@jv_baby1989: #OOTD oh I’m starting to look good again okay period!!!!!!

𝕁𝕍 𝔹𝔸𝔹𝕐 💎🫧
𝕁𝕍 𝔹𝔸𝔹𝕐 💎🫧
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 27 May 2026 16:02:39 GMT
1208
256
30
1

Music

Download

Comments

jayblack1972
JAY :
I hear you and see you love 💕 you look great and I’m sorry you’re going through it. I recently also got laid off a week ago after five years. Life is a little rough but we will prosper. Thank you for sharing. 🥰
2026-05-28 13:26:52
0
olivia_a95
Liv💛 :
You always look good mama 😘🩷
2026-05-29 09:50:28
1
frankcee87
frankcee :
looking good 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-05-27 16:06:41
0
derek.lampkin1
Derek Lampkin :
dammmm girl lov your look!!!!😋😋😋
2026-05-28 20:23:16
0
nelsontroy7
nelsontroy7 :
Lovely
2026-06-11 03:07:48
0
jaysonsmith2715
Jaysonsmithx :
You always looking good
2026-06-08 01:47:31
0
jeff.johnson138
Jeff Johnson :
daaaaammnn ❤️❤️
2026-05-27 16:49:33
0
houstontexans4l
RED BOY QUINCY :
sorry I was distracted you was saying something about investing 😳
2026-05-27 17:02:04
1
grass_master72
Bread_pitt72 :
2026-05-27 16:21:39
0
skylarb.0928
Sky🌊 :
LOVE THAT SHIRT😍😍😍
2026-05-27 17:14:54
0
user4016123729861
chukselect :
cute
2026-05-27 16:06:45
0
emekaigboke01
Joseph :
you are so beautiful 😍😍
2026-05-27 16:51:45
0
skylarb.0928
Sky🌊 :
2026-05-27 17:14:41
0
bobbyc128
bobbyc128❌️ :
Ms. Thick'em....everything will work its self out.
2026-05-28 07:54:39
0
dynwqsn24t8u
ÊÛÃĦ ŁǏFĚŘ🦅‼️ :
❤️❤️🌹🌹
2026-05-27 17:30:56
1
fred.thomas05
Freddy Gray 103$ :
😍😍😍
2026-05-28 14:37:03
0
roowood03
Roowood03 :
😍😍😍
2026-05-27 19:13:59
0
mamba2582
Mamba24 :
🔥🔥🔥🔥
2026-05-28 00:21:55
0
austinkountrykane
SouthCarolinaKountryKane/GABOY :
❤️❤️❤️
2026-05-28 00:21:04
0
staypositive470
🫶🏽LOWKEY-1💧🫶🏽 :
🥰🥰🥰
2026-05-27 19:28:45
0
mr.get2knome
Mr.Unanimous😎 :
😍😍😍
2026-05-27 21:26:48
0
johnathonwilliam9
✔️ JOHNATHON 💛💚💙🖤 :
❤️❤️❤️
2026-05-28 13:20:48
0
user5887718775121
joe Wesakania :
❤️❤️❤️
2026-05-27 19:10:12
0
busamanz
CEO..THE BEAST :
😊😊😊
2026-05-27 18:17:34
0
mike.savage4
Mike Savage :
😍😍😍
2026-05-27 16:05:52
0
To see more videos from user @jv_baby1989, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Aku Hanya Anak Pembantu… Tapi Allah Mengangkat Derajat Anak-Anakku” Namaku Anita. Sejak kecil aku tinggal di rumah besar milik Pak Gunawan. Ayahku bekerja sebagai sopir pribadi beliau, sedangkan ibuku menjadi pembantu rumah tangga. Kami memang hanya orang kecil… tapi Pak Gunawan dan istrinya memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Aku tumbuh bersama anak-anak mereka. Makan bersama, tertawa bersama… sampai aku lupa kalau sebenarnya kami hanyalah orang numpang hidup. Namun hidup tidak pernah benar-benar lembut pada orang miskin. Saat usiaku 17 tahun, dunia runtuh dalam satu malam. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan ketika pulang membeli kebutuhan rumah majikan. Sejak hari itu… aku menjadi yatim piatu. Aku masih ingat bagaimana aku menangis di sudut rumah sambil memeluk pakaian ibu yang masih berbau sabun cuci. Aku takut… takut dibuang, takut menjadi beban. Tapi Pak Gunawan dan istrinya memelukku sambil berkata, “Mulai hari ini kamu anak kami juga.” Kalimat itu membuatku bertahan hidup. Dua tahun kemudian, cobaan datang lagi. Pak Gunawan jatuh sakit dan meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas terakhir, beliau menggenggam tanganku dan berkata pada anak lelakinya, Bram… “Jaga Anita… nikahi dia… jangan biarkan dia sendirian.” Aku menangis saat itu. Bukan karena cinta… tapi karena hutang budi yang begitu besar. Dan akhirnya aku menerima Bram sebagai suamiku dengan ikhlas. Awalnya rumah tangga kami sederhana tapi bahagia. Aku melahirkan empat anak. Hidup kami tidak mewah, tapi aku selalu bersyukur. Aku menjadi istri yang patuh, ibu yang menjaga rumah, dan menantu yang menghormati keluarga suami. Namun kebahagiaan itu perlahan hancur… setelah ibu mertua perempuan yang paling menyayangiku meninggal dunia. Sejak saat itu Bram berubah. Ia mulai pulang larut malam. Mudah marah. Bahkan sering menghina asal-usulku. “Aku malu punya istri anak pembantu!” bentaknya suatu malam. Hatiku seperti disayat. Lelaki yang dulu kupanggil suami… kini memandangku seperti sampah. Sampai akhirnya aku mengetahui semuanya. Ia ingin menikahi mantan kekasihnya… wanita berpendidikan tinggi, kaya, dan dianggap lebih pantas mendampinginya dibanding aku yang hanya anak sopir dan pembantu. Dan malam itu… hujan turun sangat deras ketika Bram mengusirku. Aku masih ingat anak-anakku menangis ketakutan sambil memegang bajuku. “Pergi dari rumah ini! Bawa anak-anakmu sekalian!” Tak ada yang lebih menyakitkan daripada diusir oleh orang yang selama 13 tahun kita layani dengan cinta. Aku pergi… tanpa membawa harga diri yang tersisa. Tapi Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan hamba-Nya. Aku teringat sebuah amplop pemberian almarhum mertua laki-lakiku. Uang itu selama bertahun-tahun kusimpan rapi dan tak pernah kugunakan sedikit pun. Dengan uang itulah aku membawa anak-anakku pulang ke kampung nenekku… tempat yang bahkan suamiku tidak pernah tahu keberadaannya. Di sanalah aku memulai hidup dari nol. Aku berjualan kecil-kecilan. Pagi memasak, siang berdagang, malam menjahit sambil menahan kantuk. Sering kali aku menangis diam-diam saat anak-anak tidur. Bukan karena lelah… Tapi karena takut anak-anakku tumbuh dengan luka dan kebencian. Aku selalu berkata pada mereka… “Jangan balas hinaan dengan dendam. Balaslah dengan keberhasilan.” Dan Allah mendengar doa seorang ibu yang terluka. Satu per satu anakku tumbuh menjadi kebanggaan.   Orang-orang yang dulu merendahkan kami… kini datang hanya untuk melihat keberhasilan anak-anakku. Tapi bagian paling mengejutkan terjadi 20 tahun setelah pengusiran itu. Suatu sore, seorang lelaki tua berdiri di depan rumah kami. Tubuhnya kurus. Rambutnya memutih. Matanya penuh penyesalan. Dia adalah Bram. Lelaki yang dulu mengusir kami seperti pengemis. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anita… maafkan aku. Aku ingin kembali bersama kalian.” Anak-anakku diam. #fyp  #kisahsedih  #perjalananhidup  #pengorbananiklas  #penyesalandanairmata
“Aku Hanya Anak Pembantu… Tapi Allah Mengangkat Derajat Anak-Anakku” Namaku Anita. Sejak kecil aku tinggal di rumah besar milik Pak Gunawan. Ayahku bekerja sebagai sopir pribadi beliau, sedangkan ibuku menjadi pembantu rumah tangga. Kami memang hanya orang kecil… tapi Pak Gunawan dan istrinya memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Aku tumbuh bersama anak-anak mereka. Makan bersama, tertawa bersama… sampai aku lupa kalau sebenarnya kami hanyalah orang numpang hidup. Namun hidup tidak pernah benar-benar lembut pada orang miskin. Saat usiaku 17 tahun, dunia runtuh dalam satu malam. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan ketika pulang membeli kebutuhan rumah majikan. Sejak hari itu… aku menjadi yatim piatu. Aku masih ingat bagaimana aku menangis di sudut rumah sambil memeluk pakaian ibu yang masih berbau sabun cuci. Aku takut… takut dibuang, takut menjadi beban. Tapi Pak Gunawan dan istrinya memelukku sambil berkata, “Mulai hari ini kamu anak kami juga.” Kalimat itu membuatku bertahan hidup. Dua tahun kemudian, cobaan datang lagi. Pak Gunawan jatuh sakit dan meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas terakhir, beliau menggenggam tanganku dan berkata pada anak lelakinya, Bram… “Jaga Anita… nikahi dia… jangan biarkan dia sendirian.” Aku menangis saat itu. Bukan karena cinta… tapi karena hutang budi yang begitu besar. Dan akhirnya aku menerima Bram sebagai suamiku dengan ikhlas. Awalnya rumah tangga kami sederhana tapi bahagia. Aku melahirkan empat anak. Hidup kami tidak mewah, tapi aku selalu bersyukur. Aku menjadi istri yang patuh, ibu yang menjaga rumah, dan menantu yang menghormati keluarga suami. Namun kebahagiaan itu perlahan hancur… setelah ibu mertua perempuan yang paling menyayangiku meninggal dunia. Sejak saat itu Bram berubah. Ia mulai pulang larut malam. Mudah marah. Bahkan sering menghina asal-usulku. “Aku malu punya istri anak pembantu!” bentaknya suatu malam. Hatiku seperti disayat. Lelaki yang dulu kupanggil suami… kini memandangku seperti sampah. Sampai akhirnya aku mengetahui semuanya. Ia ingin menikahi mantan kekasihnya… wanita berpendidikan tinggi, kaya, dan dianggap lebih pantas mendampinginya dibanding aku yang hanya anak sopir dan pembantu. Dan malam itu… hujan turun sangat deras ketika Bram mengusirku. Aku masih ingat anak-anakku menangis ketakutan sambil memegang bajuku. “Pergi dari rumah ini! Bawa anak-anakmu sekalian!” Tak ada yang lebih menyakitkan daripada diusir oleh orang yang selama 13 tahun kita layani dengan cinta. Aku pergi… tanpa membawa harga diri yang tersisa. Tapi Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan hamba-Nya. Aku teringat sebuah amplop pemberian almarhum mertua laki-lakiku. Uang itu selama bertahun-tahun kusimpan rapi dan tak pernah kugunakan sedikit pun. Dengan uang itulah aku membawa anak-anakku pulang ke kampung nenekku… tempat yang bahkan suamiku tidak pernah tahu keberadaannya. Di sanalah aku memulai hidup dari nol. Aku berjualan kecil-kecilan. Pagi memasak, siang berdagang, malam menjahit sambil menahan kantuk. Sering kali aku menangis diam-diam saat anak-anak tidur. Bukan karena lelah… Tapi karena takut anak-anakku tumbuh dengan luka dan kebencian. Aku selalu berkata pada mereka… “Jangan balas hinaan dengan dendam. Balaslah dengan keberhasilan.” Dan Allah mendengar doa seorang ibu yang terluka. Satu per satu anakku tumbuh menjadi kebanggaan. Orang-orang yang dulu merendahkan kami… kini datang hanya untuk melihat keberhasilan anak-anakku. Tapi bagian paling mengejutkan terjadi 20 tahun setelah pengusiran itu. Suatu sore, seorang lelaki tua berdiri di depan rumah kami. Tubuhnya kurus. Rambutnya memutih. Matanya penuh penyesalan. Dia adalah Bram. Lelaki yang dulu mengusir kami seperti pengemis. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anita… maafkan aku. Aku ingin kembali bersama kalian.” Anak-anakku diam. #fyp #kisahsedih #perjalananhidup #pengorbananiklas #penyesalandanairmata

About