@u.k_111: #foryoupage❤️❤️ #foryou #viral_video #fypp #virale

𝓐🤎
𝓐🤎
Open In TikTok:
Region: GB
Friday 29 May 2026 17:52:02 GMT
25783
1067
30
201

Music

Download

Comments

kchaslemany977
👩‍❤️‍👨♥️🤲🏻 :
Xwaya aw xama nayayt ba kas 🥺
2026-05-31 16:03:12
1
safakurd4
丂4千卂 :
dllakam❤
2026-05-30 08:21:36
1
gully830
gull :
ريك 🥺
2026-06-02 07:23:36
1
rau4a.aa
𝗥𝗮𝗨𝗮🇧🇷’’ :
Dllm♥️
2026-05-29 19:11:13
1
u.k_111
𝓐🤎 :
@For You
2026-05-29 17:53:49
2
ic_7ama01
⁷ 𝐚 ᵐ 𝐚 🖤٫ :
🖤🖤🖤
2026-05-29 18:07:05
0
ahmadqaladzay0
Ahamad🖤 :
🖤🖤🖤
2026-05-29 17:54:17
0
gully830
gull :
🥺🥺
2026-05-31 10:58:37
1
xaannmm.ii
Shlik🍓 :
..
2026-05-31 12:24:16
1
karbin011
🎭_𝙆𝘼𝙍𝘽𝙄𝙉_🎭 :
❤️❤️
2026-05-29 17:55:11
0
s_a_d_e_q3
سدیق البصراوي🚸 :
🖤🖤🖤
2026-05-31 11:10:49
1
vx.rasha33
ArYaS🖤✨ :
♥♥
2026-05-29 18:51:25
0
muhamadrasull7
خاڵۆ حەمە🥺 :
❤️❤️❤️
2026-05-29 18:12:56
0
begalase001
XĂŁǾ🖤 :
❤️❤️❤️
2026-05-30 13:07:57
0
kchasaed0
kcha-saed❤️‍🔥🥀❤️‍🩹 :
🔥🔥🔥🔥🔥
2026-06-07 17:51:17
0
kchasaed0
kcha-saed❤️‍🔥🥀❤️‍🩹 :
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🔥🥹💔💔❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
2026-06-07 17:51:22
0
To see more videos from user @u.k_111, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sunan Gunung Jati :  Wali Songo Pendiri Kesultanan Cirebon Syarif Hidayatullah, yang kelak dikenal luas sebagai Sunan Gunung Jati, lahir di Tanah Suci Mekkah tahun 1448 Masehi, dari pasangan Syarif Abdullah Al‑Hasyimi—bangsawan dan penguasa wilayah Mesir—dengan Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Pajajaran, yang kemudian berganti nama menjadi Syarifah Mudaim setelah masuk Islam. Bersama kakaknya, Pangeran Cakrabuana, Nyai Rara Santang berhaji dan berguru kepada Syekh Bayanillah; di sanalah pertemuan yang mengubah jalannya sejarah Jawa Barat terjadi. Meski berhak mewarisi kekuasaan ayahnya di Timur Tengah, Syarif Hidayatullah memilih menyerahkan tahta kepada adiknya Syarif Nurullah dan berangkat bersama ibunya ke Nusantara untuk menyebarkan ajaran Islam. Sebelum menjejak tanah Cirebon, ia menuntut ilmu secara luas: berguru kepada Syekh Tajudin Al‑Qurthubi di Mekkah, Syekh Muhammad Athaillah Al‑Syadzili di Mesir, lalu ke Pasai, Kudus, hingga Ampeldenta Surabaya di bawah bimbingan Sunan Ampel. Atas anjuran gurunya, ia kemudian ditunjuk untuk meneruskan dakwah Syekh Datuk Kahfi di wilayah Gunung Sembung, Cirebon—tempat yang kelak menjadi pusat syiar Islam di Jawa Barat. Pada tahun 1479 M, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan Cirebon kepada Syarif Hidayatullah, yang kemudian menikah dengan Nyimas Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana. Ia diangkat menjadi pemimpin sekaligus mendapatkan gelar Sunan Gunung Jati, dan mendirikan Kesultanan Cirebon sebagai negara Islam yang merdeka. Ia juga dinobatkan sebagai pemimpin Wali Songo dalam musyawarah di Tuban tahun 1478, memindahkan pusat kegiatan para wali ke wilayah yang kini bernama Kecamatan Gunung Jati. Dalam dakwahnya, Sunan Gunung Jati menerapkan pendekatan lunak dan akulturatif—menggabungkan ajaran Islam dengan kearifan lokal agar mudah diterima masyarakat yang saat itu masih banyak menganut agama Hindu‑Buddha. Ia membangun masjid, pesantren, serta menjalin hubungan persahabatan dan perkawinan dengan penguasa sekitar, termasuk Nyai Kawunganten dari Banten dan Ong Tien—putri Kaisar Ming Tiongkok—yang kemudian berganti nama menjadi Nyai Mas Rara Sumanding. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten lahir Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, yang turut memperluas pengaruh Islam hingga pesisir barat Jawa. Di bawah kepemimpinannya, Cirebon tumbuh menjadi pelabuhan dagang yang ramai dan pusat peradaban Islam yang mempertemukan pedagang dari Arab, India, Tiongkok, dan Eropa. Ia juga berperan penting dalam menggalang kekuatan bersama Kesultanan Demak untuk mengusir pengaruh Portugis dari Sunda Kelapa pada tahun 1527 M. Setelah memimpin lebih dari satu abad, Sunan Gunung Jati wafat pada tanggal 26 Rajab 969 Hijriyah/1568 Masehi di usia 120 tahun. Makamnya kini berada di Komplek Astana Gunung Sembung, Desa Astana, Cirebon Utara, dan menjadi tujuan ziarah umat Islam dari seluruh Indonesia. Hingga kini, jejak ajaran dan kebijaksanaannya masih terasa kuat dalam budaya, seni, dan kehidupan masyarakat Cirebon. Referensi : 1. Pusat Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Proses Islamisasi di Kesultanan Cirebon 1479‑1568. th.2024.pdf 2. Hernawan, W. & Kusdiana, A. (2020). Sunan Gunung Djati: Sang Penata Agama di Tanah Sunda. Cirebon: Pustaka Cirebon. Dikutip dalam Tirto.id, 13 April 2021.  3. Repositori UIN Syekh Nurjati Cirebon. Cirebonologi: Kajian Sejarah dan Budaya. 2022. Buku_Cirebonologi.pdf 4. Aria Carbon. (1972). Purwaka Caruban Nagari. Terjemahan P.S. Sulendraningrat. Jakarta: Bhratara. Sumber naskah asli sejarah Cirebon karya Pangeran Arya Cirebon (1720 M) #fyp  #viral  #foryoupage  #sunangunungjati  #cirebon
Sunan Gunung Jati : Wali Songo Pendiri Kesultanan Cirebon Syarif Hidayatullah, yang kelak dikenal luas sebagai Sunan Gunung Jati, lahir di Tanah Suci Mekkah tahun 1448 Masehi, dari pasangan Syarif Abdullah Al‑Hasyimi—bangsawan dan penguasa wilayah Mesir—dengan Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Pajajaran, yang kemudian berganti nama menjadi Syarifah Mudaim setelah masuk Islam. Bersama kakaknya, Pangeran Cakrabuana, Nyai Rara Santang berhaji dan berguru kepada Syekh Bayanillah; di sanalah pertemuan yang mengubah jalannya sejarah Jawa Barat terjadi. Meski berhak mewarisi kekuasaan ayahnya di Timur Tengah, Syarif Hidayatullah memilih menyerahkan tahta kepada adiknya Syarif Nurullah dan berangkat bersama ibunya ke Nusantara untuk menyebarkan ajaran Islam. Sebelum menjejak tanah Cirebon, ia menuntut ilmu secara luas: berguru kepada Syekh Tajudin Al‑Qurthubi di Mekkah, Syekh Muhammad Athaillah Al‑Syadzili di Mesir, lalu ke Pasai, Kudus, hingga Ampeldenta Surabaya di bawah bimbingan Sunan Ampel. Atas anjuran gurunya, ia kemudian ditunjuk untuk meneruskan dakwah Syekh Datuk Kahfi di wilayah Gunung Sembung, Cirebon—tempat yang kelak menjadi pusat syiar Islam di Jawa Barat. Pada tahun 1479 M, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan Cirebon kepada Syarif Hidayatullah, yang kemudian menikah dengan Nyimas Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana. Ia diangkat menjadi pemimpin sekaligus mendapatkan gelar Sunan Gunung Jati, dan mendirikan Kesultanan Cirebon sebagai negara Islam yang merdeka. Ia juga dinobatkan sebagai pemimpin Wali Songo dalam musyawarah di Tuban tahun 1478, memindahkan pusat kegiatan para wali ke wilayah yang kini bernama Kecamatan Gunung Jati. Dalam dakwahnya, Sunan Gunung Jati menerapkan pendekatan lunak dan akulturatif—menggabungkan ajaran Islam dengan kearifan lokal agar mudah diterima masyarakat yang saat itu masih banyak menganut agama Hindu‑Buddha. Ia membangun masjid, pesantren, serta menjalin hubungan persahabatan dan perkawinan dengan penguasa sekitar, termasuk Nyai Kawunganten dari Banten dan Ong Tien—putri Kaisar Ming Tiongkok—yang kemudian berganti nama menjadi Nyai Mas Rara Sumanding. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten lahir Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, yang turut memperluas pengaruh Islam hingga pesisir barat Jawa. Di bawah kepemimpinannya, Cirebon tumbuh menjadi pelabuhan dagang yang ramai dan pusat peradaban Islam yang mempertemukan pedagang dari Arab, India, Tiongkok, dan Eropa. Ia juga berperan penting dalam menggalang kekuatan bersama Kesultanan Demak untuk mengusir pengaruh Portugis dari Sunda Kelapa pada tahun 1527 M. Setelah memimpin lebih dari satu abad, Sunan Gunung Jati wafat pada tanggal 26 Rajab 969 Hijriyah/1568 Masehi di usia 120 tahun. Makamnya kini berada di Komplek Astana Gunung Sembung, Desa Astana, Cirebon Utara, dan menjadi tujuan ziarah umat Islam dari seluruh Indonesia. Hingga kini, jejak ajaran dan kebijaksanaannya masih terasa kuat dalam budaya, seni, dan kehidupan masyarakat Cirebon. Referensi : 1. Pusat Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Proses Islamisasi di Kesultanan Cirebon 1479‑1568. th.2024.pdf 2. Hernawan, W. & Kusdiana, A. (2020). Sunan Gunung Djati: Sang Penata Agama di Tanah Sunda. Cirebon: Pustaka Cirebon. Dikutip dalam Tirto.id, 13 April 2021. 3. Repositori UIN Syekh Nurjati Cirebon. Cirebonologi: Kajian Sejarah dan Budaya. 2022. Buku_Cirebonologi.pdf 4. Aria Carbon. (1972). Purwaka Caruban Nagari. Terjemahan P.S. Sulendraningrat. Jakarta: Bhratara. Sumber naskah asli sejarah Cirebon karya Pangeran Arya Cirebon (1720 M) #fyp #viral #foryoupage #sunangunungjati #cirebon

About