@politic.press: #سلێمانی #هەولێر #دهوك #هەوالەكانی_روژ #پولەتيك_پرێس

Politic.Press
Politic.Press
Open In TikTok:
Region: IQ
Friday 22 May 2026 11:49:06 GMT
9486
340
6
21

Music

Download

Comments

taear12hama
tayar hamakaka :
دەم و دەست خۆش
2026-05-22 19:29:33
0
wafa67389
wafa :
یاخوا تەمەنت. پر خێرو بەرەکت بێت و دەنگت هەر زوڵاڵ بێت .
2026-05-22 13:08:05
0
alanfaxradiinafandi
Alan Faxradiin Afand :
سڵاوو ڕێزمان بۆ ئامۆزای خۆشەویستم هەمیشە لەش ساغ و تەندروست باشبێت
2026-05-25 12:49:14
0
sargulxanmibaban
خانمی بابان :
زۆرخۆشەویستە
2026-05-28 05:56:55
0
didabagm32
didani :
بۆن و بەرامی مزگەوتی گەورەو کانێسکانی لێ یەت ئەودەنگ پڕ احساسە🌹
2026-05-27 13:51:36
1
baxtyar.penjweny4
baxtyar penjweny :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-04 22:00:37
0
To see more videos from user @politic.press, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : Ponselmu bergetar di atas meja. Nama 
POV : Ponselmu bergetar di atas meja. Nama "Martin" muncul. Kamu sempat terdiam—ini pertama kalinya dia menelepon langsung tanpa embel-embel 'James' atau sekadar mengirim pesan singkat yang isinya hanya "P" atau "Dmn". Kamu mengangkatnya. "Halo, Tin?" Hening. Kamu cuma bisa mendengar suara napas yang berat dan sedikit... gemetaran? Ada suara gesekan kain, seolah Martin sedang meremas-remas ujung bajunya sendiri di seberang sana. "L-lo... lo lagi sibuk nggak?" suara Martin terdengar sangat rendah, tapi ada getaran halus yang gagal dia sembunyikan. "Nggak sih, lagi santai aja. Tumben telpon, Tin?" Martin berdehem keras, mencoba mengembalikan suaranya yang sempat crack. "Gue... gue cuma mau bilang. Gue udah bisa nebak besok lo bakal rebahan kayak kaktus kering kan? Makanya gue kasih solusi, ikut gue ke festival kuliner di pusat kota. James lagi sibuk sama urusan ikannya yang nggak jelas itu, jadi daripada gue dibilang aneh jalan sendirian, lo harus ikut." "Ikut ke mana?" tanyamu menahan tawa. "Tuli ya? Festival kuliner!" sentaknya dengan nada sarkas andalannya, tapi suaranya semakin gemetaran di ujung kalimat. "Ini gue tagih utang lo. Gue udah ngajarin lo nyetir kemarin, meskipun sampe sekarang gue masih ragu itu ada gunanya atau nggak. Jadi, daripada lo cuma rebahan nggak guna, mending lo jadi asisten gue buat pegangin plastik makanan." "Oh, jadi ini ceritanya kamu ngajak aku jalan ya Tin?" godamu. "Gak usah geer kocak! Gue cuma butuh orang buat nemenin antri! Lo kan punya kaki dua, gunain dong!" Potongnya galak, tapi sedetik kemudian dia terdiam. Suara napasnya makin terdengar jelas di speaker. "Tapi... lo harus pake baju yang bener. Jangan pake kaos oblong yang gambarnya udah pudar itu. Gue nggak mau reputasi gue ancur jalan sama gembel." "Jam berapa, Tin?" "Jam empat teng. Kalau lo telat, gue jamin lo bakal jadi dekorasi tetap di depan rumah." Ucapnya cepat. Dan sebelum kamu sempat menjawab "Iya", dia langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak. Klik. Kamu menatap layar ponselmu yang sudah gelap. Kamu yakin, di seberang sana, Martin pasti sedang melempar ponselnya ke kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal sambil merutuki kegugupannya sendiri. Benar saja, semenit kemudian, satu pesan masuk. Martin: "Gak usah senyum-senyum sendiri. Gue tau lo pasti lagi geer sekarang. Gue tutup telponnya karena batere gue low. Titik." Kamu tertawa lebar. Padahal di layar telepon tadi, suaranya jernih sekali—tidak ada tanda-tanda baterai lemah. Si gengsi tinggi itu baru saja melakukan pencapaian terbesar dalam hidupnya: meneleponmu langsung hanya untuk sebuah "kencan" berkedok asisten plastik makanan. • • • Besoknya, jam empat sore tiba. Sebuah mobil hitam mengkilap sudah terparkir manis di depan pagar rumahmu. Tidak ada klakson terus-menerus, tidak ada panggilan telepon lagi. Martin hanya duduk di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan kacamata hitamnya, seolah-olah dia sedang menunggu kedatangan presiden, bukan menjemput teman jalan. Begitu kamu keluar dengan pakaian yang sedikit lebih rapi dari biasanya, kamu bisa melihat jakun Martin naik-turun—dia menelan ludah dengan susah payah. "Lama. Gue udah mau bikin laporan kehilangan ke pak RT tadi." Semprotnya langsung begitu kamu membuka pintu mobil. Padahal, kamu tepat waktu. "Baru juga jam empat pas Tin!" Balasmu tak terima sambil memakai sabuk pengaman. Martin tidak menjawab. Ia hanya mendehem keras, tangannya yang memegang setir tampak mencengkeram kulit joknya kuat-kuat. Ia tidak langsung menjalankan mobil. Matanya melirikmu dari balik kacamata hitam, memindai penampilanmu dari atas sampai bawah. "Baju lo nggak seburuk yang gue bayangin. At least lo nggak bikin malu gue hari ini." Gumamnya dengan nada sarkas yang kental, tapi telinganya yang tidak tertutup kacamata mulai berubah warna jadi merah jambu. "Makasih loh pujiannya, Martin si spesialis komentar nyelekit." Balasmu santai, ini sudah seperti asupan sehari-hari jika bersama Martin. ++comseccc) 💬✌🏻 #cortis #martin #pov #fypage

About