@tiemcucbot: Trà sữa trân châu tự nấu #settrasua #settrasuatunau #trasuatranchau #trasuanhalam #trasua

Tiệm Cục Bọt 🫧
Tiệm Cục Bọt 🫧
Open In TikTok:
Region: VN
Sunday 31 May 2026 15:55:52 GMT
228179
1013
21
135

Music

Download

Comments

o_t574
cá 🐟 :
mới mua hôm qua, xong cái nấu tới gần chiều mới có trà sữa uống, nấu nó lâu
2026-06-05 01:02:14
2
mylinh18320140
18. :
tao thấy nấu nod lạt lắm
2026-06-04 11:36:16
1
nhu.ngu10
Yeuu💗 :
Tui mua nấu mà bm tui cx thích lắm nè
2026-06-05 01:54:54
0
hoaianmuzik44
Muzik chứ aiiiiiii :
có kèm tốp ping khum shop🥰
2026-06-04 14:52:20
0
n.hng156
đền Hùng :
1 đồng, miễn phí vận chuyển, nhưng tôi không mua
2026-06-04 01:08:05
1
np27744
Ăn vặt chill chill :
wow ngon nha
2026-06-05 12:01:25
0
diuhn25
h. :
Ợ t mới mua 3 ky
2026-06-05 07:21:54
1
ngocshopna
Bích Ngọc :
Mlem mlem
2026-05-31 16:49:40
0
ngann151096
🥕𝓜𝓲𝓷𝓑𝓮𝓮🎀 :
Đã săn gòi nè
2026-06-01 02:38:21
0
_tramy11
trà myy. :
🥰🥰🥰
2026-06-03 11:43:03
0
nht.huy0339
Nhựt Huy :
@Cu Đất ⚡️
2026-06-04 21:51:15
0
To see more videos from user @tiemcucbot, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | Sean bukan sekedar aa Bandung biasa. Nama Sean Arya Winata, cukup dikenal di sekolahnya. Bukan hanya karena keluarganya yang masih memiliki darah menak Sunda, tetapi juga karena tingkahnya yang jauh dari bayangan orang-orang tentang seorang keturunan keluarga terpandang. Sean seharusnya tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, berwibawa, dan penuh tata krama. Namun justru ia tumbuh menjadi anak tongkrongan paling berisik satu sekolah. Kamu sendiri adalah seorang gadis blasteran Belanda yang baru satu minggu lalu pindah ke Indonesia, setelah terlalu lama hidup di luar negeri. Bandung masih terasa asing bagimu. Mulai dari udara dinginnya, logat orang-orangnya, sampai kebiasaan anak-anak sekolah yang menurutmu terlalu ramai. Dan hari ini, menjadi pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di sekolah barumu. ••• Sebuah mobil Range Rover Autobiography hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sukses menarik perhatian banyak pasang mata bahkan sebelum pintunya terbuka. Saat kakimu turun menyentuh aspal, kamu sempat terdiam sesaat. Tatapan orang-orang terasa begitu asing. Bisikan kecil mulai terdengar di sana-sini, bercampur dengan rasa penasaran dari para siswa yang memperhatikanmu tanpa malu-malu. Termasuk sekelompok anak tongkrongan yang sejak tadi duduk santai di area parkiran bersama motor mereka. “Saha eta, euy? Hebring pisan ka sakola naek Range Rover,” celetuk Kenan pelan, membuat beberapa temannya ikut menoleh. Termasuk Sean. Martin ikut berdiri penuh antusias. “Ajig… geulis pisan euy…” Suara di parkiran itu seketika penuh. Namun di antara mereka, Sean menjadi orang yang paling diam. Cowok itu masih duduk santai di atas Yamaha XSR miliknya. Helm masih menggantung ditangannya, sementara matanya tak lepas sedikit pun darimu. Entah karena wajah pucat cantikmu, sorot bingung di matamu, atau caramu berdiri canggung di tengah lingkungan yang benar-benar baru bagimu.  Yang jelas, kehadiranmu cukup berhasil mencuri perhatiannya. Begitu melihat langkahmu mulai mendekat ke arah gedung sekolah, Sean tiba-tiba turun dari motornya tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya masih mengikutimu—seolah tanpa sadar, kakinya sendiri yang membawanya melangkah mendekat. Melihat itu, teman-temannya spontan heboh sendiri. “Eh, si kehed rek kamana itu?” celetuk James. “Samperin hayu anying, samperin! Malah diem aja!” sahut Juju menepuk bahu Martin. Beberapa dari mereka langsung ikut berdiri, sementara Sean berjalan paling depan dengan ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya sudah terpampang jelas begitu melihatmu semakin mendekat. Dan di situlah langkahmu perlahan melambat. Kedua tanganmu masih menggenggam erat tali tas, sementara tatapanmu tampak gugup sekaligus bingung melihat segerombolan cowok yang kini berdiri tepat di hadapanmu. Terutama satu cowok yang paling mencolok di antara mereka. Sean. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bajunya sengaja dikeluarkan—dibalut jaket kulit hitam dengan dasi yang terpasang rapi. Kini ia berdiri santai sambil menatapmu tanpa rasa canggung sedikit pun. Sementara di belakangnya, teman-temannya sudah ribut sendiri. Sean langsung menoleh singkat ke belakang dengan tatapan malas. “Cicing atuh, barudak. Ieu mah bagian aing.” Setelah itu, cowok itu kembali menatapmu dengan senyum tengil yang entah kenapa justru terlihat manis. “Halo cantik,” ucapnya santai lalu ia mengulurkan tangan. “Sean. Aa Bandung anu kasep.” Kamu hanya terdiam beberapa detik, bingung harus bereaksi bagaimana. Namun karena tidak enak, kamu tetap menyambut uluran tangannya pelan. “Y/n,” jawabmu setengah gugup. Sean tersenyum kecil. Tapi anehnya, cowok itu tidak juga melepaskan genggaman tanganmu. Tatapannya masih tertahan padamu. Kamu mulai mencoba menarik tanganmu perlahan, namun Sean malah menahan genggamannya sebentar lagi. Dan itu sukses membuat teman-temannya heboh cekikikan. Martin yang sedari tadi tak terima, memisahkan paksa jabatan tangan kalian. “Heh! Udah atuh udah!— +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fyp
POV | Sean bukan sekedar aa Bandung biasa. Nama Sean Arya Winata, cukup dikenal di sekolahnya. Bukan hanya karena keluarganya yang masih memiliki darah menak Sunda, tetapi juga karena tingkahnya yang jauh dari bayangan orang-orang tentang seorang keturunan keluarga terpandang. Sean seharusnya tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, berwibawa, dan penuh tata krama. Namun justru ia tumbuh menjadi anak tongkrongan paling berisik satu sekolah. Kamu sendiri adalah seorang gadis blasteran Belanda yang baru satu minggu lalu pindah ke Indonesia, setelah terlalu lama hidup di luar negeri. Bandung masih terasa asing bagimu. Mulai dari udara dinginnya, logat orang-orangnya, sampai kebiasaan anak-anak sekolah yang menurutmu terlalu ramai. Dan hari ini, menjadi pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di sekolah barumu. ••• Sebuah mobil Range Rover Autobiography hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sukses menarik perhatian banyak pasang mata bahkan sebelum pintunya terbuka. Saat kakimu turun menyentuh aspal, kamu sempat terdiam sesaat. Tatapan orang-orang terasa begitu asing. Bisikan kecil mulai terdengar di sana-sini, bercampur dengan rasa penasaran dari para siswa yang memperhatikanmu tanpa malu-malu. Termasuk sekelompok anak tongkrongan yang sejak tadi duduk santai di area parkiran bersama motor mereka. “Saha eta, euy? Hebring pisan ka sakola naek Range Rover,” celetuk Kenan pelan, membuat beberapa temannya ikut menoleh. Termasuk Sean. Martin ikut berdiri penuh antusias. “Ajig… geulis pisan euy…” Suara di parkiran itu seketika penuh. Namun di antara mereka, Sean menjadi orang yang paling diam. Cowok itu masih duduk santai di atas Yamaha XSR miliknya. Helm masih menggantung ditangannya, sementara matanya tak lepas sedikit pun darimu. Entah karena wajah pucat cantikmu, sorot bingung di matamu, atau caramu berdiri canggung di tengah lingkungan yang benar-benar baru bagimu. Yang jelas, kehadiranmu cukup berhasil mencuri perhatiannya. Begitu melihat langkahmu mulai mendekat ke arah gedung sekolah, Sean tiba-tiba turun dari motornya tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya masih mengikutimu—seolah tanpa sadar, kakinya sendiri yang membawanya melangkah mendekat. Melihat itu, teman-temannya spontan heboh sendiri. “Eh, si kehed rek kamana itu?” celetuk James. “Samperin hayu anying, samperin! Malah diem aja!” sahut Juju menepuk bahu Martin. Beberapa dari mereka langsung ikut berdiri, sementara Sean berjalan paling depan dengan ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya sudah terpampang jelas begitu melihatmu semakin mendekat. Dan di situlah langkahmu perlahan melambat. Kedua tanganmu masih menggenggam erat tali tas, sementara tatapanmu tampak gugup sekaligus bingung melihat segerombolan cowok yang kini berdiri tepat di hadapanmu. Terutama satu cowok yang paling mencolok di antara mereka. Sean. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bajunya sengaja dikeluarkan—dibalut jaket kulit hitam dengan dasi yang terpasang rapi. Kini ia berdiri santai sambil menatapmu tanpa rasa canggung sedikit pun. Sementara di belakangnya, teman-temannya sudah ribut sendiri. Sean langsung menoleh singkat ke belakang dengan tatapan malas. “Cicing atuh, barudak. Ieu mah bagian aing.” Setelah itu, cowok itu kembali menatapmu dengan senyum tengil yang entah kenapa justru terlihat manis. “Halo cantik,” ucapnya santai lalu ia mengulurkan tangan. “Sean. Aa Bandung anu kasep.” Kamu hanya terdiam beberapa detik, bingung harus bereaksi bagaimana. Namun karena tidak enak, kamu tetap menyambut uluran tangannya pelan. “Y/n,” jawabmu setengah gugup. Sean tersenyum kecil. Tapi anehnya, cowok itu tidak juga melepaskan genggaman tanganmu. Tatapannya masih tertahan padamu. Kamu mulai mencoba menarik tanganmu perlahan, namun Sean malah menahan genggamannya sebentar lagi. Dan itu sukses membuat teman-temannya heboh cekikikan. Martin yang sedari tadi tak terima, memisahkan paksa jabatan tangan kalian. “Heh! Udah atuh udah!— +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fyp

About