@sssr_ai: #сссрвспомним #СССР #рекомендации

СССР ИИ
СССР ИИ
Open In TikTok:
Region: CH
Thursday 28 May 2026 10:37:35 GMT
69952
5137
63
287

Music

Download

Comments

_rh_7777
YeRaZ R.H 👑 :
И ни разу не вставил Ленке да ? 😁 Не поверю😁
2026-06-01 19:35:24
985
poland_2k10
🇵🇱 POLAND🇵🇱 :
ИИ делает ИИ 😨
2026-06-23 20:15:00
63
virgil3341
Николай II :
эта не ориг аккаунт?
2026-06-04 11:48:43
60
67brigada_tck
67 бригада ТЦК [🇺🇦🪓🟩] :
2026-06-05 01:12:08
7
fagchik
poezdik :
а где черемша?
2026-06-12 21:04:49
10
nontuiw4
Nontuiw :
ии в ии?
2026-06-05 18:30:00
17
jr.son.of.beast
🔥Великий лорд огня Озай🔥 :
неужели нам рассказали историю этих видео,ю
2026-06-05 18:42:43
18
ponos_sbeboba
обрыган :
Так вот оно как
2026-06-03 05:59:01
7
user2916738790768
бобик469 :
черемша
2026-06-05 21:15:33
0
vadyscha19
Вадuќ АпAchый :
Ии в Ии?
2026-06-20 21:45:14
0
kikbadi
🥶 :
было дело , помню
2026-05-28 18:32:04
4
timix81
☢️urbex uzh tm☢️🚭 :
Ии в ии
2026-06-21 18:21:44
0
bilal_03424
°_° :
Хахахаха
2026-06-13 07:40:41
0
67brigada_tck
67 бригада ТЦК [🇺🇦🪓🟩] :
не канон
2026-06-05 01:13:44
1
philippus09
🔥🦂Scorpion🦂🔥 :
у нас в то время только фотоаппарат был Вилия 🤣🤣🤣
2026-05-28 10:55:13
6
sergeymilev
sergeymilev :
НЕ ТУ СИГАРЕТУ ДАВАЛ ЛЕНКЕ!😂🤣😂
2026-05-31 08:07:47
8
........angellove
.. :
а Ленка так и курит по две сигареты сразу 😂
2026-05-31 01:54:02
5
user5212636035856
Назар :
опа сполер😏
2026-06-04 09:15:15
1
dyrlhin7klf0
Andrei :
внуки общие?! 🔥😂
2026-06-01 21:30:22
1
user8779318125039
Нурик :
курить научил😁
2026-05-31 03:19:57
2
andrewkachmar9gmail.com
Україна ТОП :
Роби🤣🤣🤣🤣
2026-06-02 19:15:18
0
To see more videos from user @sssr_ai, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Langit Yaman masih sama. Matahari tetap membakar padang pasir. Angin masih membawa debu yang beterbangan. Namun di sebuah rumah yang sangat sederhana, ada seorang ibu renta yang hanya mampu memandang dunia dari tempat tidurnya. Kakinya tak lagi sanggup melangkah. Tubuhnya semakin lemah. Usianya telah merampas tenaga yang dulu ia gunakan untuk menggendong anak kecil bernama Uwais. Anak yang dahulu menangis di pelukannya, kini hanya bisa melihat ibunya menahan air mata setiap kali mendengar orang-orang berangkat menuju Baitullah. Suatu hari, dengan suara yang hampir tak terdengar, sang ibu berbisik,
Langit Yaman masih sama. Matahari tetap membakar padang pasir. Angin masih membawa debu yang beterbangan. Namun di sebuah rumah yang sangat sederhana, ada seorang ibu renta yang hanya mampu memandang dunia dari tempat tidurnya. Kakinya tak lagi sanggup melangkah. Tubuhnya semakin lemah. Usianya telah merampas tenaga yang dulu ia gunakan untuk menggendong anak kecil bernama Uwais. Anak yang dahulu menangis di pelukannya, kini hanya bisa melihat ibunya menahan air mata setiap kali mendengar orang-orang berangkat menuju Baitullah. Suatu hari, dengan suara yang hampir tak terdengar, sang ibu berbisik, "Anakku... seumur hidup ibu hanya memiliki satu keinginan yang belum sempat Allah kabulkan." Uwais menggenggam tangan ibunya. "Apa itu, Ibu?" "Ibu ingin melihat Ka'bah... walau hanya sekali sebelum Allah memanggil ibu pulang." Hening. Tak ada jawaban. Bukan karena Uwais tak ingin. Tetapi karena ia tahu, mereka tidak memiliki apa-apa. Tak ada unta. Tak ada harta. Tak ada kendaraan. Yang ada hanyalah seorang anak miskin dan seorang ibu yang mulai dimakan usia. Malam itu... Uwais menangis diam-diam. Bukan menangisi kemiskinan. Tetapi karena takut tak mampu mewujudkan impian perempuan yang telah mempertaruhkan nyawanya saat melahirkannya. Esok paginya, orang-orang melihat sesuatu yang aneh. Uwais membeli seekor anak lembu. Setiap pagi ia menggendongnya naik ke puncak bukit. Menjelang sore, ia menggendongnya turun kembali. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Anak lembu itu semakin berat. Begitu pula beban di pundaknya. Orang-orang menertawakannya. "Kasihan... Uwais sudah kehilangan akal." Mereka hanya melihat seekor lembu. Mereka tidak melihat, bahwa setiap langkah Uwais adalah latihan untuk menggendong ibunya menuju rumah Allah. Ia rela ditertawakan manusia, asalkan tidak mengecewakan perempuan yang selama ini tak pernah lelah mendoakannya. Musim haji pun tiba. Anak lembu itu telah besar. Begitu pula tekad di hati Uwais. Dengan kedua pundaknya, ia mengangkat tubuh ibunya. Perjalanan dari Yaman menuju Makkah bukan perjalanan sehari. Siang hari, matahari membakar kulit. Malam hari, dingin menusuk hingga tulang. Jalan berbatu melukai kaki. Bahu Uwais memerah. Punggungnya penuh luka. Napasnya berkali-kali tersengal. Namun setiap kali tubuhnya hampir roboh, ia hanya mendengar satu suara yang membuatnya kembali kuat. Suara lirih ibunya yang berkata, "Capek ya, Nak..." Dan Uwais hanya tersenyum. "Tidak, Ibu... selama Ibu masih di pundakku, aku baik-baik saja." Entah berapa kali air mata jatuh di sepanjang perjalanan itu. Air mata yang tak pernah ingin dilihat ibunya. Karena Uwais tidak ingin ibunya merasa menjadi beban. Sesampainya di Makkah, ia tetap menggendong ibunya mengelilingi Ka'bah. Di tengah jutaan manusia yang sibuk membawa doa-doa untuk dirinya, Uwais justru melupakan dirinya sendiri. Yang keluar dari lisannya hanyalah, "Ya Allah... ampunilah ibuku." Seseorang bertanya, "Lalu bagaimana dengan dosamu sendiri?" Uwais menatap ibunya yang mulai tersenyum. Lalu ia menjawab dengan suara yang begitu tenang, "Jika ibuku diampuni dan Allah meridhainya... maka itu telah cukup menjadi harapanku untuk sampai ke surga." Betapa sering kita berkata, "Nanti kalau sudah sukses, aku akan membahagiakan ibu." Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang tahu... Apakah esok masih diberi kesempatan mencium tangannya. Apakah esok masih bisa mendengar suaranya. Atau justru esok kita hanya mampu memeluk pusaranya sambil menangis, "Andai aku punya sedikit waktu lagi..." Karena sesungguhnya, bukan ibu yang membutuhkan bakti kita. Kitalah yang membutuhkan rida seorang ibu untuk menemukan jalan menuju surga. Kalau ibumu masih ada, pulanglah. Peluk tangannya. Sebab ada rindu yang tak selalu sempat menunggu kita. Buku Hikayat Cinta Baginda Nabi, semoga menjadi teman yang menghidupkan cinta kepada Rasulullah ﷺ dan melembutkan hati untuk lebih berbakti kepada kedua orang tua. Sumber: Hikayat Cinta Baginda nabi (Link ditautan reels/dibio no.1)

About