@theorytestpassed: #drivingtest #drivinglicence #ukdriving #theorytestuk #fypuk🇬🇧📍

Theorytestpassed
Theorytestpassed
Open In TikTok:
Region: CM
Thursday 04 June 2026 14:56:41 GMT
688
30
1
9

Music

Download

Comments

theorytestpassed
Theorytestpassed :
🥰
2026-06-05 11:18:45
0
To see more videos from user @theorytestpassed, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov : Semua berawal dari keputusan egois orang tua. Seharusnya yang dijodohkan dengan Ni-ki adalah adikmu. Dia yang dipilih, dia yang disiapkan, dia yang dijanjikan. Tapi adikmu memilih kabur. Pergi ke luar negeri tanpa pamit. Meninggalkan semuanya termasuk tanggung jawab itu. Dan seperti hukum tidak tertulis dalam keluarga kalian yang tersisa harus menggantikan.  “Aku gak mau!” bentakmu saat itu juga.    Ruang keluarga terasa begitu sempit, seolah dinding-dinding itu semakin menekan. Tatapan orang tuamu sedingin es, tanpa belas kasihan, tanpa ruang untuk negosiasi.   “Kamu pikir keluarga Ni-ki bisa kita tolak seenaknya? Reputasi keluarga taruhannya!” hardik ayah.   Kamu menggertakkan gigi. “Kenapa harus aku?!” “Karena cuma kamu yang ada di sini sekarang! lagipula, toh kamu juga nggak punya pasangan. Mending langsung nikah, selesai masalah.” jawab ibumu dengan nada setengah menyindir.  Kalimat itu menghancurkan egomu berkeping-keping. Seolah-olah kebahagiaanmu tidak ada artinya, hanya sekadar alat tukar untuk menutup aib.   •••• Hari pertemuan pertama setelah keputusan bulat itu diambil, kamu datang dengan wajah datar, penuh penolakan. Kamu berjalan dengan bahu tegap, meski di dalam hati hancur.   Dan dia?   Ni-ki duduk dengan sangat santai di sofa ruang tamu, kaki kanan disilangkan di atas kaki kiri. Tatapannya tajam, menatapmu bukan sebagai calon istri, melainkan seperti sedang melihat sesuatu yang sangat mengganggu pandangannya.   “Oh… jadi lo penggantinya?” ucapnya pelan, tapi nadanya begitu meremehkan.   “Kalo lo keberatan, gue juga sama,” balasmu tak kalah tajam, mencoba melindungi harga diri.   Dia menyeringai tipis. “Bagus. Berarti kita sepakat. Ini cuma soal bisnis dan nama baik keluarga.”   Tidak ada cinta. Tidak ada ketertarikan. Yang ada hanya benturan ego dan kebencian yang sama-sama dipendam.   Pernikahan itu tetap terlaksana.  Hari-hari setelahnya?   Rumah itu lebih terasa seperti medan perang daripada tempat tinggal.   “Jangan taruh barang lo sembarangan! Berantakan banget sih!” teriak Ni-ki.   “Ini rumah gue juga! Gue mau taruh di mana aja hak gue!” balasmu tak mau kalah.   “Lo bikin konsentrasi gue buyar!”   “Lo yang nyebelin! Sombong banget jadi orang!”   Piring pernah hampir terlempar pecah. Pintu kamar sering dibanting keras hingga dinding bergetar. Setiap tatapan selalu penuh tantangan.  Tidak ada yang mau kalah. Bahkan hal sekecil apa pun bisa memicu perang besar.   Seperti pagi itu—   “Kenapa kopi gue kurang gula?” protes Ni-ki.    Kamu meliriknya sekilas tanpa minat, lalu kembali menyendok nasi. “Bikin sendiri kalau gak cocok.”   “Lo istri gue. Tugas lo ngurusin gue.”   Kamu berhenti mengunyah, menatapnya tajam. “Sayangnya, gue istri lo, bukan pembantu lo.”   Dia menghela napas panjang, mencoba menahan emosi.    “Oke, kalau lo gak mau berperan sebagai istri dengan baik… gue juga gak akan berperan sebagai suami. Jangan harap lo dapat apa-apa dari gue.”   Kamu tersenyum sinis, tertawa kecil mengejek. “Bagus. Memang dari awal kesepakatannya begitu, kan? Kita sama-sama terpaksa.” ••• Namun, siang itu terasa berbeda.   Suasana rumah anehnya lebih sepi dari biasanya. Hanya terdengar suara halus kertas yang dibolak-balik dari arah ruang kerja. Ni-ki duduk di kursi kerjanya, fokus total pada tumpukan berkas di depannya. Ekspresinya serius, alisnya sedikit berkerut saat membaca sesuatu yang rumit.   Kamu berdiri diam di ambang pintu.   Menatapnya.   Aneh. Untuk pertama kalinya tidak ada rasa kesal, yang ada hanya pikiran kosong.    Kamu menggeleng pelan, mencoba menghilangkan pikiran aneh itu. “Apaan sih, gila kali…” gumammu pelan pada diri sendiri. Tapi, kakimu tidak berbalik pergi. Justru melangkah masuk.   Satu langkah. Dua langkah.   Semakin dekat, hingga kamu berdiri tepat di samping mejanya. “Jangan ganggu, gue lagi sibu—” ucap Ni-ki cepat, tapi kalimatnya terhenti karena tiba-tiba, tanpa pikir panjang, tanganmu menarik kerah kemejanya kasar, lalu kamu mencium bibirnya.   Cup.   Dunia seakan berhenti berputar.   Sunyi. Sangat sunyi. [+Saluran/dm (link di bio)]  #ni_ki #enhypen #fyp #xybca
#pov : Semua berawal dari keputusan egois orang tua. Seharusnya yang dijodohkan dengan Ni-ki adalah adikmu. Dia yang dipilih, dia yang disiapkan, dia yang dijanjikan. Tapi adikmu memilih kabur. Pergi ke luar negeri tanpa pamit. Meninggalkan semuanya termasuk tanggung jawab itu. Dan seperti hukum tidak tertulis dalam keluarga kalian yang tersisa harus menggantikan. “Aku gak mau!” bentakmu saat itu juga. Ruang keluarga terasa begitu sempit, seolah dinding-dinding itu semakin menekan. Tatapan orang tuamu sedingin es, tanpa belas kasihan, tanpa ruang untuk negosiasi. “Kamu pikir keluarga Ni-ki bisa kita tolak seenaknya? Reputasi keluarga taruhannya!” hardik ayah. Kamu menggertakkan gigi. “Kenapa harus aku?!” “Karena cuma kamu yang ada di sini sekarang! lagipula, toh kamu juga nggak punya pasangan. Mending langsung nikah, selesai masalah.” jawab ibumu dengan nada setengah menyindir. Kalimat itu menghancurkan egomu berkeping-keping. Seolah-olah kebahagiaanmu tidak ada artinya, hanya sekadar alat tukar untuk menutup aib. •••• Hari pertemuan pertama setelah keputusan bulat itu diambil, kamu datang dengan wajah datar, penuh penolakan. Kamu berjalan dengan bahu tegap, meski di dalam hati hancur. Dan dia? Ni-ki duduk dengan sangat santai di sofa ruang tamu, kaki kanan disilangkan di atas kaki kiri. Tatapannya tajam, menatapmu bukan sebagai calon istri, melainkan seperti sedang melihat sesuatu yang sangat mengganggu pandangannya. “Oh… jadi lo penggantinya?” ucapnya pelan, tapi nadanya begitu meremehkan. “Kalo lo keberatan, gue juga sama,” balasmu tak kalah tajam, mencoba melindungi harga diri. Dia menyeringai tipis. “Bagus. Berarti kita sepakat. Ini cuma soal bisnis dan nama baik keluarga.” Tidak ada cinta. Tidak ada ketertarikan. Yang ada hanya benturan ego dan kebencian yang sama-sama dipendam. Pernikahan itu tetap terlaksana. Hari-hari setelahnya? Rumah itu lebih terasa seperti medan perang daripada tempat tinggal. “Jangan taruh barang lo sembarangan! Berantakan banget sih!” teriak Ni-ki. “Ini rumah gue juga! Gue mau taruh di mana aja hak gue!” balasmu tak mau kalah. “Lo bikin konsentrasi gue buyar!” “Lo yang nyebelin! Sombong banget jadi orang!” Piring pernah hampir terlempar pecah. Pintu kamar sering dibanting keras hingga dinding bergetar. Setiap tatapan selalu penuh tantangan. Tidak ada yang mau kalah. Bahkan hal sekecil apa pun bisa memicu perang besar. Seperti pagi itu— “Kenapa kopi gue kurang gula?” protes Ni-ki. Kamu meliriknya sekilas tanpa minat, lalu kembali menyendok nasi. “Bikin sendiri kalau gak cocok.” “Lo istri gue. Tugas lo ngurusin gue.” Kamu berhenti mengunyah, menatapnya tajam. “Sayangnya, gue istri lo, bukan pembantu lo.” Dia menghela napas panjang, mencoba menahan emosi. “Oke, kalau lo gak mau berperan sebagai istri dengan baik… gue juga gak akan berperan sebagai suami. Jangan harap lo dapat apa-apa dari gue.” Kamu tersenyum sinis, tertawa kecil mengejek. “Bagus. Memang dari awal kesepakatannya begitu, kan? Kita sama-sama terpaksa.” ••• Namun, siang itu terasa berbeda. Suasana rumah anehnya lebih sepi dari biasanya. Hanya terdengar suara halus kertas yang dibolak-balik dari arah ruang kerja. Ni-ki duduk di kursi kerjanya, fokus total pada tumpukan berkas di depannya. Ekspresinya serius, alisnya sedikit berkerut saat membaca sesuatu yang rumit. Kamu berdiri diam di ambang pintu. Menatapnya. Aneh. Untuk pertama kalinya tidak ada rasa kesal, yang ada hanya pikiran kosong. Kamu menggeleng pelan, mencoba menghilangkan pikiran aneh itu. “Apaan sih, gila kali…” gumammu pelan pada diri sendiri. Tapi, kakimu tidak berbalik pergi. Justru melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Semakin dekat, hingga kamu berdiri tepat di samping mejanya. “Jangan ganggu, gue lagi sibu—” ucap Ni-ki cepat, tapi kalimatnya terhenti karena tiba-tiba, tanpa pikir panjang, tanganmu menarik kerah kemejanya kasar, lalu kamu mencium bibirnya. Cup. Dunia seakan berhenti berputar. Sunyi. Sangat sunyi. [+Saluran/dm (link di bio)] #ni_ki #enhypen #fyp #xybca

About