@biilllaww: mau spam di ex ig/tiktok

bibil
bibil
Open In TikTok:
Region: ID
Wednesday 20 May 2026 11:50:32 GMT
254071
30121
66
1958

Music

Download

Comments

cumaagabuttw
duta beku :
klian ngelihat ad yg aneh gk sih🗿
2026-05-20 15:17:34
9
intan.puspaa
Puspaaa :
awww tobluttt😍😍
2026-05-20 13:50:44
4
userr7890432167
່່🅰️ :
tegak bil
2026-05-20 12:14:40
2
nunesganteng
Mandormah kuat 🧲 :
tegak bill tegak etdahhhh
2026-05-20 13:11:35
2
mantaajr
Kun Mantaaa :
dammm😋😋
2026-05-20 12:51:08
1
jangandicari705482090231
Omen Gmbg :
bil ga tahan ini
2026-05-20 18:21:43
1
fbryquens24
🅰️zyla🐣 :
Pegel bgt 😭
2026-05-23 08:24:24
1
betterthanyourshahaha
iiyookk :
2026-05-20 13:13:57
2
spaaraneira0
wong galau :
mantep
2026-05-20 13:11:23
2
rowolampung
𝘍𝘌𝘙𝘋𝘠🦀 :
Ayunya
2026-05-21 05:35:52
1
sahrulfahro
sahrul :
2026-05-20 12:36:55
1
mantaajr
Kun Mantaaa :
si paling mantap 😋😋😋
2026-05-20 12:51:17
2
gr10_yolo
Gara :
pertama
2026-05-20 12:03:12
1
_masrikk
PASIEN GENDENG :
2026-05-20 20:46:59
1
febryramadanijj
Febry ramadani :
2026-05-21 00:11:49
1
taape_ketan
♣︎ :
2026-05-21 01:29:38
1
cesyafasyahrillfa
Cesyafa Syahrill :
el miring
2026-05-21 07:03:20
1
ardiraka14
Ardiraka :
2
2026-05-20 11:52:56
1
rjnothing11
Re:za :
bibil😘
2026-05-20 16:14:20
1
To see more videos from user @biilllaww, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov : “JUNGWON AKU H*MIL!” Dunia berhenti. HP Jungwon jatuh. Matanya membulat. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Tujuh tahun. Tujuh tahun kamu dan Jungwon p*caran sejak masih pakai seragam putih biru, ngerjain PR sambil curi-curi pegangan tangan di kantin, sampai sekarang—usia dewasa, kerja, lelah, tapi—belum juga menikah. Bukan karena tidak cinta. Bukan juga karena ada orang ketiga. Hanya hidup yang kebanyakan nanti. Dan pagi itu, ide paling berbahaya sekaligus paling bodoh muncul di kepalamu saat Jungwon tengah duduk di sofa, kaos rumah kusut, rambut masih acak-acakan. Fokus ke HP, entah membaca apa. Setelah mendengar itu, tentu Jungwon shock berat. “H—ha?” suaranya pecah. “Kamu, kamu apa?” “H*mil,” jawabmu enteng. “H*MIL?!” Ia berdiri terlalu cepat sampai hampir nabrak meja. Rambutnya makin berantakan, tangannya gemetar. “T-tapi kita—kita kan—aku—kapan—gimana caranya—” Ia mondar-mandir seperti bocah kehilangan balon di taman bermain. “Kita ga pernah ngapa² kan?! Aku inget banget! Aku selalu jaga jarak! Aku bahkan—” Dia berhenti. Menatapmu. Panik setengah mati. “Apa ini mukjizat?” Kamu mendengus pelan. Pacarmu memang dramatis sejak SMP, rupanya tak berubah. “Jungwon,” katamu datar. Dia langsung jongkok di depanmu. Menempelkan telinganya di perutmu. “Kalau ini tanggung jawab, aku siap. Aku n*kahin kamu sekarang. Sekarang juga. Kita ke KUA. Aku bawa dompet—eh dompet aku mana?!” “Kita belum sarapan,” gumammu. “Itu ga penting!” Kamu akhirnya tak tahan. Sudut bibirmu naik. Lalu kamu tertawa kecil. Jungwon berhenti. Menatapmu. “Kenapa kamu ketawa?
Pov : “JUNGWON AKU H*MIL!” Dunia berhenti. HP Jungwon jatuh. Matanya membulat. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Tujuh tahun. Tujuh tahun kamu dan Jungwon p*caran sejak masih pakai seragam putih biru, ngerjain PR sambil curi-curi pegangan tangan di kantin, sampai sekarang—usia dewasa, kerja, lelah, tapi—belum juga menikah. Bukan karena tidak cinta. Bukan juga karena ada orang ketiga. Hanya hidup yang kebanyakan nanti. Dan pagi itu, ide paling berbahaya sekaligus paling bodoh muncul di kepalamu saat Jungwon tengah duduk di sofa, kaos rumah kusut, rambut masih acak-acakan. Fokus ke HP, entah membaca apa. Setelah mendengar itu, tentu Jungwon shock berat. “H—ha?” suaranya pecah. “Kamu, kamu apa?” “H*mil,” jawabmu enteng. “H*MIL?!” Ia berdiri terlalu cepat sampai hampir nabrak meja. Rambutnya makin berantakan, tangannya gemetar. “T-tapi kita—kita kan—aku—kapan—gimana caranya—” Ia mondar-mandir seperti bocah kehilangan balon di taman bermain. “Kita ga pernah ngapa² kan?! Aku inget banget! Aku selalu jaga jarak! Aku bahkan—” Dia berhenti. Menatapmu. Panik setengah mati. “Apa ini mukjizat?” Kamu mendengus pelan. Pacarmu memang dramatis sejak SMP, rupanya tak berubah. “Jungwon,” katamu datar. Dia langsung jongkok di depanmu. Menempelkan telinganya di perutmu. “Kalau ini tanggung jawab, aku siap. Aku n*kahin kamu sekarang. Sekarang juga. Kita ke KUA. Aku bawa dompet—eh dompet aku mana?!” “Kita belum sarapan,” gumammu. “Itu ga penting!” Kamu akhirnya tak tahan. Sudut bibirmu naik. Lalu kamu tertawa kecil. Jungwon berhenti. Menatapmu. “Kenapa kamu ketawa?" Kamu menghela napas, lalu berkata santai, “Tenang. Aku bohong." “Hah?” “Aku ga h*mil, Won.” Sunyi. Tiga detik. Empat detik. “Apa?” “Kita ga pernah ngapa². Secara logika aja harusnya kamu sadar.” Wajahnya memerah. Antara lega, malu, dan kesal. “KAMU KOK BOHONG SOAL BEGINIAN?!” “Kalo ga gitu,” kamu menatapnya lurus, “Kapan kamu niat n*kahin aku? Tunggu kita ubanan?” Ia terdiam. Matanya turun. Tangannya mengepal pelan. “Aku belum siap,” ujarnya lirih. “Aku takut kita belum cukup. Takut belum bisa bikin kamu bahagia.” Kamu berjongkok, menyamai tingginya. “Kita udah tujuh tahun bareng. Dari bocah sampai dewasa. Aku ga nunggu sempurna, Jungwon. Aku nunggu kamu.” Ia menelan ludah. Lalu memelukmu tiba-tiba, erat. Namun tak lagi membahas soal pernikahan. Seolah ia selalu mengelak. “Jangan bohong kayak gitu lagi,” gumamnya di bahumu. “Hampir copot jantung aku.” Kamu hanya menjawab singkat. Lalu menghela napas. “Hm.” ♡♡♡ Saat itu kamu percaya—bahwa cinta kalian hanya butuh sedikit dorongan. Namun, kamu salah. Hari-hari berlalu. Jungwon kembali menjadi Jungwon yang kamu kenal, cuek, pendiam, sibuk bekerja kantoran. Bangun pagi, berangkat, pulang malam. Obrolan kalian semakin pendek. Sentuhan semakin jarang. Kamu mengerti dia lelah. Tapi kamu juga lelah merasa sendiri. Ada malam-malam di mana kamu duduk di kamar, menatap layar ponsel, berharap satu pesan sederhana datang. “Udah makan?” “Aku kangen.” Namun yang datang hanya notifikasi kerja dan sunyi. Kamu mulai bertanya-tanya— apa dia benar-benar menyayangimu? atau kamu hanya kebiasaan yang terlalu lama dipelihara? Dan di tengah retakan itu, Jake datang. Kafe kecil itu mempertemukan kalian kembali. Tempat yang sama seperti dulu—hanya kalian yang berubah. “Kamu?” katanya ragu, lalu tersenyum. “Aku hampir ga ngenalin.” Jake, cowok yang pernah menyukaimu di masa SMA. Cowok yang dulu mundur karena kamu sudah bersama Jungwon. “Kamu masih sama Jungwon?” tanyanya pelan. Kamu mengangguk. “Tujuh tahun.” “Lama,” katanya, tanpa nada menghakimi. Entah kenapa, kamu bercerita. Tentang sepi. Tentang nunggu. Tentang merasa tak dilihat. Jake tidak memotong. Tidak menasihati. Ia hanya mendengarkan. Dan ternyata, didengarkan itu—hangat. Sejak hari itu, Jake sering hadir. Bukan sebagai penggoda. Bukan sebagai penyelamat. Hanya seseorang yang peduli. “Udah makan?” “Hari kamu berat ya?” “Kalau capek, istirahat.” Lanjut comsec ⬇️ #pov #jungwonenhypen #yangjungwon #fyp #jungwonedit

About