@hoqiforsile: #promoguncang66 #cyeecare #ginseng #rambut

Nanas🍍
Nanas🍍
Open In TikTok:
Region: ID
Saturday 30 May 2026 12:00:23 GMT
95
0
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @hoqiforsile, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

MERTALAYA: PUTRA SENAPATI BERDARAH MADIUN, PENAKLUK JAWA TIMUR Tahun 1613, Sultan Agung Hanyakrakusuma naik takhta di Mataram. Sejak saat itu, ambisi lama Panembahan Senapati untuk menyatukan Jawa menemukan panggung terbesarnya: penaklukan Brang Wetan. Di balik ekspansi besar itu, muncul satu nama penting: Tumenggung Mertalaya. Ia adalah putra Panembahan Senapati dengan Raden Ayu Retno Dumilah dari Madiun. Dari garis ibunya, Mertalaya terhubung dengan Panembahan Timur Madiun, Sultan Trenggono Demak, hingga Sunan Kalijaga. Mertalaya tidak bergerak sendiri. Ia memiliki saudara seperjuangan, Pangeran Pringgalaya. Keduanya lebih dulu dikenal saat menumpas pemberontakan Pangeran Jayaraga di Panaraga pada masa Susuhunan Hanyakrawati atau Mas Jolang, sekitar awal abad ke-17. Namun nama Mertalaya kemudian tampil paling menonjol dalam perang-perang Mataram di timur Jawa. Tahun 1615, Sultan Agung mengirim pasukan besar menyerbu Wirasaba. Di sana, Mertalaya menghadapi perlawanan Pangeran Aria Wirasaba dan patihnya, Rangga Pramana. Saat pasukan Mataram dilanda wabah pes, Mertalaya menolak mundur. Ia menyamar sebagai pencari rumput untuk memata-matai benteng musuh. Strategi itu berhasil. Wirasaba jatuh. Pangeran Aria dieksekusi. Rangga Pramana gugur. Masih pada 1615, perang besar pecah di Siwalan. Mertalaya berhadapan dengan Adipati Mas Lontang dari Japan, kerabat Madiun sekaligus bagian dari jaringan pesisir Brang Wetan. Desa-desa dibakar. Pasukan musuh terjebak. Siwalan menjadi simbol perang saudara Jawa yang brutal. Setelah itu, jalan Mataram ke timur semakin terbuka. Lasem jatuh pada 1616. Pasuruan runtuh pada 1617. Tuban kemudian menyerah. Satu per satu, kekuatan pesisir Jawa Timur dihancurkan. Kemenangan itu menjadi jalan panjang menuju runtuhnya Surabaya pada 1625, kemenangan terbesar Sultan Agung atas koalisi Brang Wetan. Historiografi Jawa mencatat, kisah Mertalaya bukan sekadar kisah seorang panglima. Ini adalah perang darah, legitimasi, dan dendam sejarah: Mataram pedalaman melawan pewaris Demak di pesisir. Paman melawan keponakan. Saudara melawan saudara. Di balik kejayaan Sultan Agung, berdiri Tumenggung Mertalaya—putra Senapati berdarah Madiun, penakluk Jawa Timur. #SejarahJawa #MataramIslam #SultanAgung #Mertalaya #SejarahIndonesia
MERTALAYA: PUTRA SENAPATI BERDARAH MADIUN, PENAKLUK JAWA TIMUR Tahun 1613, Sultan Agung Hanyakrakusuma naik takhta di Mataram. Sejak saat itu, ambisi lama Panembahan Senapati untuk menyatukan Jawa menemukan panggung terbesarnya: penaklukan Brang Wetan. Di balik ekspansi besar itu, muncul satu nama penting: Tumenggung Mertalaya. Ia adalah putra Panembahan Senapati dengan Raden Ayu Retno Dumilah dari Madiun. Dari garis ibunya, Mertalaya terhubung dengan Panembahan Timur Madiun, Sultan Trenggono Demak, hingga Sunan Kalijaga. Mertalaya tidak bergerak sendiri. Ia memiliki saudara seperjuangan, Pangeran Pringgalaya. Keduanya lebih dulu dikenal saat menumpas pemberontakan Pangeran Jayaraga di Panaraga pada masa Susuhunan Hanyakrawati atau Mas Jolang, sekitar awal abad ke-17. Namun nama Mertalaya kemudian tampil paling menonjol dalam perang-perang Mataram di timur Jawa. Tahun 1615, Sultan Agung mengirim pasukan besar menyerbu Wirasaba. Di sana, Mertalaya menghadapi perlawanan Pangeran Aria Wirasaba dan patihnya, Rangga Pramana. Saat pasukan Mataram dilanda wabah pes, Mertalaya menolak mundur. Ia menyamar sebagai pencari rumput untuk memata-matai benteng musuh. Strategi itu berhasil. Wirasaba jatuh. Pangeran Aria dieksekusi. Rangga Pramana gugur. Masih pada 1615, perang besar pecah di Siwalan. Mertalaya berhadapan dengan Adipati Mas Lontang dari Japan, kerabat Madiun sekaligus bagian dari jaringan pesisir Brang Wetan. Desa-desa dibakar. Pasukan musuh terjebak. Siwalan menjadi simbol perang saudara Jawa yang brutal. Setelah itu, jalan Mataram ke timur semakin terbuka. Lasem jatuh pada 1616. Pasuruan runtuh pada 1617. Tuban kemudian menyerah. Satu per satu, kekuatan pesisir Jawa Timur dihancurkan. Kemenangan itu menjadi jalan panjang menuju runtuhnya Surabaya pada 1625, kemenangan terbesar Sultan Agung atas koalisi Brang Wetan. Historiografi Jawa mencatat, kisah Mertalaya bukan sekadar kisah seorang panglima. Ini adalah perang darah, legitimasi, dan dendam sejarah: Mataram pedalaman melawan pewaris Demak di pesisir. Paman melawan keponakan. Saudara melawan saudara. Di balik kejayaan Sultan Agung, berdiri Tumenggung Mertalaya—putra Senapati berdarah Madiun, penakluk Jawa Timur. #SejarahJawa #MataramIslam #SultanAgung #Mertalaya #SejarahIndonesia

About