@el.mangaka.online: ‎Aprende a dibujar anime y manga ✍️🔥 Entra a mi perfil y accede al link para empezar bien desde hoy 🚀 #practica #howtodraw #manga #dibujoanime #animetiktok

El Mangaka🎨
El Mangaka🎨
Open In TikTok:
Region: EC
Thursday 28 May 2026 06:50:13 GMT
618711
44202
184
1940

Music

Download

Comments

poliosvi123
poli machista :
we me sale todo menos el cabello
2026-06-03 20:56:51
2126
.david_rodriguezz
David :
yo empiezo por los ojos aiajaja y creo que no lo hago tan mal xD
2026-08-10 01:12:37
3
ricardodejesus409
el señol :
yo nunca aprendí a dibujar con boceto, así que nada más dibujo solo por dibujar.
2026-08-19 19:50:23
1
papupro___
Nosequeponer :
si tan solo el video me hubiera aparecido antes🥀
2026-06-06 03:32:55
579
charolita45
🤟 Charoncharolitadecharol🤟 :
Yo primero hago todos los detalles y al último el pelo 😔🤟
2026-06-13 14:46:28
10
david.hernndez470
Dibujante Con Talento :
y que tal lo hago sin eso
2026-06-08 15:02:16
33
ooomggg_888
TE SIENTES MAS ONICHAN QUE YO? :
gracias a estos vídeos pude mejorar mi dibujo toma:
2026-06-06 14:36:42
2
laylon467
chamoi :
la que dibujo es de chainsaw man
2026-06-07 15:28:19
39
namesix456
⁎ˑ𖦹. 𝒦𝒶𝒾𝓈ℯ𝓇 .٠✶ :
quiero aprender a dibujar este personaje y más personajes
2026-06-07 02:19:50
52
angel.th72
Angel T :
yo empiezo por los ojos luego el cabello y luego el rostro así se me ase más fácil
2026-06-05 17:56:59
12
caraefrijol_
LORD 9 :
yo no me complico la vida yo solo dibujo con 99% de fe en que salga bien
2026-06-08 05:39:06
8
purin_uw
purin_uw :
yo siempre me gusta empezar por los ojos
2026-06-10 09:52:07
30
n.i.c.o196
†⠄⠐•✞ 𝐌𝐢𝐤𝐚 ✞⠄⠐•†🩸 :
porque solo me sale masculino y no femenino
2026-07-16 17:01:09
2
elemental72642
Elemental7264 :
yo sin entender ni mrd
2026-06-07 23:31:07
7
lunita.camila118
Lun4-solitaria💔🥀 :
el mío está bien?
2026-06-14 19:31:32
6
emi.remn__
Emi.remn__ :
Yo hize primero la cara y luego el cabello
2026-06-11 05:30:22
3
rovyxlustt
♱ :
que opinan?
2026-07-05 14:50:16
5
leeminho_htz
leeminho :
2026-06-05 10:41:44
8
ozitoperu16
ozito peru :
KOBENIII
2026-05-30 04:48:49
6
salchichapapa02
salchichapapa :
a mi no me sale la nariz 😔
2026-06-15 01:11:26
0
nose22117
nose :
que opinan?
2026-07-04 20:50:37
1
ema.manbo
𝕬𝖑𝖇𝖊𝖉𝖔 :
así esta bien
2026-07-20 00:08:10
1
julio.torres0390
Julio Torres :
ya me quiero ir
2026-06-06 05:01:27
6
dirvsjs_2
Divare :
cubo>>>>
2026-06-06 06:56:56
0
To see more videos from user @el.mangaka.online, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Renungan 20-5-26  : *DIBENTUK DI TEMPAT TERSEMBUNYI & SEDERHANA*      Dalam kehidupan, sering kali tanpa sadar kita mengukur nilai diri dari orang lain. Kita cenderung menilai keberhasilan seseorang dari popularitasnya. Semakin menjadi pusat perhatian, maka semakin merasa “penting”. Tidak heran jika banyak orang mengejar tempat, posisi, dan kesempatan yang membuat mereka “terlihat beda”.      Namun, cara Tuhan bekerja sering kali sangat berbeda. Matius 2:23 mencatat bahwa Yesus tinggal di sebuah kota bernama Nazaret. Kota ini jauh dari kriteria “penting”. Alih-alih memilih Yerusalem yang merupakan pusat agama, keluarga Yesus justru tinggal di kota yang bereputasi kurang baik. Bahkan dalam Yohanes 1:46, Natanael pernah merespons dengan skeptis: *“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”* Justru di tempat itulah Yesus dibesarkan. Ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari cara Allah membentuk kehidupan-Nya. Yesus tidak langsung tampil di muka umum. Tidak ada panggung, jauh dari sorotan dan pengakuan publik selama bertahun-tahun. Ia menjalani kehidupan yang sederhana, tersembunyi, dan tampaknya biasa saja.      Dari hal ini kita belajar satu kebenaran penting: *Tuhan sering membentuk kehidupan yang besar di tempat tersembunyi dan sederhana.* Tidak sedikit orang yang ingin dipakai Tuhan secara nyata—melayani, berdampak, dikenal. Namun sering kali mereka lupa bahwa sebelum dipakai, seseorang harus terlebih dahulu dibentuk. Dan proses pembentukan itu hampir selalu terjadi jauh dari sorotan.      Menariknya, Matius menegaskan bahwa menetapnya Yesus di kota kecil itu bukanlah sekadar strategi bersembunyi dari ancaman Arkhelaus, melainkan untuk menggenapi nubuat para nabi: *“Ia akan disebut Orang Nazaret.”* *Secara harfiah, tidak ada satu ayat spesifik di Perjanjian Lama yang berbunyi demikian, namun para ahli tafsir merujuk pada kata  (Ibr netzer) yang berarti “tunas”.*      Nabi Yesaya menubuatkan seorang “tunas” akan tumbuh dari tunggul Isai (Yes. 11:1). Sebuah tunas sering kali muncul dari akar yang terpendam di dalam tanah yang gelap dan sunyi. Sebelum tunas itu menjadi pohon yang kokoh dan memberikan keteduhan bagi banyak orang, ia harus bertumbuh dalam kesendirian di bawah permukaan tanah. Status sebagai *“Orang Nazaret”* bukan sekadar label geografis, melainkan simbol kerendahan hati. Tuhan sengaja memilih identitas yang dianggap rendah oleh dunia untuk menyatakan otoritas-Nya yang tertinggi.      Masalahnya, tidak semua orang mau bertahan di sana. Banyak orang menginginkan hasil, tetapi menghindari proses. Padahal, justru di tempat tersembunyi Tuhan sedang membentuk sesuatu yang tidak dapat dihasilkan secara instan. Ada beberapa *alasan mengapa periode “Nazaret” begitu krusial.*   - Pertama, *pemurnian motivasi.* Di tempat yang tidak ada tepuk tangan, kita dipaksa bertanya pada diri sendiri: “Untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?” Tanpa penonton, motivasi kita dimurnikan hingga hanya tersisa pengabdian kepada Tuhan.  - Kedua, *pertumbuhan akar.* Semakin tinggi sebuah bangunan, semakin dalam fondasi yang dibutuhkan. Begitu pula dengan karakter. Kekuatan karakter tidak dibangun di atas panggung, melainkan di balik layar—saat tidak ada orang yang melihat.  -Ketiga, *ketaatan dalam perkara kecil.* Yesus menghabiskan tiga dekade di Nazaret untuk hal-hal yang dianggap “remeh-temeh”: bekerja sebagai tukang kayu dan membantu orang tua-Nya. Ia setia dalam “ketidakpentingan” sebelum akhirnya menerima “kemuliaan”. Ketika firman nubuat “Orang Nazaret” digenapi, itu adalah pengingat bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menempatkan kita. Mungkin saat ini kita merasa berada di “Nazaret” versi masing-masing—sebuah posisi yang tidak dihargai, pekerjaan yang tampak sepele, atau pelayanan yang tidak pernah mendapat apresiasi. Jangan berkecil hati. Ingatlah bahwa keberadaan kita di tempat tersembunyi itu bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah persiapan create: chd #renunganharian #firmantuhan #creatorsearchinsight
Renungan 20-5-26 : *DIBENTUK DI TEMPAT TERSEMBUNYI & SEDERHANA* Dalam kehidupan, sering kali tanpa sadar kita mengukur nilai diri dari orang lain. Kita cenderung menilai keberhasilan seseorang dari popularitasnya. Semakin menjadi pusat perhatian, maka semakin merasa “penting”. Tidak heran jika banyak orang mengejar tempat, posisi, dan kesempatan yang membuat mereka “terlihat beda”. Namun, cara Tuhan bekerja sering kali sangat berbeda. Matius 2:23 mencatat bahwa Yesus tinggal di sebuah kota bernama Nazaret. Kota ini jauh dari kriteria “penting”. Alih-alih memilih Yerusalem yang merupakan pusat agama, keluarga Yesus justru tinggal di kota yang bereputasi kurang baik. Bahkan dalam Yohanes 1:46, Natanael pernah merespons dengan skeptis: *“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”* Justru di tempat itulah Yesus dibesarkan. Ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari cara Allah membentuk kehidupan-Nya. Yesus tidak langsung tampil di muka umum. Tidak ada panggung, jauh dari sorotan dan pengakuan publik selama bertahun-tahun. Ia menjalani kehidupan yang sederhana, tersembunyi, dan tampaknya biasa saja. Dari hal ini kita belajar satu kebenaran penting: *Tuhan sering membentuk kehidupan yang besar di tempat tersembunyi dan sederhana.* Tidak sedikit orang yang ingin dipakai Tuhan secara nyata—melayani, berdampak, dikenal. Namun sering kali mereka lupa bahwa sebelum dipakai, seseorang harus terlebih dahulu dibentuk. Dan proses pembentukan itu hampir selalu terjadi jauh dari sorotan. Menariknya, Matius menegaskan bahwa menetapnya Yesus di kota kecil itu bukanlah sekadar strategi bersembunyi dari ancaman Arkhelaus, melainkan untuk menggenapi nubuat para nabi: *“Ia akan disebut Orang Nazaret.”* *Secara harfiah, tidak ada satu ayat spesifik di Perjanjian Lama yang berbunyi demikian, namun para ahli tafsir merujuk pada kata (Ibr netzer) yang berarti “tunas”.* Nabi Yesaya menubuatkan seorang “tunas” akan tumbuh dari tunggul Isai (Yes. 11:1). Sebuah tunas sering kali muncul dari akar yang terpendam di dalam tanah yang gelap dan sunyi. Sebelum tunas itu menjadi pohon yang kokoh dan memberikan keteduhan bagi banyak orang, ia harus bertumbuh dalam kesendirian di bawah permukaan tanah. Status sebagai *“Orang Nazaret”* bukan sekadar label geografis, melainkan simbol kerendahan hati. Tuhan sengaja memilih identitas yang dianggap rendah oleh dunia untuk menyatakan otoritas-Nya yang tertinggi. Masalahnya, tidak semua orang mau bertahan di sana. Banyak orang menginginkan hasil, tetapi menghindari proses. Padahal, justru di tempat tersembunyi Tuhan sedang membentuk sesuatu yang tidak dapat dihasilkan secara instan. Ada beberapa *alasan mengapa periode “Nazaret” begitu krusial.* - Pertama, *pemurnian motivasi.* Di tempat yang tidak ada tepuk tangan, kita dipaksa bertanya pada diri sendiri: “Untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?” Tanpa penonton, motivasi kita dimurnikan hingga hanya tersisa pengabdian kepada Tuhan. - Kedua, *pertumbuhan akar.* Semakin tinggi sebuah bangunan, semakin dalam fondasi yang dibutuhkan. Begitu pula dengan karakter. Kekuatan karakter tidak dibangun di atas panggung, melainkan di balik layar—saat tidak ada orang yang melihat. -Ketiga, *ketaatan dalam perkara kecil.* Yesus menghabiskan tiga dekade di Nazaret untuk hal-hal yang dianggap “remeh-temeh”: bekerja sebagai tukang kayu dan membantu orang tua-Nya. Ia setia dalam “ketidakpentingan” sebelum akhirnya menerima “kemuliaan”. Ketika firman nubuat “Orang Nazaret” digenapi, itu adalah pengingat bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menempatkan kita. Mungkin saat ini kita merasa berada di “Nazaret” versi masing-masing—sebuah posisi yang tidak dihargai, pekerjaan yang tampak sepele, atau pelayanan yang tidak pernah mendapat apresiasi. Jangan berkecil hati. Ingatlah bahwa keberadaan kita di tempat tersembunyi itu bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah persiapan create: chd #renunganharian #firmantuhan #creatorsearchinsight

About