arahmu, ke arah tubuhmu yang sudah tidak lagi menjawab. Tangannya mengguncang bahumu, seperti berharap dunia ini salah. “Sayang bangun… tolong bangun…” Jaewon menangis di kursi belakang, masih hidup, masih memanggil-manggil dengan suara kecil yang hancur. “Mama…? Papa…?” ”Jaewon.” Jake segera mengeluarkan Jaewon. Saat itu kamu mencoba menyentuh mereka. Tapi tanganmu menembus. Tidak ada hangat. Tidak ada rasa. Hanya ruang kosong yang menyakitkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. “Jake…” bisikmu, panik, mencoba memeluknya. “Aku di sini… aku di sini…” Tapi dia tidak mendengar. Tidak pernah. Karena kamu telah tiada. ••• Hari-hari setelah itu seperti luka yang tidak pernah menutup. Pada awalnya, Jake seperti kehilangan arah. Rumah yang dulu penuh suara tawa, sekarang hanya berisi langkah kaki yang terdengar terlalu keras, terlalu kosong. Jaewon kecil, yang dulu selalu berlari ke arahmu, sekarang lebih sering diam. Matanya sering kosong, dan setiap kali dia memanggil “mama”, suaranya seperti pecah di tengah jalan. “Papa… jaewon rindu mama…” Suara itu keluar suatu malam, saat Jake sedang duduk di lantai ruang tamu. Jaewon berdiri di depannya, memeluk boneka kecil yang dulu kamu belikan. Jake langsung menarik anak itu ke pelukannya. “Sayang…” suaranya berat, serak. “Papa juga rindu mama.” Jaewon menangis keras di dadanya. “Hikss… jaewon mau juga dipeluk sama mama kayak temen jaewon yang di peluk mama nya…” Kamu yang berdiri di sudut ruangan itu langsung menutup mulutmu. Walaupun kamu tidak punya tubuh, kamu masih bisa merasakan sesuatu runtuh di dalam dirimu. “Sayang… mama di sini,” bisikmu pelan, meski suaramu tidak pernah sampai. Kamu berlutut di depan Jaewon dan merangkulnya, tapi tanganmu menembus tubuh kecil itu. “Mama selalu di sini sama Jaewon, sama papa…” Tapi Jaewon tidak merasakan apa pun. Itu bagian yang paling menyakitkan.. ••• Waktu berjalan tanpa belas kasih. Dua tahun. Dua tahun kamu hanya menjadi bayangan di antara mereka. Melihat Jake yang mencoba menjadi kuat tapi gagal di malam hari. Melihat Jaewon yang tumbuh dengan satu ruang kosong di hidupnya yang tidak pernah bisa diisi siapa pun. Malam itu, kamu mulai melihat sesuatu yang tidak pernah kamu perhatikan sebelumnya. Jam di dinding ruang tamu berdetak lebih keras. Rumah terasa lebih sempit. Dan di sudut kamar, ada sesuatu seperti… batas yang tidak terlihat. Seperti dunia ini mulai menarikmu kembali ke suatu tempat. Dan kemudian kamu mendengarnya. Suara itu. Bukan dari Jake. Bukan dari Jaewon. Tapi dari sesuatu yang lebih jauh. “Empat puluh hari.” Kamu langsung menoleh. Tidak ada siapa pun. Tapi suara itu terus berlanjut, seperti gema di dalam kepalamu. “Jika dalam empat puluh hari mereka tidak melupakanmu… kamu akan kembali.” “Jika mereka melupakanmu… kamu akan menghilang.” #enhypen #jake #xybca #fyp

About