@mizushi.edits: Triple T edit | Does this song sound better trend | watermark credits @ezzyfn #edit #tungtungtungsahur #triplet #watermark #meme

Mizushi
Mizushi
Open In TikTok:
Region: GB
Tuesday 02 June 2026 17:08:37 GMT
4241
91
4
28

Music

Download

Comments

ethansmith413
boii. :
i need ts but without the song
2026-07-17 06:02:21
1
mizushi.edits
Mizushi :
Triple T is so tuff
2026-06-02 17:09:17
6
devvyx3
TUNG TUNG TUNG SAHUR :
yup that's me
2026-07-13 13:16:05
0
bendywendy08
The commentar :
the trio
2026-06-02 18:12:40
3
To see more videos from user @mizushi.edits, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Republik Islam Mauritania di bawah kepemimpinan presiden pertamanya, Moktar Ould Daddah (1960–1978), adalah fase paling krusial dalam pembentukan negara ini. Pada era tersebut, Mauritania harus berjuang dari nol untuk membangun identitas nasional, menghadapi kemiskinan ekstrem, serta mempertahankan kedaulatannya di tengah kepungan konflik Gurun Sahara.  Saat merdeka dari Prancis pada 28 November 1960, Mauritania tidak warisi infrastruktur perkotaan. Selama masa kolonial, Prancis mengendalikan wilayah ini dari kota Saint-Louis di Senegal.  Daddah mengambil keputusan nekat untuk membangun ibu kota baru dari nol di sebuah desa nelayan kecil yang gersang bernama Nouakchott. Di awal era 1960-an, ibu kota baru ini hanyalah hamparan pasir luas yang perlahan diisi oleh tenda-tenda militer dan beberapa gedung semen darurat untuk kantor pemerintahan.  Sekitar 90% rakyat Mauritania saat itu hidup sebagai kaum nomaden. Mereka tinggal di tenda tradisional (khaima) dan terus bergerak melintasi Gurun Sahara untuk menggembala unta dan kambing.  Negara ini terbelah secara rasial antara kaum Moor (Arab-Berber) yang nomaden di utara dan kelompok etnis Afrika Sub-Sahara yang bertani di selatan. Karena kedua kelompok ini memiliki bahasa dan budaya yang bertolak belakang, Daddah menjadikan Islam Sunni sebagai agama resmi negara. Identitas Islam ini dipakai sebagai satu-satunya jembatan spiritual untuk menyatukan masyarakat gurun agar negara baru ini tidak pecah.  Bahasa Prancis warisan penjajah mendominasi administrasi pemerintahan. Ketika Daddah mulai memperkenalkan bahasa Arab sebagai bahasa wajib di sekolah pada tahun 1965 untuk memperkuat identitas nasional, kebijakan ini sempat memicu demonstrasi dan ketegangan dari kelompok etnis selatan yang merasa terpinggirkan.  Di awal kemerdekaan, kas negara kosong dan roda ekonomi belum berjalan modern. Rakyat hidup dari sistem barter hasil ternak dan kurma di wilayah oasis. Mauritania bahkan tidak mampu membayar gaji pegawai negerinya sendiri dan sepenuhnya bergantung pada subsidi keuangan dari Prancis.  Ekonomi mulai mandiri setelah tambang bijih besi raksasa di Zouérat mulai dieksploitasi oleh perusahaan asing (MIFERMA) pada tahun 1963. Pada pertengahan 1970-an, Daddah mengadopsi paham Sosialisme Islam dan menasionalisasi tambang besi tersebut untuk dialihkan ke tangan negara.  Guna memperkuat kedaulatan ekonomi, Daddah membawa Mauritania keluar dari zona mata uang franc Afrika (CFA) bentukan Prancis dan meluncurkan mata uang nasional sendiri, Ouguiya (MRO), pada tahun 1973. Meskipun mengawali pemerintahan dengan sistem multipartai, Daddah mengubah konstitusi pada tahun 1964 dan melebur semua partai oposisi ke dalam satu wadah politik resmi: Parti du Peuple Mauritanien (PPM). Ia menilai masyarakat Mauritania yang berlatar belakang suku beragam belum siap mengadopsi demokrasi ala Barat. Di awal kemerdekaan, Maroko menolak mengakui kedaulatan Mauritania karena mengklaim wilayah tersebut adalah bagian dari historis Kerajaan Maroko. Melalui lobi politik dan bantuan Prancis, Mauritania akhirnya resmi diterima menjadi anggota PBB pada Oktober 1961. Kejatuhan era Daddah dipicu ketika ia setuju membagi wilayah Sahara Barat bersama Maroko pada tahun 1975. Keputusan ini menyeret Mauritania ke dalam perang gerilya melawan Front Polisario. Biaya perang yang membengkak menghancurkan perekonomian negara, hingga akhirnya pada 10 Juli 1978, Moktar Ould Daddah digulingkan melalui sebuah kudeta militer tak berdarah yang mengakhiri 18 tahun masa kepemimpinannya. #mauritania #indpendenceday #nouakchott #zainal_edit #country
Republik Islam Mauritania di bawah kepemimpinan presiden pertamanya, Moktar Ould Daddah (1960–1978), adalah fase paling krusial dalam pembentukan negara ini. Pada era tersebut, Mauritania harus berjuang dari nol untuk membangun identitas nasional, menghadapi kemiskinan ekstrem, serta mempertahankan kedaulatannya di tengah kepungan konflik Gurun Sahara. Saat merdeka dari Prancis pada 28 November 1960, Mauritania tidak warisi infrastruktur perkotaan. Selama masa kolonial, Prancis mengendalikan wilayah ini dari kota Saint-Louis di Senegal. Daddah mengambil keputusan nekat untuk membangun ibu kota baru dari nol di sebuah desa nelayan kecil yang gersang bernama Nouakchott. Di awal era 1960-an, ibu kota baru ini hanyalah hamparan pasir luas yang perlahan diisi oleh tenda-tenda militer dan beberapa gedung semen darurat untuk kantor pemerintahan. Sekitar 90% rakyat Mauritania saat itu hidup sebagai kaum nomaden. Mereka tinggal di tenda tradisional (khaima) dan terus bergerak melintasi Gurun Sahara untuk menggembala unta dan kambing. Negara ini terbelah secara rasial antara kaum Moor (Arab-Berber) yang nomaden di utara dan kelompok etnis Afrika Sub-Sahara yang bertani di selatan. Karena kedua kelompok ini memiliki bahasa dan budaya yang bertolak belakang, Daddah menjadikan Islam Sunni sebagai agama resmi negara. Identitas Islam ini dipakai sebagai satu-satunya jembatan spiritual untuk menyatukan masyarakat gurun agar negara baru ini tidak pecah. Bahasa Prancis warisan penjajah mendominasi administrasi pemerintahan. Ketika Daddah mulai memperkenalkan bahasa Arab sebagai bahasa wajib di sekolah pada tahun 1965 untuk memperkuat identitas nasional, kebijakan ini sempat memicu demonstrasi dan ketegangan dari kelompok etnis selatan yang merasa terpinggirkan. Di awal kemerdekaan, kas negara kosong dan roda ekonomi belum berjalan modern. Rakyat hidup dari sistem barter hasil ternak dan kurma di wilayah oasis. Mauritania bahkan tidak mampu membayar gaji pegawai negerinya sendiri dan sepenuhnya bergantung pada subsidi keuangan dari Prancis. Ekonomi mulai mandiri setelah tambang bijih besi raksasa di Zouérat mulai dieksploitasi oleh perusahaan asing (MIFERMA) pada tahun 1963. Pada pertengahan 1970-an, Daddah mengadopsi paham Sosialisme Islam dan menasionalisasi tambang besi tersebut untuk dialihkan ke tangan negara. Guna memperkuat kedaulatan ekonomi, Daddah membawa Mauritania keluar dari zona mata uang franc Afrika (CFA) bentukan Prancis dan meluncurkan mata uang nasional sendiri, Ouguiya (MRO), pada tahun 1973. Meskipun mengawali pemerintahan dengan sistem multipartai, Daddah mengubah konstitusi pada tahun 1964 dan melebur semua partai oposisi ke dalam satu wadah politik resmi: Parti du Peuple Mauritanien (PPM). Ia menilai masyarakat Mauritania yang berlatar belakang suku beragam belum siap mengadopsi demokrasi ala Barat. Di awal kemerdekaan, Maroko menolak mengakui kedaulatan Mauritania karena mengklaim wilayah tersebut adalah bagian dari historis Kerajaan Maroko. Melalui lobi politik dan bantuan Prancis, Mauritania akhirnya resmi diterima menjadi anggota PBB pada Oktober 1961. Kejatuhan era Daddah dipicu ketika ia setuju membagi wilayah Sahara Barat bersama Maroko pada tahun 1975. Keputusan ini menyeret Mauritania ke dalam perang gerilya melawan Front Polisario. Biaya perang yang membengkak menghancurkan perekonomian negara, hingga akhirnya pada 10 Juli 1978, Moktar Ould Daddah digulingkan melalui sebuah kudeta militer tak berdarah yang mengakhiri 18 tahun masa kepemimpinannya. #mauritania #indpendenceday #nouakchott #zainal_edit #country

About