fazil ova :
Secangkir Hening di Batas Malam
Malam sudah terlalu larut,
dan di meja ini, aku hanya berteman dengan isi kepala yang surut.
12 Juni menyelinap masuk tanpa suara,
menghampiri raga yang sedang diam, terpaku dalam lamunan panjang.
Aku duduk membisu, menatap kosong pada sudut kamar yang temaram.
Merenung, bengong, membiarkan waktu merayap pergi tanpa sempat kusapa.
Tak ada perayaan, tak ada riuh,
hanya sepi yang semakin larut dan memelukku utuh.
Di tengah kesunyian yang mencekam ini, aku tersadar;
di dalam dada, napas ini ternyata masih mengalir hangat.
Setiap hembusannya seperti pengingat yang samar,
bahwa aku masih di sini, bertahan di sela waktu yang terus berkarat.
Aku meratapi detik yang luruh satu demi satu,
memikirkan jalan panjang yang sudah terlewati hingga di angka yang baru.
Namun, tak ada lagi air mata atau sesak yang memberontak,
hanya ada kehampaan yang damai, yang membuat jiwaku tak lagi bergejolak.
Dalam diam dan tatapan kosong malam ini,
aku merayakan lahirku dengan cara yang paling sunyi.
Menikmati hangatnya napas sendiri,
di dunia yang telah lama melupakanku dalam sepi.
2026-06-11 17:17:39