@conversion.doc: We humans are impatient. Use that in your marketing and frame your solution in a way that there’s an immediate reward or benefit of taking action. #marketing #neuromarketing #psychology #onlinebusiness #onlinemarketing

The Conversion Doc
The Conversion Doc
Open In TikTok:
Region: ES
Sunday 31 May 2026 23:15:35 GMT
6732
517
10
43

Music

Download

Comments

marachronicles
Leshan Ole Tipis :
fyp
2026-06-01 04:51:04
2
potatotogo
Potato to go™ :
even me I would choose the 1m now than the 10m in my 70s what would I do with that at 70s even if it's 1b at your 70s your clock is closer to an end I think it's not immediate rewards it's practicality at this point
2026-06-01 18:10:40
0
incomepsychology
Income Psychology :
Psychology is base knowledge of progress in business.
2026-06-01 14:52:25
1
sirrianye0
sirrianye0 :
because we don't know if we will be alive to enjoy the long term reward so I want it now
2026-06-01 05:00:35
1
pelopac3000
pelopaC3000 :
if you guarantee that will be future rewards
2026-06-02 15:58:09
1
fr_fn25
fr_fn25 :
Literally went to the bank 3 times and left 3 times without doing anything
2026-05-31 23:56:43
0
To see more videos from user @conversion.doc, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ironi Wali Kota “Terbaik” Jambi: Saat Sampah Gratis Berganti Jadi Bisnis Prabayar JAMBI — Narasi tentang pencapaian Wali Kota Jambi, Maulana, dalam menata estetika kota kini membentur gelombang protes dari masyarakat bawah. Di tengah klaim keberhasilan membangun ekonomi sirkular dan pengentasan kemiskinan, kebijakan barunya di sektor sanitasi justru dinilai mengubah layanan publik esensial menjadi ajang komersialisasi alias “bisnis dengan rakyat”. Ketidakpuasan ini bermula dari langkah agresif Pemerintah Kota Jambi yang membongkar 94 Tempat Pembuangan Sampah (TPS) umum di pinggir jalan. Sebagai gantinya, pemerintah merilis program Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM). Melalui sistem baru ini, warga dipaksa beralih ke skema layanan pengangkutan sampah berbayar prabayar yang dikoordinasikan langsung lewat pengurus RT. Baca Juga : Gegara Depo Sampah Wali Kota Maulana, Pokja UKPBJ Palsukan Dokumen Peserta Lelang Kebijakan penarikan retribusi mandiri ini seketika memicu keluhan di tingkat akar rumput, salah satunya di kawasan RT 24. “Sekarang buang sampah harus bayar. Kondisi ekonomi lagi sulit, cari uang susah, ini malah nambah beban. Seharusnya pemerintah membantu, bukan mempersulit,” kesal seorang warga yang merasa predikat wali kota pro-rakyat kini terasa semu. Sentimen negatif warga bukan tanpa alasan. Pasca-penutupan akses TPS gratis, tumpukan sampah liar justru mulai menjamur di sejumlah ruas jalan utama akibat banyak warga yang enggan atau tidak mampu membayar biaya prabayar. Keadaan diperparah oleh buruknya fasilitas armada OPBM yang masih menggunakan bak terbuka. Sampah-sampah yang berterbangan di jalanan kini mengancam higienitas lapangan usaha para pelaku UMKM lokal. Baca Juga : Pola Fikir Mundur Walikota Jambi, Merubah Jam Masuk Kerja (Terobosan atau Terabasan) Di seberang meja, Wali Kota Maulana tetap bersikeras bahwa program OPBM prabayar ini adalah solusi paling efektif untuk menekan volume sampah kota. Pemerintah mengklaim perputaran uang dari bisnis sampah prabayar ini sangat menggiurkan, bahkan disebut-sebut mampu menembus angka Rp7 miliar per bulan. Bagi pemerintah, ini adalah potret keberhasilan menciptakan lapangan kerja baru, meski bagi sebagian besar warga, uang miliaran tersebut ditarik langsung dari kantong mereka yang sedang menjerit akibat impitan ekonomi. Sejauh ini, sekitar 70 OPBM swadaya telah didirikan untuk mengontrol pengelolaan sampah di 200 RT se-Kota Jambi. Pemerintah Kota Jambi bahkan memasang target ambisius untuk segera menyapu bersih seluruh sisa TPS liar yang ada dalam waktu dekat. Kendati demikian, pro-kontra di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara angka keberhasilan di atas kertas komersial pemerintah dengan kebahagiaan riil masyarakat di dunia nyata. Hingga berita ini diturunkan, pihak Kantor Wali Kota Jambi maupun Dinas Lingkungan Hidup belum memberikan tanggapan resmi tambahan terkait keluhan tumpukan sampah jalanan dan keberatan biaya dari warga RT 24 tersebut. Redaksi berkomitmen penuh menyediakan ruang publik dan siap memuat konfirmasi susulan, hak jawab, maupun hak koreksi dari Wali Kota Maulana beserta jajaran instansi terkait secara proporsional pada kesempatan pertama sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kabarpemayung.Com
Ironi Wali Kota “Terbaik” Jambi: Saat Sampah Gratis Berganti Jadi Bisnis Prabayar JAMBI — Narasi tentang pencapaian Wali Kota Jambi, Maulana, dalam menata estetika kota kini membentur gelombang protes dari masyarakat bawah. Di tengah klaim keberhasilan membangun ekonomi sirkular dan pengentasan kemiskinan, kebijakan barunya di sektor sanitasi justru dinilai mengubah layanan publik esensial menjadi ajang komersialisasi alias “bisnis dengan rakyat”. Ketidakpuasan ini bermula dari langkah agresif Pemerintah Kota Jambi yang membongkar 94 Tempat Pembuangan Sampah (TPS) umum di pinggir jalan. Sebagai gantinya, pemerintah merilis program Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM). Melalui sistem baru ini, warga dipaksa beralih ke skema layanan pengangkutan sampah berbayar prabayar yang dikoordinasikan langsung lewat pengurus RT. Baca Juga : Gegara Depo Sampah Wali Kota Maulana, Pokja UKPBJ Palsukan Dokumen Peserta Lelang Kebijakan penarikan retribusi mandiri ini seketika memicu keluhan di tingkat akar rumput, salah satunya di kawasan RT 24. “Sekarang buang sampah harus bayar. Kondisi ekonomi lagi sulit, cari uang susah, ini malah nambah beban. Seharusnya pemerintah membantu, bukan mempersulit,” kesal seorang warga yang merasa predikat wali kota pro-rakyat kini terasa semu. Sentimen negatif warga bukan tanpa alasan. Pasca-penutupan akses TPS gratis, tumpukan sampah liar justru mulai menjamur di sejumlah ruas jalan utama akibat banyak warga yang enggan atau tidak mampu membayar biaya prabayar. Keadaan diperparah oleh buruknya fasilitas armada OPBM yang masih menggunakan bak terbuka. Sampah-sampah yang berterbangan di jalanan kini mengancam higienitas lapangan usaha para pelaku UMKM lokal. Baca Juga : Pola Fikir Mundur Walikota Jambi, Merubah Jam Masuk Kerja (Terobosan atau Terabasan) Di seberang meja, Wali Kota Maulana tetap bersikeras bahwa program OPBM prabayar ini adalah solusi paling efektif untuk menekan volume sampah kota. Pemerintah mengklaim perputaran uang dari bisnis sampah prabayar ini sangat menggiurkan, bahkan disebut-sebut mampu menembus angka Rp7 miliar per bulan. Bagi pemerintah, ini adalah potret keberhasilan menciptakan lapangan kerja baru, meski bagi sebagian besar warga, uang miliaran tersebut ditarik langsung dari kantong mereka yang sedang menjerit akibat impitan ekonomi. Sejauh ini, sekitar 70 OPBM swadaya telah didirikan untuk mengontrol pengelolaan sampah di 200 RT se-Kota Jambi. Pemerintah Kota Jambi bahkan memasang target ambisius untuk segera menyapu bersih seluruh sisa TPS liar yang ada dalam waktu dekat. Kendati demikian, pro-kontra di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara angka keberhasilan di atas kertas komersial pemerintah dengan kebahagiaan riil masyarakat di dunia nyata. Hingga berita ini diturunkan, pihak Kantor Wali Kota Jambi maupun Dinas Lingkungan Hidup belum memberikan tanggapan resmi tambahan terkait keluhan tumpukan sampah jalanan dan keberatan biaya dari warga RT 24 tersebut. Redaksi berkomitmen penuh menyediakan ruang publik dan siap memuat konfirmasi susulan, hak jawab, maupun hak koreksi dari Wali Kota Maulana beserta jajaran instansi terkait secara proporsional pada kesempatan pertama sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kabarpemayung.Com

About