@anhduongcloset: #ngocanhreview #quansuongnu

Ngọc Ánh Review
Ngọc Ánh Review
Open In TikTok:
Region: VN
Sunday 31 May 2026 14:08:29 GMT
155
0
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @anhduongcloset, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Madinah siang itu dipenuhi kesibukan. Kaum muslimin menjalani hari-hari mereka dengan semangat pengorbanan. Di antara mereka berdiri seorang lelaki yang dikenal karena ketegasan, keberanian, dan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dialah Umar bin Khattab. Tidak ada yang lebih berharga bagi Umar selain mencari keridhaan Allah. Ketika Islam membutuhkan pengorbanan, ia maju. Ketika kaum muslimin membutuhkan bantuan, ia memberi. Dan ketika kesempatan bersedekah datang, ia tidak ingin menjadi orang yang tertinggal. Suatu hari, Umar memiliki seekor kuda yang sangat baik. Bukan kuda biasa. Kuda pilihan. Kuda yang kuat, tangguh, dan bernilai tinggi. Kuda seperti itu sangat berharga pada masa itu. Ia bisa digunakan untuk perjalanan jauh, peperangan, dan berbagai kebutuhan penting. Namun Umar tidak mempertahankannya untuk dirinya sendiri. Dengan penuh keikhlasan, ia menyerahkan kuda itu di jalan Allah. Ia memberikannya sebagai sedekah. Saat itu hatinya tenang. Ia berharap kuda itu menjadi amal yang terus mengalir pahalanya. Hari-hari berlalu. Waktu terus berjalan. Hingga suatu ketika Umar melihat sesuatu yang membuat hatinya terusik. Kuda yang pernah ia sedekahkan itu ternyata tidak dirawat dengan baik oleh orang yang menerimanya. Tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Keadaannya tampak memprihatinkan. Kuda yang dahulu gagah kini terlihat terabaikan. Umar memandangnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia mengenali kuda itu. Ia ingat saat-saat merawatnya. Ia tahu betapa bagusnya kuda tersebut ketika masih berada di tangannya. Dan kini, melihat kondisinya yang menurun, timbul sebuah pikiran di dalam benaknya.
Madinah siang itu dipenuhi kesibukan. Kaum muslimin menjalani hari-hari mereka dengan semangat pengorbanan. Di antara mereka berdiri seorang lelaki yang dikenal karena ketegasan, keberanian, dan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dialah Umar bin Khattab. Tidak ada yang lebih berharga bagi Umar selain mencari keridhaan Allah. Ketika Islam membutuhkan pengorbanan, ia maju. Ketika kaum muslimin membutuhkan bantuan, ia memberi. Dan ketika kesempatan bersedekah datang, ia tidak ingin menjadi orang yang tertinggal. Suatu hari, Umar memiliki seekor kuda yang sangat baik. Bukan kuda biasa. Kuda pilihan. Kuda yang kuat, tangguh, dan bernilai tinggi. Kuda seperti itu sangat berharga pada masa itu. Ia bisa digunakan untuk perjalanan jauh, peperangan, dan berbagai kebutuhan penting. Namun Umar tidak mempertahankannya untuk dirinya sendiri. Dengan penuh keikhlasan, ia menyerahkan kuda itu di jalan Allah. Ia memberikannya sebagai sedekah. Saat itu hatinya tenang. Ia berharap kuda itu menjadi amal yang terus mengalir pahalanya. Hari-hari berlalu. Waktu terus berjalan. Hingga suatu ketika Umar melihat sesuatu yang membuat hatinya terusik. Kuda yang pernah ia sedekahkan itu ternyata tidak dirawat dengan baik oleh orang yang menerimanya. Tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Keadaannya tampak memprihatinkan. Kuda yang dahulu gagah kini terlihat terabaikan. Umar memandangnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia mengenali kuda itu. Ia ingat saat-saat merawatnya. Ia tahu betapa bagusnya kuda tersebut ketika masih berada di tangannya. Dan kini, melihat kondisinya yang menurun, timbul sebuah pikiran di dalam benaknya. "Mungkin pemiliknya akan menjualnya dengan harga murah." "Mungkin aku bisa membelinya kembali." Toh ia akan membayar dengan uangnya sendiri. Ia tidak berniat mengambil secara paksa. Ia tidak berniat merugikan siapa pun. Bahkan mungkin dalam pikirannya, ia ingin merawat kuda itu dengan lebih baik. Namun Umar adalah sahabat yang sangat berhati-hati. Ia tidak ingin melangkah sebelum mengetahui hukum Allah. Maka ia mendatangi manusia yang paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ. Dengan penuh hormat, Umar menceritakan apa yang terjadi. Lalu ia bertanya apakah boleh membelinya. Mungkin sebagian orang akan mengira jawabannya sederhana. "Mengapa tidak? Bukankah itu transaksi biasa?" Namun Rasulullah ﷺ melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar jual beli. Beliau melihat bagaimana hati manusia bekerja. Beliau memahami bahwa sedekah bukan hanya tentang memberi harta. Sedekah juga tentang melepaskan kepemilikan dari hati. Lalu Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang sangat tegas: "Jangan engkau membelinya." Umar terdiam. Namun Rasulullah ﷺ belum selesai. Beliau melanjutkan: "Dan jangan engkau mengambil kembali sedekahmu." Kemudian beliau memberikan perumpamaan yang sangat kuat. Beliau bersabda: "Orang yang mengambil kembali sedekahnya seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya." Kalimat itu begitu keras. Begitu mengguncang. Karena Rasulullah ﷺ ingin menanamkan satu pelajaran besar: Apa yang telah diberikan karena Allah, jangan lagi diikat oleh keinginan untuk memilikinya kembali. Sedekah yang sejati adalah ketika tangan memberi dan hati benar-benar melepaskan. Betapa sering manusia memberi, tetapi sebenarnya belum rela. Betapa sering manusia membantu, tetapi diam-diam masih merasa memiliki. Betapa sering manusia berbuat baik, tetapi masih berharap sesuatu kembali kepadanya. Dan hadis ini mengingatkan kita: Jika telah diberikan karena Allah, lepaskanlah dengan ikhlas. Jangan biarkan hati terus menggenggam sesuatu yang sudah diserahkan kepada-Nya. Karena amal yang paling indah adalah amal yang dilakukan semata-mata karena Allah. Jika kisah ini mengingatkanmu untuk lebih ikhlas dalam bersedekah, mari bershalawat kepada Rasulullah ﷺ yang telah mengajarkan kemurnian hati kepada umatnya. Tulis di kolom komentar ya🤍 Allahumma shalli 'ala Muhammad✨🌙 📚Sumber Hadis: HR. Sahih Muslim No. 1620a, dari Umar bin Khattab

About