@adrixnfootball: Messi Breaking Ankles 🤯

Adrian Football
Adrian Football
Open In TikTok:
Region: DO
Thursday 21 May 2026 16:11:36 GMT
14977
432
4
18

Music

Download

Comments

ehdoh1997
ကညီအဲဒိ၃်?ယသးဟ့နzဘ၃်? :
2026-05-22 06:12:13
0
ehdoh1997
ကညီအဲဒိ၃်?ယသးဟ့နzဘ၃်? :
2026-05-22 06:12:20
0
marckenson.trf
Marckenson TRF 3090 :
ta roto ese pie
2026-06-14 23:13:42
0
sofiaanna942
star ⭐ wolf 🐺 :
🥰🥰🥰
2026-05-27 18:46:12
0
To see more videos from user @adrixnfootball, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Membalas @Oscar_Adk  Bertahun-tahun mempelajari teori billiard, membaca buku-buku luar, mendalami teknik, emosi, pola pikir, hingga psikologi latihan, saya semakin menyadari satu hal: Tidak ada satu teori yang otomatis cocok untuk semua orang. Setiap orang punya cara berpikir, pengalaman, kemampuan memahami, dan kecepatan belajar yang berbeda. Dalam ilmu pembelajaran, ada dua konsep menarik: Declarative Knowledge (Knowing What) — memahami APA yang harus dilakukan. Procedural Knowledge (Knowing How) — kemampuan untuk benar-benar MELAKUKANNYA. Masalahnya, ada jarak antara memahami dan mampu melakukan. Melihat teknik orang lain terasa mudah. Mendengar penjelasannya masuk akal. Tetapi ketika dipraktikkan, ternyata gagal. Dicoba lagi, masih gagal. Lama-lama muncul frustrasi, malas latihan, bahkan mulai meragukan kemampuan diri sendiri. Padahal, memahami teori tidak otomatis membuat tubuh mampu mempraktikkannya. Di sinilah kerangka berpikir diuji. Apakah kegagalan dianggap bukti ketidakmampuan? Atau informasi bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki? Itulah mengapa saya lebih tertarik memahami kecenderungan setiap pemain daripada memaksakan satu teori. Apa pola kesalahannya? Apa yang berulang? Apa yang sudah benar? Dan penyesuaian apa yang paling tepat? Sampai akhirnya saya menemukan satu kesimpulan yang sedikit kontradiktif: Billiard mungkin bukan olahraga yang mudah bagi orang dengan kerangka berpikir yang kurang baik. Tetapi justru latihan billiard yang benar bisa menjadi sarana membangun kerangka berpikir yang lebih baik. Karena yang dilatih bukan hanya tangan, mata, dan akurasi. Melainkan juga cara kita merespons kegagalan, memproses informasi, mengelola ekspektasi, dan memperbaiki diri. #ombill #ombilliard #salambilliardtanpajudi #coachendy
Membalas @Oscar_Adk Bertahun-tahun mempelajari teori billiard, membaca buku-buku luar, mendalami teknik, emosi, pola pikir, hingga psikologi latihan, saya semakin menyadari satu hal: Tidak ada satu teori yang otomatis cocok untuk semua orang. Setiap orang punya cara berpikir, pengalaman, kemampuan memahami, dan kecepatan belajar yang berbeda. Dalam ilmu pembelajaran, ada dua konsep menarik: Declarative Knowledge (Knowing What) — memahami APA yang harus dilakukan. Procedural Knowledge (Knowing How) — kemampuan untuk benar-benar MELAKUKANNYA. Masalahnya, ada jarak antara memahami dan mampu melakukan. Melihat teknik orang lain terasa mudah. Mendengar penjelasannya masuk akal. Tetapi ketika dipraktikkan, ternyata gagal. Dicoba lagi, masih gagal. Lama-lama muncul frustrasi, malas latihan, bahkan mulai meragukan kemampuan diri sendiri. Padahal, memahami teori tidak otomatis membuat tubuh mampu mempraktikkannya. Di sinilah kerangka berpikir diuji. Apakah kegagalan dianggap bukti ketidakmampuan? Atau informasi bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki? Itulah mengapa saya lebih tertarik memahami kecenderungan setiap pemain daripada memaksakan satu teori. Apa pola kesalahannya? Apa yang berulang? Apa yang sudah benar? Dan penyesuaian apa yang paling tepat? Sampai akhirnya saya menemukan satu kesimpulan yang sedikit kontradiktif: Billiard mungkin bukan olahraga yang mudah bagi orang dengan kerangka berpikir yang kurang baik. Tetapi justru latihan billiard yang benar bisa menjadi sarana membangun kerangka berpikir yang lebih baik. Karena yang dilatih bukan hanya tangan, mata, dan akurasi. Melainkan juga cara kita merespons kegagalan, memproses informasi, mengelola ekspektasi, dan memperbaiki diri. #ombill #ombilliard #salambilliardtanpajudi #coachendy

About