@ogaymost1m3: No Cheatinyno running away when thing get hard #TrueLove #OogwayQuo #MasterOogway #OogwayQuotes #InnerPeace

OGAY MOTIVATED
OGAY MOTIVATED
Open In TikTok:
Region: PK
Thursday 04 June 2026 09:33:26 GMT
13160
596
6
183

Music

Download

Comments

melvinbrown871
melvin Brown871 :
Amen
2026-06-04 15:37:06
1
kong.kea0533
sathot :
Good morning 🥰
2026-06-04 23:29:18
0
akilakialexander1
Akilaki Alexander Shemomoh :
yes
2026-06-04 20:09:13
0
yolanlne18u
Irene de Guzman :
❤️❤️❤️❤️
2026-06-05 01:59:59
0
denbertalbano3
Denbert✓ :
@Joycastro
2026-06-05 01:13:43
0
jaguar.a.nancy
Jaguar A Nancy :
@AL JEA
2026-06-06 10:23:13
0
To see more videos from user @ogaymost1m3, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada Selasa (26/5/2026), menyentuh level Rp 17.794 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi walaupun Bank Indonesia sudah keluarkan hampir semua amunisinya minggu lalu, dari kenaikan suku bunga 50 basis poin ke 5,25% (lampaui ekspektasi pasar yang hanya 25 bps), pembelian obligasi via Bond Stabilization Framework, sampai pembatasan pembelian dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyebut langkah agresif ini sebagai preventif untuk memperkuat stabilisasi Rupiah di tengah gejolak global. Penyebab utama tekanan ke Rupiah datang dari kombinasi tiga faktor. Pertama, yield obligasi US Treasury 10 tahun yang masih di atas 4,5%, bikin selisih obligasi Indonesia dengan AS terlalu sempit dan tidak menarik untuk investor asing. Kedua, perang Iran-Israel yang berlangsung sejak Februari 2026 tetap dorong dolar AS sebagai aset safe-haven, dengan DXY Index naik 9% YTD 2026. Ketiga, ketidakpastian kebijakan Fed Chair baru Kevin Warsh yang baru dilantik 22 Mei dan belum keluarkan sinyal jelas arah suku bunga. Sebagai konteks, dalam 10 tahun terakhir Rupiah sudah melemah 29% dari Rp 13.788 di 2015 ke Rp 17.794 sekarang, walaupun masih jauh dari pelemahan Rupee India yang anjlok 44% di periode yang sama. Bagi audiens Indonesia, pelemahan Rupiah ke level ini punya implikasi langsung ke daya beli dan keputusan investasi. Barang impor dari elektronik sampai obat-obatan jadi lebih mahal, beban subsidi BBM yang sudah Rp 14,8 triliun per bulan terus membengkak, dan investor asing terus tarik dana dari pasar saham serta obligasi Indonesia. Pelaku pasar yang ingin lindungi nilai aset semakin banyak melirik instrumen lindung nilai seperti emas yang tumbuh 25% YTD 2026, Bitcoin yang naik 18% YTD, atau dolar AS langsung. Pertanyaan strategis sekarang bukan apakah Rupiah akan menguat dalam waktu dekat, tapi seberapa siap kamu hadapi tren pelemahan struktural Rupiah dalam jangka menengah. source: TWS News  #kontencom #kontencomxtws
Rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada Selasa (26/5/2026), menyentuh level Rp 17.794 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi walaupun Bank Indonesia sudah keluarkan hampir semua amunisinya minggu lalu, dari kenaikan suku bunga 50 basis poin ke 5,25% (lampaui ekspektasi pasar yang hanya 25 bps), pembelian obligasi via Bond Stabilization Framework, sampai pembatasan pembelian dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyebut langkah agresif ini sebagai preventif untuk memperkuat stabilisasi Rupiah di tengah gejolak global. Penyebab utama tekanan ke Rupiah datang dari kombinasi tiga faktor. Pertama, yield obligasi US Treasury 10 tahun yang masih di atas 4,5%, bikin selisih obligasi Indonesia dengan AS terlalu sempit dan tidak menarik untuk investor asing. Kedua, perang Iran-Israel yang berlangsung sejak Februari 2026 tetap dorong dolar AS sebagai aset safe-haven, dengan DXY Index naik 9% YTD 2026. Ketiga, ketidakpastian kebijakan Fed Chair baru Kevin Warsh yang baru dilantik 22 Mei dan belum keluarkan sinyal jelas arah suku bunga. Sebagai konteks, dalam 10 tahun terakhir Rupiah sudah melemah 29% dari Rp 13.788 di 2015 ke Rp 17.794 sekarang, walaupun masih jauh dari pelemahan Rupee India yang anjlok 44% di periode yang sama. Bagi audiens Indonesia, pelemahan Rupiah ke level ini punya implikasi langsung ke daya beli dan keputusan investasi. Barang impor dari elektronik sampai obat-obatan jadi lebih mahal, beban subsidi BBM yang sudah Rp 14,8 triliun per bulan terus membengkak, dan investor asing terus tarik dana dari pasar saham serta obligasi Indonesia. Pelaku pasar yang ingin lindungi nilai aset semakin banyak melirik instrumen lindung nilai seperti emas yang tumbuh 25% YTD 2026, Bitcoin yang naik 18% YTD, atau dolar AS langsung. Pertanyaan strategis sekarang bukan apakah Rupiah akan menguat dalam waktu dekat, tapi seberapa siap kamu hadapi tren pelemahan struktural Rupiah dalam jangka menengah. source: TWS News #kontencom #kontencomxtws

About