@islemislem7665: part: 1 #كلام_من_القلب #تصميم #تحفيز #نصيحة #الهجرة

𝕴𝖘𝖑𝖊𝖒    🪶
𝕴𝖘𝖑𝖊𝖒 🪶
Open In TikTok:
Region: DZ
Sunday 17 May 2026 21:20:53 GMT
475317
48413
608
3610

Music

Download

Comments

alexandermahon9
MOHAMED 🇩🇪 :
i can't watch this for free
2026-05-18 22:26:24
878
h_lahlali_
h_lahlali_ :
رحنا فالهوى سوى 🇲🇦💔
2026-05-19 01:57:08
1426
yasminboutt
yasmīnboutt :
يعرف يهدر ما شاء الله
2026-06-02 18:48:38
538
lciyzjiv
Bitrik55 :
ندمت علاه سقساتو☹️
2026-05-21 15:42:35
134
x_marwan_bel
𝙼𝙰𝙳𝚁𝙸𝙳 ✈︎ :
ملقاتش واش تهدر
2026-05-18 19:08:46
169
omarben8
Omar Ben :
كيف كيف خويا 🇲🇦
2026-06-01 18:01:17
47
tahertahet440
tahertahet440 :
كرهت حياتي هنا والله راني كل يوم نبكي كل يوم كرهت
2026-05-30 02:18:08
29
omarramo_19
Omar Ramo 19 :
هذا السؤال مايدي ربي يرحمو عطاكم الجواب المثالي
2026-05-18 20:52:36
23
amine.achour57
Amine Achour :
هدر وش كاين فقلب الشعب كامل
2026-06-04 23:06:24
12
hani.mayzi
hani mayzi :
2 ھدرو حقيقة مايدي وھذا
2026-05-18 16:55:59
6
abdreza20
جلاد مدريد :
ياخو الحقيقة مرة
2026-06-02 11:08:32
18
abdeldjalilbou0
Djalil_X_308 :
ربي يطلق سراحك خويا
2026-06-01 08:11:23
10
cars_hub_dz
¤♧kichi♧¤ :
هههه ضحكتني كي قالت دوري اطرح اسئلة
2026-05-18 22:21:06
354
chakibchkibou6
CHAKIB usma :
حكومه:
2026-05-20 12:06:53
27
To see more videos from user @islemislem7665, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | Sean bukan sekedar aa Bandung biasa. Nama Sean Arya Winata, cukup dikenal di sekolahnya. Bukan hanya karena keluarganya yang masih memiliki darah menak Sunda, tetapi juga karena tingkahnya yang jauh dari bayangan orang-orang tentang seorang keturunan keluarga terpandang. Sean seharusnya tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, berwibawa, dan penuh tata krama. Namun justru ia tumbuh menjadi anak tongkrongan paling berisik satu sekolah. Kamu sendiri adalah seorang gadis blasteran Belanda yang baru satu minggu lalu pindah ke Indonesia, setelah terlalu lama hidup di luar negeri. Bandung masih terasa asing bagimu. Mulai dari udara dinginnya, logat orang-orangnya, sampai kebiasaan anak-anak sekolah yang menurutmu terlalu ramai. Dan hari ini, menjadi pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di sekolah barumu. ••• Sebuah mobil Range Rover Autobiography hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sukses menarik perhatian banyak pasang mata bahkan sebelum pintunya terbuka. Saat kakimu turun menyentuh aspal, kamu sempat terdiam sesaat. Tatapan orang-orang terasa begitu asing. Bisikan kecil mulai terdengar di sana-sini, bercampur dengan rasa penasaran dari para siswa yang memperhatikanmu tanpa malu-malu. Termasuk sekelompok anak tongkrongan yang sejak tadi duduk santai di area parkiran bersama motor mereka. “Saha eta, euy? Hebring pisan ka sakola naek Range Rover,” celetuk Kenan pelan, membuat beberapa temannya ikut menoleh. Termasuk Sean. Martin ikut berdiri penuh antusias. “Ajig… geulis pisan euy…” Suara di parkiran itu seketika penuh. Namun di antara mereka, Sean menjadi orang yang paling diam. Cowok itu masih duduk santai di atas Yamaha XSR miliknya. Helm masih menggantung ditangannya, sementara matanya tak lepas sedikit pun darimu. Entah karena wajah pucat cantikmu, sorot bingung di matamu, atau caramu berdiri canggung di tengah lingkungan yang benar-benar baru bagimu.  Yang jelas, kehadiranmu cukup berhasil mencuri perhatiannya. Begitu melihat langkahmu mulai mendekat ke arah gedung sekolah, Sean tiba-tiba turun dari motornya tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya masih mengikutimu—seolah tanpa sadar, kakinya sendiri yang membawanya melangkah mendekat. Melihat itu, teman-temannya spontan heboh sendiri. “Eh, si kehed rek kamana itu?” celetuk James. “Samperin hayu anying, samperin! Malah diem aja!” sahut Juju menepuk bahu Martin. Beberapa dari mereka langsung ikut berdiri, sementara Sean berjalan paling depan dengan ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya sudah terpampang jelas begitu melihatmu semakin mendekat. Dan di situlah langkahmu perlahan melambat. Kedua tanganmu masih menggenggam erat tali tas, sementara tatapanmu tampak gugup sekaligus bingung melihat segerombolan cowok yang kini berdiri tepat di hadapanmu. Terutama satu cowok yang paling mencolok di antara mereka. Sean. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bajunya sengaja dikeluarkan—dibalut jaket kulit hitam dengan dasi yang terpasang rapi. Kini ia berdiri santai sambil menatapmu tanpa rasa canggung sedikit pun. Sementara di belakangnya, teman-temannya sudah ribut sendiri. Sean langsung menoleh singkat ke belakang dengan tatapan malas. “Cicing atuh, barudak. Ieu mah bagian aing.” Setelah itu, cowok itu kembali menatapmu dengan senyum tengil yang entah kenapa justru terlihat manis. “Halo cantik,” ucapnya santai lalu ia mengulurkan tangan. “Sean. Aa Bandung anu kasep.” Kamu hanya terdiam beberapa detik, bingung harus bereaksi bagaimana. Namun karena tidak enak, kamu tetap menyambut uluran tangannya pelan. “Y/n,” jawabmu setengah gugup. Sean tersenyum kecil. Tapi anehnya, cowok itu tidak juga melepaskan genggaman tanganmu. Tatapannya masih tertahan padamu. Kamu mulai mencoba menarik tanganmu perlahan, namun Sean malah menahan genggamannya sebentar lagi. Dan itu sukses membuat teman-temannya heboh cekikikan. Martin yang sedari tadi tak terima, memisahkan paksa jabatan tangan kalian. “Heh! Udah atuh udah!— +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fyp
POV | Sean bukan sekedar aa Bandung biasa. Nama Sean Arya Winata, cukup dikenal di sekolahnya. Bukan hanya karena keluarganya yang masih memiliki darah menak Sunda, tetapi juga karena tingkahnya yang jauh dari bayangan orang-orang tentang seorang keturunan keluarga terpandang. Sean seharusnya tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, berwibawa, dan penuh tata krama. Namun justru ia tumbuh menjadi anak tongkrongan paling berisik satu sekolah. Kamu sendiri adalah seorang gadis blasteran Belanda yang baru satu minggu lalu pindah ke Indonesia, setelah terlalu lama hidup di luar negeri. Bandung masih terasa asing bagimu. Mulai dari udara dinginnya, logat orang-orangnya, sampai kebiasaan anak-anak sekolah yang menurutmu terlalu ramai. Dan hari ini, menjadi pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di sekolah barumu. ••• Sebuah mobil Range Rover Autobiography hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sukses menarik perhatian banyak pasang mata bahkan sebelum pintunya terbuka. Saat kakimu turun menyentuh aspal, kamu sempat terdiam sesaat. Tatapan orang-orang terasa begitu asing. Bisikan kecil mulai terdengar di sana-sini, bercampur dengan rasa penasaran dari para siswa yang memperhatikanmu tanpa malu-malu. Termasuk sekelompok anak tongkrongan yang sejak tadi duduk santai di area parkiran bersama motor mereka. “Saha eta, euy? Hebring pisan ka sakola naek Range Rover,” celetuk Kenan pelan, membuat beberapa temannya ikut menoleh. Termasuk Sean. Martin ikut berdiri penuh antusias. “Ajig… geulis pisan euy…” Suara di parkiran itu seketika penuh. Namun di antara mereka, Sean menjadi orang yang paling diam. Cowok itu masih duduk santai di atas Yamaha XSR miliknya. Helm masih menggantung ditangannya, sementara matanya tak lepas sedikit pun darimu. Entah karena wajah pucat cantikmu, sorot bingung di matamu, atau caramu berdiri canggung di tengah lingkungan yang benar-benar baru bagimu. Yang jelas, kehadiranmu cukup berhasil mencuri perhatiannya. Begitu melihat langkahmu mulai mendekat ke arah gedung sekolah, Sean tiba-tiba turun dari motornya tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya masih mengikutimu—seolah tanpa sadar, kakinya sendiri yang membawanya melangkah mendekat. Melihat itu, teman-temannya spontan heboh sendiri. “Eh, si kehed rek kamana itu?” celetuk James. “Samperin hayu anying, samperin! Malah diem aja!” sahut Juju menepuk bahu Martin. Beberapa dari mereka langsung ikut berdiri, sementara Sean berjalan paling depan dengan ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya sudah terpampang jelas begitu melihatmu semakin mendekat. Dan di situlah langkahmu perlahan melambat. Kedua tanganmu masih menggenggam erat tali tas, sementara tatapanmu tampak gugup sekaligus bingung melihat segerombolan cowok yang kini berdiri tepat di hadapanmu. Terutama satu cowok yang paling mencolok di antara mereka. Sean. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bajunya sengaja dikeluarkan—dibalut jaket kulit hitam dengan dasi yang terpasang rapi. Kini ia berdiri santai sambil menatapmu tanpa rasa canggung sedikit pun. Sementara di belakangnya, teman-temannya sudah ribut sendiri. Sean langsung menoleh singkat ke belakang dengan tatapan malas. “Cicing atuh, barudak. Ieu mah bagian aing.” Setelah itu, cowok itu kembali menatapmu dengan senyum tengil yang entah kenapa justru terlihat manis. “Halo cantik,” ucapnya santai lalu ia mengulurkan tangan. “Sean. Aa Bandung anu kasep.” Kamu hanya terdiam beberapa detik, bingung harus bereaksi bagaimana. Namun karena tidak enak, kamu tetap menyambut uluran tangannya pelan. “Y/n,” jawabmu setengah gugup. Sean tersenyum kecil. Tapi anehnya, cowok itu tidak juga melepaskan genggaman tanganmu. Tatapannya masih tertahan padamu. Kamu mulai mencoba menarik tanganmu perlahan, namun Sean malah menahan genggamannya sebentar lagi. Dan itu sukses membuat teman-temannya heboh cekikikan. Martin yang sedari tadi tak terima, memisahkan paksa jabatan tangan kalian. “Heh! Udah atuh udah!— +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fyp

About