_“Kullu man ‘alaiha faan, wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikram”_ > Semua yang di bumi akan fana. Yang kekal hanya wajah Tuhanmu yang punya kebesaran dan kemuliaan *QS. Ar-Rahman: 26-27* 4. Jadi Buahnya Apa? Kalau kamu bener-bener paham “Aku ini pinjaman”, hasilnya cuma 1: Hancur keakuan. Hilang sombong. Orang yang ngerti ini: - Nggak gila pujian. Karena yang dipuji itu Allah yang ngasih nikmat. - Nggak takut hinaan. Karena yang hina juga cuma jasad pinjaman. - Nggak sombong ilmu, jabatan, harta. Karena semua itu titipan yang besok ditarik. Makanya tasawuf, tauhid, makrifat ujungnya bukan debat “Aku Allah atau bukan”. Ujungnya: merendah, malu sama Allah, dan habis di depan Allah. 5. Praktiknya Biar Nggak Cuma Teori. Coba 1 latihan dari ahli hakikat: Dzikir “Huwa - Huwa - Huwa” sambil inget: “Yang ada cuma Dia. Aku ini nggak ada tanpa Dia.” Lama-lama rasa “aku” yang besar itu menciut. Gantinya rasa malu, rasa butuh, rasa cinta ke Allah. Itu namanya fana’. Fana’ dari rasa “aku”. Bukan fana’ jadi Allah. catatan nya : Tujuan ngomongin “Ana Anta Huwa” bukan biar kamu merasa jadi Tuhan Tapi biar kamu berhenti merasa jadi siapa-siapa di depan Tuhan. Pertanyaan buat direnungin: Kalau besok Allah cabut “Aku” yang kamu bangga-banggakan, apa yang tersisa dari dirimu? - @surya.pratama00"/> _“Kullu man ‘alaiha faan, wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikram”_ > Semua yang di bumi akan fana. Yang kekal hanya wajah Tuhanmu yang punya kebesaran dan kemuliaan *QS. Ar-Rahman: 26-27* 4. Jadi Buahnya Apa? Kalau kamu bener-bener paham “Aku ini pinjaman”, hasilnya cuma 1: Hancur keakuan. Hilang sombong. Orang yang ngerti ini: - Nggak gila pujian. Karena yang dipuji itu Allah yang ngasih nikmat. - Nggak takut hinaan. Karena yang hina juga cuma jasad pinjaman. - Nggak sombong ilmu, jabatan, harta. Karena semua itu titipan yang besok ditarik. Makanya tasawuf, tauhid, makrifat ujungnya bukan debat “Aku Allah atau bukan”. Ujungnya: merendah, malu sama Allah, dan habis di depan Allah. 5. Praktiknya Biar Nggak Cuma Teori. Coba 1 latihan dari ahli hakikat: Dzikir “Huwa - Huwa - Huwa” sambil inget: “Yang ada cuma Dia. Aku ini nggak ada tanpa Dia.” Lama-lama rasa “aku” yang besar itu menciut. Gantinya rasa malu, rasa butuh, rasa cinta ke Allah. Itu namanya fana’. Fana’ dari rasa “aku”. Bukan fana’ jadi Allah. catatan nya : Tujuan ngomongin “Ana Anta Huwa” bukan biar kamu merasa jadi Tuhan Tapi biar kamu berhenti merasa jadi siapa-siapa di depan Tuhan. Pertanyaan buat direnungin: Kalau besok Allah cabut “Aku” yang kamu bangga-banggakan, apa yang tersisa dari dirimu? - @surya.pratama00 - Tikwm"/> _“Kullu man ‘alaiha faan, wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikram”_ > Semua yang di bumi akan fana. Yang kekal hanya wajah Tuhanmu yang punya kebesaran dan kemuliaan *QS. Ar-Rahman: 26-27* 4. Jadi Buahnya Apa? Kalau kamu bener-bener paham “Aku ini pinjaman”, hasilnya cuma 1: Hancur keakuan. Hilang sombong. Orang yang ngerti ini: - Nggak gila pujian. Karena yang dipuji itu Allah yang ngasih nikmat. - Nggak takut hinaan. Karena yang hina juga cuma jasad pinjaman. - Nggak sombong ilmu, jabatan, harta. Karena semua itu titipan yang besok ditarik. Makanya tasawuf, tauhid, makrifat ujungnya bukan debat “Aku Allah atau bukan”. Ujungnya: merendah, malu sama Allah, dan habis di depan Allah. 5. Praktiknya Biar Nggak Cuma Teori. Coba 1 latihan dari ahli hakikat: Dzikir “Huwa - Huwa - Huwa” sambil inget: “Yang ada cuma Dia. Aku ini nggak ada tanpa Dia.” Lama-lama rasa “aku” yang besar itu menciut. Gantinya rasa malu, rasa butuh, rasa cinta ke Allah. Itu namanya fana’. Fana’ dari rasa “aku”. Bukan fana’ jadi Allah. catatan nya : Tujuan ngomongin “Ana Anta Huwa” bukan biar kamu merasa jadi Tuhan Tapi biar kamu berhenti merasa jadi siapa-siapa di depan Tuhan. Pertanyaan buat direnungin: Kalau besok Allah cabut “Aku” yang kamu bangga-banggakan, apa yang tersisa dari dirimu? - @surya.pratama00"/>