@popculturebrain: Anthony Bourdain said one food movie was more accurate than any other — and I can’t believe his answer (Sources: EW, Michael Ruhlman blog, Mashed) #anthonybourdain #foodmovies #food #movies#ratatouille #pixar

Alex | Pop Culture Brain
Alex | Pop Culture Brain
Open In TikTok:
Region: US
Friday 29 May 2026 19:00:00 GMT
1079958
112990
648
3111

Music

Download

Comments

who_are_you_i_am
Civilian No. 330678401 :
I think he actually meant Ratatoing (2007)
2026-05-29 20:08:19
8999
_jd_meyers_
JD :
Sausage party
2026-05-29 19:05:24
10364
wintertoker
Wintertoker :
he would have loved the menu
2026-05-29 21:49:03
1259
gotdamnlolatv
GotDamnLola :
I knew it was ratatouille 😂
2026-05-30 01:12:01
3248
siriuswackattack
SiriusWackAttack :
I love how Pixar sends their animators on field trips. they toured French kitchens for Ratatouille, sent them rafting for Good Dinosaur and such
2026-05-29 19:20:32
1909
thesh3rlockhomeboy
Your boos mean nothing :
Chef is literally a masterpiece
2026-05-29 22:21:41
190
k8slocalsonly
k8slocalsonly :
Ratatouille slaps. That’s why there is a whole musical about it.
2026-05-29 20:52:51
192
eli_gemstone
eli_gemstone :
I legitimately said ratatouille as a joke
2026-05-31 21:12:04
8
oscar_elpato
Pato :
"I hope it's ratatouille" I said only for him to say it immediately after 🤣
2026-05-30 04:04:32
156
buschdrinkin69
Cicadapotada :
I can't believe he's been gone 8 years already
2026-05-30 06:12:03
6
hunterw1313
Hunter W :
One of my favorite Pixar movies. Resolute as always, Anthony. Can’t believe it’s been 8 years that’s crazy
2026-05-31 03:40:03
5
nauticalgnome
Nat Cat :
The way that ratatouille visualizes the experience of flavor on the palette is brilliant.
2026-05-29 19:33:29
93
snek_snack
Sneksnack :
Ratatouille is in fact top 3 Pixar movies of all time
2026-05-30 02:39:03
5
themunchi3s123
themunchi3s123 :
I knew it was ratatouille
2026-06-01 20:45:58
5
elemenohpees
pez ☭ :
good burger
2026-05-30 02:05:08
5
leap_frosty
leap_frosty :
My cat absolutely loves this film. Which is a credit to how good the animation is. It is the best food film on so many levels.
2026-06-03 06:28:52
0
strawberrygirl594
strawberrygirl :
He would have loved The Menu
2026-05-30 19:23:23
9
datgreenmonstah
Hazard :
I wanted to work for Pixar at one point because of how much they would research and attention to details were so refreshing, but was sad when Disney took over
2026-05-31 00:10:44
12
alvnjsph
alvnjsph :
8 years? Miss him. 🥹
2026-05-29 19:35:20
36
hamstrungalleycat
hamstrungalleycat :
wrong. it’s good burger
2026-05-30 06:00:31
10
defconganja
DefconGanja 🗝🥔 :
I miss him every day..
2026-05-30 08:40:36
17
planetoscorigam
planetoscorigam :
I said "ratatooee" as a joke.. didn't expect it to be the actual one.. 😅😂😅😅
2026-05-30 01:17:19
12
lynnaebrown
BelongToYourself@Work :
I cant believe he has been gone so long.
2026-05-30 00:25:16
9
lunamoth1987
Belle-Rex :
My daddy was a chef with 30+ yrs of experience and he also said Ratatouille was the best and most accurate food industry film he’d ever seen. He passed in 2008, but he’d be tickled to know he and Anthony Bourdain shared this opinion! 🥰
2026-05-29 22:25:37
28
gailsnail5
GailSnail🐌 姜 :
Pixar is on a whole other level
2026-05-30 16:30:42
7
To see more videos from user @popculturebrain, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sore harinya, orang-orang dari biro travel datang dan membawakan koper seragam—warna hitam, berisi keperluan umroh. Ada juga tas selempang kecil berisi id card, paspor dan visa haji. Tetangga yang baru pulang rewang langsung terkagum-kagum melihat koper-koper yang berjejer—sebanyak sepuluh koper, termasuk milik suami mbak-mbak iparku, beserta Pakde dan Bude. Lusa, akan ada bus yang menjemput mereka bersama jama’ah lain ke bandara. Kalau tidak salah, dari kampung ini ada sekitar lima belas orang yang berangkat, termasuk keluarga suamiku.   “Iri kan kamu, lihat koper-koper itu berjejer? Itu dari biro travel umroh ternama, loh, nggak kaleng-kaleng. Udah pasti bakal berangkat no tipu-tipu,” ujar Mbak Hilda, dengan nada sombong. “Makanya jadi orang jangan manja. Mam pus sekarang kamu ditinggal umroh sekeluarga. Di rumah aja kamu jagain toddler.”   Aku hanya diam.   “Hilda sini. Ini kopermu udah ada. Coba cek dulu isinya kalau aja ada yang kurang,” ujar ibu mertua, sambil melambaikan tangannya pada Mbak Hilda. “Kalau udah dicek, kopernya masukin ke kam ar Ibu aja biar aman. Takutnya ada yang berniat jahat mau ngerusak koper kita karena nggak diajak umroh.”   Ibu mertua langsung melirikku dengan ekspresi sinis.   Apa aku serendah itu dimata mereka? Nanti kalau aku bikin mereka nggak bisa berangkat umroh beneran baru deh, tahu rasa…   “Eri kamu ngapain aja sih. Ini loh Vivi gantiin popoknya. Udah ba u banget!” Mas Yunus menghampiriku dan mendorong pundak putri kami ke arahku. “Punya a nak itu diurus, jangan manja apa-apa harus aku!”   Vivi menangis karena mendengar suara be n takan papanya—yang segera kubawa ke dalam gendonganku.   Silahkan saja sekarang kalian bersuka cita dan mengabaikanku seperti sam pah. Sekarang aku sedang menyiapkan bom yang akan aku lemparkan pada kalian saat waktunya tiba. Tunggu saja. *** “Bu Valerie, akuisisi biro umroh Grand Arafah Travel sudah berhasil. Saya sudah kirimkan lampiran dokumennya via email,” ujar Pak Bobby dari ujung telepon—asisten pribadi Papa—yang sekarang sudah resmi jadi asisten pribadiku. “Saya juga sudah mengirim lampiran daftar nama orang-orang yang dibiay a I umroh oleh Bapak Yunus.”   Aku tersenyum. “Terima kasih, Pak. Nanti saya cek emailnya.”   Setelah itu aku menutup panggilan dan membuka aplikasi emailku, lalu membuka attach email yang dikirimkan oleh Pak Bobby. Ternyata ada delapan orang yang dibi a yai Mas Yunus, dengan total 185 j u ta rupiah. Aku melihat daftarnya dan menemukan nama Mas Yunus, ibu mertua, papa mertua, Dita, Mbak Hilda, Mbak Lina dan juga… sebuah nama asing—Amanda Lestari.   Keningku berkerut. Dia itu siapa?   Aku ingat nama semua keluarga suamiku mulai dari keluarga inti hingga sepupu-sepupunya. Dan seingatku tidak ada yang namanya Amanda Lestari. Jadi kenapa Mas Yunus turut membiayai dia umroh?   Sebuah pemikiran yang tiba-tiba melintas membuat mataku terbelalak.   Apa jangan-jangan… Amanda itu… nama selingkuhan Mas Yunus?   Tidak.   Ini tidak mungkin, kan?   Dengan tangan setengah bergetar, aku menelpon Pak Bobby lagi. Tak sampai lima detik panggilan langsung terhubung. Kugi g i t bibir bawahku untuk menahan air mata yang hendak tumpah. “Pak, tolong selidiki wanita bernama Amanda Lestari. Dia masuk ke daftar nama yang dibiaya i umroh suami saya.”   “Baik, Bu.”   “Tolong secepatnya ya Pak. Kalau bisa sebelum keberangkatan umroh keluarga suami saya,” lanjutku lagi. “Oh iya, satu lagi. Siapkan juga visa umroh dan paspor saya, Pak. Mengenai tanggal keberangkatannya, nanti saya hubungi lagi.”   “Baik, Bu Vania.”   Setelah panggilan terputus, aku menggenggam ponsel bulukku erat-erat. Bahkan aku saja hanya pakai hape android jadul dengan layar retak selama bertahun-tahun, tapi suamiku malah menghabiskan seluruh tabu n gan kami untuk mengumrohkan keluarga besarnya. Siap-siap saja, Mas. Balasanku akan lebih pedih dari ini.   Terutama jika Amanda Lestari adalah wanita simp a nanmu.       BACA KISAH SELENGKAPNYA DI APLIKAS I KBM APP YAA JUDUL : PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN AUTHOR : INDAAHNS
Sore harinya, orang-orang dari biro travel datang dan membawakan koper seragam—warna hitam, berisi keperluan umroh. Ada juga tas selempang kecil berisi id card, paspor dan visa haji. Tetangga yang baru pulang rewang langsung terkagum-kagum melihat koper-koper yang berjejer—sebanyak sepuluh koper, termasuk milik suami mbak-mbak iparku, beserta Pakde dan Bude. Lusa, akan ada bus yang menjemput mereka bersama jama’ah lain ke bandara. Kalau tidak salah, dari kampung ini ada sekitar lima belas orang yang berangkat, termasuk keluarga suamiku. “Iri kan kamu, lihat koper-koper itu berjejer? Itu dari biro travel umroh ternama, loh, nggak kaleng-kaleng. Udah pasti bakal berangkat no tipu-tipu,” ujar Mbak Hilda, dengan nada sombong. “Makanya jadi orang jangan manja. Mam pus sekarang kamu ditinggal umroh sekeluarga. Di rumah aja kamu jagain toddler.” Aku hanya diam. “Hilda sini. Ini kopermu udah ada. Coba cek dulu isinya kalau aja ada yang kurang,” ujar ibu mertua, sambil melambaikan tangannya pada Mbak Hilda. “Kalau udah dicek, kopernya masukin ke kam ar Ibu aja biar aman. Takutnya ada yang berniat jahat mau ngerusak koper kita karena nggak diajak umroh.” Ibu mertua langsung melirikku dengan ekspresi sinis. Apa aku serendah itu dimata mereka? Nanti kalau aku bikin mereka nggak bisa berangkat umroh beneran baru deh, tahu rasa… “Eri kamu ngapain aja sih. Ini loh Vivi gantiin popoknya. Udah ba u banget!” Mas Yunus menghampiriku dan mendorong pundak putri kami ke arahku. “Punya a nak itu diurus, jangan manja apa-apa harus aku!” Vivi menangis karena mendengar suara be n takan papanya—yang segera kubawa ke dalam gendonganku. Silahkan saja sekarang kalian bersuka cita dan mengabaikanku seperti sam pah. Sekarang aku sedang menyiapkan bom yang akan aku lemparkan pada kalian saat waktunya tiba. Tunggu saja. *** “Bu Valerie, akuisisi biro umroh Grand Arafah Travel sudah berhasil. Saya sudah kirimkan lampiran dokumennya via email,” ujar Pak Bobby dari ujung telepon—asisten pribadi Papa—yang sekarang sudah resmi jadi asisten pribadiku. “Saya juga sudah mengirim lampiran daftar nama orang-orang yang dibiay a I umroh oleh Bapak Yunus.” Aku tersenyum. “Terima kasih, Pak. Nanti saya cek emailnya.” Setelah itu aku menutup panggilan dan membuka aplikasi emailku, lalu membuka attach email yang dikirimkan oleh Pak Bobby. Ternyata ada delapan orang yang dibi a yai Mas Yunus, dengan total 185 j u ta rupiah. Aku melihat daftarnya dan menemukan nama Mas Yunus, ibu mertua, papa mertua, Dita, Mbak Hilda, Mbak Lina dan juga… sebuah nama asing—Amanda Lestari. Keningku berkerut. Dia itu siapa? Aku ingat nama semua keluarga suamiku mulai dari keluarga inti hingga sepupu-sepupunya. Dan seingatku tidak ada yang namanya Amanda Lestari. Jadi kenapa Mas Yunus turut membiayai dia umroh? Sebuah pemikiran yang tiba-tiba melintas membuat mataku terbelalak. Apa jangan-jangan… Amanda itu… nama selingkuhan Mas Yunus? Tidak. Ini tidak mungkin, kan? Dengan tangan setengah bergetar, aku menelpon Pak Bobby lagi. Tak sampai lima detik panggilan langsung terhubung. Kugi g i t bibir bawahku untuk menahan air mata yang hendak tumpah. “Pak, tolong selidiki wanita bernama Amanda Lestari. Dia masuk ke daftar nama yang dibiaya i umroh suami saya.” “Baik, Bu.” “Tolong secepatnya ya Pak. Kalau bisa sebelum keberangkatan umroh keluarga suami saya,” lanjutku lagi. “Oh iya, satu lagi. Siapkan juga visa umroh dan paspor saya, Pak. Mengenai tanggal keberangkatannya, nanti saya hubungi lagi.” “Baik, Bu Vania.” Setelah panggilan terputus, aku menggenggam ponsel bulukku erat-erat. Bahkan aku saja hanya pakai hape android jadul dengan layar retak selama bertahun-tahun, tapi suamiku malah menghabiskan seluruh tabu n gan kami untuk mengumrohkan keluarga besarnya. Siap-siap saja, Mas. Balasanku akan lebih pedih dari ini. Terutama jika Amanda Lestari adalah wanita simp a nanmu. BACA KISAH SELENGKAPNYA DI APLIKAS I KBM APP YAA JUDUL : PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN AUTHOR : INDAAHNS

About