@xing_may090: ရည်းစားထားတာကလွယ်ပါတယ် ရည်းစားရရင်ပီးရောဆိုပြီး တွေ့ရာ လက်ဆွဲကိုင် လိုက်လို့ရပါတယ် ဒါပေ မဲ့ ကျွန်မလိုချင်တာက ရည်းစားမဟုတ်ဘူး မေတ္တာစစ်/မေတ္တာမှန်လိုချင်တာပါ။🤍#wlw #fpppppppppppppppppp

xing_may🧔🏻‍♀️
xing_may🧔🏻‍♀️
Open In TikTok:
Region: MM
Thursday 04 June 2026 09:55:44 GMT
207463
14069
11
2242

Music

Download

Comments

nankhinoo89
🤍 KXIN 🤍 :
story တင်ပါရစေ
2026-07-21 14:11:31
0
su052288
Hsu♡ :
story တင်မယ်နော်
2026-06-13 02:16:35
2
yadanarwin893
Yadanar Win🐷💓 (Yesagyo ) :
ထိမိ😁😍❤️🥰
2026-06-24 06:09:36
0
ayeayethaw6
Aye Aye Thaw🌸 :
ပြန်တင်မယ်နော်🥰
2026-06-14 15:14:55
1
thethtoo170
thethtoo170 :
မှန်တယ်
2026-06-05 12:30:20
1
maybarani75
@M♋ :
story လေးပြန်တင်မယ်နော်💗
2026-06-16 15:24:22
0
khaing.3711
🍓 :
မှန်ပါတယ် ထားဖို့လဲ အစီအစဉ် မရှိတော့ပါဘူး 🥰
2026-06-18 14:52:27
0
ger.7666
ဖူးစိန်🐒 :
storyတင်ချင်လို့ရှင့်🤎
2026-06-13 03:50:02
1
thar.thar84067
ဖိန်း❄"🕷 :
ဘယ်သူကိုမ့စောင့်နေလို့မဟုပ့ပူးရှင်
2026-06-17 14:27:00
0
chan.myae.par.zay7
🌺🫶𝓣𝓱𝓪𝓮 𝐻𝓈𝓊☀️🌱 :
စာသားလေးသဘောကျလိုပြန်တင်ခွင့်ပြုပါ🥰
2026-06-18 00:17:28
1
wai.wai.oo43
Wai Wai Oo :
ဟုတယ်😁😁🥰🥰🥰
2026-06-10 08:05:04
1
To see more videos from user @xing_may090, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada hal-hal dalam hidup yang memang bergerak di jalurnya sendiri—itulah yang sering kita sebut sebagai takdir. Ia tidak selalu bisa dinegosiasikan, apalagi diubah. Seekor macan tidak pernah “memilih” untuk menjadi karnivora; ia tidak sedang berbuat zalim ketika memangsa rusa. Menyebutnya “buas” sering kali bukan deskripsi yang adil, melainkan cara manusia menempelkan label dari sudut pandang kita sendiri. Padahal, bagi macan, itu hanyalah cara hidup—sebuah ketetapan yang tidak bisa ditinggalkan tanpa mengingkari hakikatnya. Masalahnya muncul ketika cara kita memberi label pada alam ini tanpa sadar kita bawa ke dalam cara kita menilai manusia. Kita menyebut seseorang “buas”, “rakus”, atau “kejam”, seolah-olah itu adalah takdir yang tak terelakkan seperti macan yang makan daging. Padahal, di titik inilah letak perbedaannya: manusia tidak sepenuhnya terikat seperti hewan. Ia diberi ruang untuk memilih, menahan, dan mengubah dirinya. Maka, penyifatan “buas” pada manusia sejatinya hanyalah metafora—sebuah peringatan, bukan vonis. Ketika seorang pejabat bertindak semena-mena, kita menyebutnya “seperti binatang buas”, bukan karena ia ditakdirkan demikian, tetapi karena ia menyimpang dari potensi kemanusiaannya. Di situlah makna sebenarnya: bukan menyamakan manusia dengan hewan, melainkan mengingatkan bahwa manusia bisa jatuh ke tingkat yang lebih rendah jika kehilangan kendali. Singkatnya, tidak semua yang terlihat “keras” atau “liar” itu buruk dalam dirinya. Pada alam, itu adalah takdir. Pada manusia, itu adalah pilihan—dan di situlah tanggung jawab dimulai. Bacaan lanjutan yang relevan: - Ihya' Ulumuddin — pembahasan mendalam tentang nafsu, akhlak, dan pengendalian diri. - Al-Hikam — refleksi singkat tentang takdir, usaha, dan sikap batin manusia. - Man's Search for Meaning — perspektif modern tentang kebebasan memilih makna dalam keterbatasan takdir. - The Republic — terutama bagian tentang jiwa dan keadilan, relevan untuk memahami “kebinatangan” dalam diri manusia. 📽 CakNun.com  #maiyahan #caknun #maiyahindonesia
Ada hal-hal dalam hidup yang memang bergerak di jalurnya sendiri—itulah yang sering kita sebut sebagai takdir. Ia tidak selalu bisa dinegosiasikan, apalagi diubah. Seekor macan tidak pernah “memilih” untuk menjadi karnivora; ia tidak sedang berbuat zalim ketika memangsa rusa. Menyebutnya “buas” sering kali bukan deskripsi yang adil, melainkan cara manusia menempelkan label dari sudut pandang kita sendiri. Padahal, bagi macan, itu hanyalah cara hidup—sebuah ketetapan yang tidak bisa ditinggalkan tanpa mengingkari hakikatnya. Masalahnya muncul ketika cara kita memberi label pada alam ini tanpa sadar kita bawa ke dalam cara kita menilai manusia. Kita menyebut seseorang “buas”, “rakus”, atau “kejam”, seolah-olah itu adalah takdir yang tak terelakkan seperti macan yang makan daging. Padahal, di titik inilah letak perbedaannya: manusia tidak sepenuhnya terikat seperti hewan. Ia diberi ruang untuk memilih, menahan, dan mengubah dirinya. Maka, penyifatan “buas” pada manusia sejatinya hanyalah metafora—sebuah peringatan, bukan vonis. Ketika seorang pejabat bertindak semena-mena, kita menyebutnya “seperti binatang buas”, bukan karena ia ditakdirkan demikian, tetapi karena ia menyimpang dari potensi kemanusiaannya. Di situlah makna sebenarnya: bukan menyamakan manusia dengan hewan, melainkan mengingatkan bahwa manusia bisa jatuh ke tingkat yang lebih rendah jika kehilangan kendali. Singkatnya, tidak semua yang terlihat “keras” atau “liar” itu buruk dalam dirinya. Pada alam, itu adalah takdir. Pada manusia, itu adalah pilihan—dan di situlah tanggung jawab dimulai. Bacaan lanjutan yang relevan: - Ihya' Ulumuddin — pembahasan mendalam tentang nafsu, akhlak, dan pengendalian diri. - Al-Hikam — refleksi singkat tentang takdir, usaha, dan sikap batin manusia. - Man's Search for Meaning — perspektif modern tentang kebebasan memilih makna dalam keterbatasan takdir. - The Republic — terutama bagian tentang jiwa dan keadilan, relevan untuk memahami “kebinatangan” dalam diri manusia. 📽 CakNun.com #maiyahan #caknun #maiyahindonesia

About