@parisqlkv4y: "A PLUMBER?YOU'LL DISGRACE THISENTIRE FAMILY.MOMSLAMMED DOWN THE PHONE.MY SISTER LAUGHED: "I'DRATHER MISS MY OWN FUNERAL.NOT ONE OF THEM CAME.I FIXED MY VEIL. SMILEDWALKED TOWARD THE ALTAR.3 DAYS LATER, HIS FACEWAS ON EVERY CHANNEL.97 MISSED CALLS.part3…

FamilyChronicles
FamilyChronicles
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 28 May 2026 02:35:37 GMT
1573
40
1
3

Music

Download

Comments

sauerk01
Kristy Sauer :
🥰🥰🥰
2026-05-28 02:57:21
0
To see more videos from user @parisqlkv4y, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Akar permasalahannya sebetulnya sederhana: tidak mengenal. Saat kita mengenal seseorang dengan baik, katakanlah seseorang itu adalah orang tua kita, maka kita pasti secara otomatis, tanpa dipaksa, akan mempersepsikan “yang baik-baik” tentang orang tua kita.  Kondisi ini akan tercermin ketika kita memiliki suatu keinginan lalu kita sampaikan keinginan tersebut pada orang tua kita.  Orang tua kita bisa saja menolak.  Namun karena kita mengenal orang tua kita sebagai sosok yang bijaksana dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita, kita tidak akan bersedih hati ataupun kecewa apabila orang tua kita menolak permintaan kita. Bahkan kita pun yakin bahwa orang tua kita pasti akan memberikan kita ganti yang lebih baik daripada apa yang kita inginkan.  Itu semua bisa terjadi karena kita mengenal dengan baik orang tua kita.  Tapi apa yang terjadi jika kita tidak pernah benar-benar mengenal seseorang dengan baik? Kita tidak bernah bersaksi akan kehadirannya dan hanya mendengar kesaksian dari orang lain?  Kita tentu sulit untuk bisa 100% percaya. Masih ada sedikit ragu-ragu di hati kita. Maka sebelum kita menanamkan prasangka kepada-Nya, kenalilah terlebih dahulu Dia yang hendak kita prasangkakan. Karena ketika kita mengenal Dia seutuhnya, tidak hanya sebagai Yang Maha Pemberi, namun juga Yang Maha Bijaksana, bahkan Yang Maha Hidup. Disitu kita baru akan mengerti bahwa prasangka seorang hamba terhadap-Nya tidak akan mengubah-Nya, namun mengubah hati hamba yang sungguh-sungguh ingin mengenal dan berjalan bersama-Nya.
Akar permasalahannya sebetulnya sederhana: tidak mengenal. Saat kita mengenal seseorang dengan baik, katakanlah seseorang itu adalah orang tua kita, maka kita pasti secara otomatis, tanpa dipaksa, akan mempersepsikan “yang baik-baik” tentang orang tua kita. Kondisi ini akan tercermin ketika kita memiliki suatu keinginan lalu kita sampaikan keinginan tersebut pada orang tua kita. Orang tua kita bisa saja menolak. Namun karena kita mengenal orang tua kita sebagai sosok yang bijaksana dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita, kita tidak akan bersedih hati ataupun kecewa apabila orang tua kita menolak permintaan kita. Bahkan kita pun yakin bahwa orang tua kita pasti akan memberikan kita ganti yang lebih baik daripada apa yang kita inginkan. Itu semua bisa terjadi karena kita mengenal dengan baik orang tua kita. Tapi apa yang terjadi jika kita tidak pernah benar-benar mengenal seseorang dengan baik? Kita tidak bernah bersaksi akan kehadirannya dan hanya mendengar kesaksian dari orang lain? Kita tentu sulit untuk bisa 100% percaya. Masih ada sedikit ragu-ragu di hati kita. Maka sebelum kita menanamkan prasangka kepada-Nya, kenalilah terlebih dahulu Dia yang hendak kita prasangkakan. Karena ketika kita mengenal Dia seutuhnya, tidak hanya sebagai Yang Maha Pemberi, namun juga Yang Maha Bijaksana, bahkan Yang Maha Hidup. Disitu kita baru akan mengerti bahwa prasangka seorang hamba terhadap-Nya tidak akan mengubah-Nya, namun mengubah hati hamba yang sungguh-sungguh ingin mengenal dan berjalan bersama-Nya.

About