@kokaii50: จะเลียหรือไม่เลีย

กอไก่
กอไก่
Open In TikTok:
Region: TH
Monday 01 June 2026 12:54:54 GMT
1165908
237373
1085
47800

Music

Download

Comments

k.kh0aw
พิดยา :
ขอเลียหน่อย
2026-06-01 14:34:39
645
phuwetchapram
Phu.Wetchapram :
รุ่นนี้ในแชทไม่ต่ำกว่า 8 คน
2026-06-02 02:53:36
570
ryanpyae10
PYÄË :
so cute🥰🥰
2026-06-03 14:09:42
0
sainxmpung_
P :
2026-06-01 13:07:51
127
natthawutphusonaset
Mr.วุฒิ :
อยากขึ้นมหาลัย❌ อยากขึ้นมหาลัย✅
2026-06-02 07:58:01
89
busjomp
BUSJOMP :
รุ่นนี้ยังไง
2026-06-02 01:41:37
35
hee.1994
ไม่ใช่เมีย ก็เลียให้✅ :
อ่านชื่อผม
2026-06-02 08:46:29
22
thanachot.mx
⚽❤️⚡ :
4-1ไหวชิว
2026-06-02 04:20:52
22
khai_c.m
ฅนตื่นนอน :
ไม่!!!!!
2026-06-01 23:42:50
5
wave_tks
wave tks :
2026-06-03 10:27:56
1
dy71vjliwvw0
พลูโต :
คนหลังสุดน่ารัก🥰🥰
2026-06-02 00:00:59
6
thanachai_0826
S I N G :
2026-06-02 04:38:09
2
aumenet_556
นาย ท้ายซอย💯🤍 :
คนขวาน่ารักสุด
2026-06-02 00:12:28
11
big33773
Big🤟🏻 :
2026-06-02 00:10:48
4
sakkarin._.2008
บาส :
2026-06-02 04:03:22
1
user29716613354195
รักแท้ต้องดูแลให้ได้ :
LiaYunRooTood
2026-06-04 04:58:54
1
To see more videos from user @kokaii50, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Mama kamu mana, Bas?” tanyaku. Siang itu, ketika mobilku memasuki halaman rumah, suasana terasa janggal. Tak ada Metta di pintu, seperti biasanya. Hanya Ibas yang menyambut dengan mata yang terpaku pada layar ponsel. “Beli gas, Pa,” jawabnya santai. Aku mengernyit. Metta? Beli gas? Istriku itu bahkan tak pernah mau mengangkat galon air minum.  Tapi benar saja, tak lama kemudian, motornya masuk ke garasi, dan dia dengan cekatan menurunkan tabung gas dari motor. “Tumben?” sapaku, hendak membantunya. “Sini biar papa aja yang angkat.” “Nggak usah. Aku bisa sendiri,” jawabnya, lalu melenggang masuk ke dapur. Aku menyusul, masih tertegun. Metta yang biasanya begitu bergantung padaku, kini memasang tabung gas sendirian. Hari-hari berikutnya, perubahan itu semakin jelas. Ia tak lagi merengek minta dibantu. Semua dikerjakannya sendiri. Sampai suatu sore, ia berkata santai, “Pa, aku mau les stir mobil.” Aku heran, tapi mengizinkannya juga. Dua minggu kemudian, Metta sudah berani menyetir kemana-mana sendiri. Bahkan sering keluar rumah tanpa menungguku. Suatu siang, aku pulang dari toko lebih awal karena tak enak badan. Dari ruang tengah, terdengar suara tawa Metta saat menelepon seseorang. Tawa yang sudah jarang kudengar di rumah ini. “Loh, Papa? Kok udah pulang?” tanyanya kaget. “Kurang enak badan, Ma,” jawabku, menuju kamar. Saat berganti pakaian, ponselku tiba-tiba berdering. Suara dari saku celana mengagetkanku. “Sial…” gumamku. Aku belum memberitahu Linda bahwa aku sudah di rumah. Belum sempat menjawab, Metta sudah berdiri di ambang pintu. Kaget, refleks aku menolak panggilan Linda. “Siapa, Pa? Kok nggak diangkat?” “Ah, cuma karyawan kok, Ma,” jawabku cepat. Metta hanya tersenyum tipis lalu pergi. Aku membuka ponsel. Ternyata Linda sudah mengirimiku pesan. [Besok Minggu Tiara ulang tahun, Mas. Kita ajak jalan-jalan ya?] Aku membalas cepat karena tak ingin berdebat hingga ketahuan Metta. [Oke. Nggak masalah.] Tapi saat duduk di meja makan, Metta tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengagetkan, “Hari Minggu besok aku  pakai mobil ya. Ada urusan bisnis.” Aku tercekat, kenapa bisa kebetulan begini?. “Lho, Ma... Tapi hari Minggu …” “Kenapa? Papa ada acara?” Aku tergagap. Kalau aku bilang ya, dia pasti akan curiga. Maka sore itu juga, aku memutuskan  membatalkan janji dengan Linda. [Jalan-jalannya tunda Senin ya. Ada acara mendadak.] Linda langsung membalas: [Kalau nggak jadi hari Minggu besok, lupakan saja aku dan Tiara.] Aku frustasi. Haruskah beli mobil satu lagi agar semua urusanku lancar? Metta muncul dari ruang tamu, memergokiku sedang melamun di teras. “Lagi mikirin apa, Pa?” “Enggak, cuma mikir, apa kita beli mobil satu lagi aja ya, Ma?” Matanya langsung menyipit. “Beli mobil? Buat apa? Atau... Papa punya alasan lain sampai harus beli mobil lagi?” “Alasan apa, Ma?” Aku pura-pura sewot. Metta malah tertawa. “Siapa tau Papa punya simpanan. Makanya butuh mobil satu lagi biar bisa bebas kalau aku lagi pakai mobil. Iya kan?” Aku terdiam. Seketika, rumah ini jadi terasa sangat sempit. Apakah Metta sudah tahu… semuanya? Versi lengkap bisa dibaca di KBM APP Judul: SETELAH PENGKHIANATANMU Penulis: Reinee Raharjo
“Mama kamu mana, Bas?” tanyaku. Siang itu, ketika mobilku memasuki halaman rumah, suasana terasa janggal. Tak ada Metta di pintu, seperti biasanya. Hanya Ibas yang menyambut dengan mata yang terpaku pada layar ponsel. “Beli gas, Pa,” jawabnya santai. Aku mengernyit. Metta? Beli gas? Istriku itu bahkan tak pernah mau mengangkat galon air minum.  Tapi benar saja, tak lama kemudian, motornya masuk ke garasi, dan dia dengan cekatan menurunkan tabung gas dari motor. “Tumben?” sapaku, hendak membantunya. “Sini biar papa aja yang angkat.” “Nggak usah. Aku bisa sendiri,” jawabnya, lalu melenggang masuk ke dapur. Aku menyusul, masih tertegun. Metta yang biasanya begitu bergantung padaku, kini memasang tabung gas sendirian. Hari-hari berikutnya, perubahan itu semakin jelas. Ia tak lagi merengek minta dibantu. Semua dikerjakannya sendiri. Sampai suatu sore, ia berkata santai, “Pa, aku mau les stir mobil.” Aku heran, tapi mengizinkannya juga. Dua minggu kemudian, Metta sudah berani menyetir kemana-mana sendiri. Bahkan sering keluar rumah tanpa menungguku. Suatu siang, aku pulang dari toko lebih awal karena tak enak badan. Dari ruang tengah, terdengar suara tawa Metta saat menelepon seseorang. Tawa yang sudah jarang kudengar di rumah ini. “Loh, Papa? Kok udah pulang?” tanyanya kaget. “Kurang enak badan, Ma,” jawabku, menuju kamar. Saat berganti pakaian, ponselku tiba-tiba berdering. Suara dari saku celana mengagetkanku. “Sial…” gumamku. Aku belum memberitahu Linda bahwa aku sudah di rumah. Belum sempat menjawab, Metta sudah berdiri di ambang pintu. Kaget, refleks aku menolak panggilan Linda. “Siapa, Pa? Kok nggak diangkat?” “Ah, cuma karyawan kok, Ma,” jawabku cepat. Metta hanya tersenyum tipis lalu pergi. Aku membuka ponsel. Ternyata Linda sudah mengirimiku pesan. [Besok Minggu Tiara ulang tahun, Mas. Kita ajak jalan-jalan ya?] Aku membalas cepat karena tak ingin berdebat hingga ketahuan Metta. [Oke. Nggak masalah.] Tapi saat duduk di meja makan, Metta tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengagetkan, “Hari Minggu besok aku  pakai mobil ya. Ada urusan bisnis.” Aku tercekat, kenapa bisa kebetulan begini?. “Lho, Ma... Tapi hari Minggu …” “Kenapa? Papa ada acara?” Aku tergagap. Kalau aku bilang ya, dia pasti akan curiga. Maka sore itu juga, aku memutuskan  membatalkan janji dengan Linda. [Jalan-jalannya tunda Senin ya. Ada acara mendadak.] Linda langsung membalas: [Kalau nggak jadi hari Minggu besok, lupakan saja aku dan Tiara.] Aku frustasi. Haruskah beli mobil satu lagi agar semua urusanku lancar? Metta muncul dari ruang tamu, memergokiku sedang melamun di teras. “Lagi mikirin apa, Pa?” “Enggak, cuma mikir, apa kita beli mobil satu lagi aja ya, Ma?” Matanya langsung menyipit. “Beli mobil? Buat apa? Atau... Papa punya alasan lain sampai harus beli mobil lagi?” “Alasan apa, Ma?” Aku pura-pura sewot. Metta malah tertawa. “Siapa tau Papa punya simpanan. Makanya butuh mobil satu lagi biar bisa bebas kalau aku lagi pakai mobil. Iya kan?” Aku terdiam. Seketika, rumah ini jadi terasa sangat sempit. Apakah Metta sudah tahu… semuanya? Versi lengkap bisa dibaca di KBM APP Judul: SETELAH PENGKHIANATANMU Penulis: Reinee Raharjo

About