@zuliya.290: Opening statements #karmeloanothony #austinmetcalf #fypシ #viral

Zuliya 290
Zuliya 290
Open In TikTok:
Region: US
Friday 05 June 2026 06:17:09 GMT
5181
30
18
4

Music

Download

Comments

jeanne22505
Jeanne baker :
Karmelo’s lawyers got to decide who the jurors that were selected
2026-06-05 06:36:37
12
tamarabryant65
tamarabryant65 :
You are
2026-06-06 02:38:09
0
breedcanecorsos
breedcanecorsos :
2026-06-05 07:07:55
4
jcsp81
jcsp81 :
This is a good take - but the kid is getting one of the best defense attorneys in the Dallas Fort Worth area. His name is Mike Howard. He will get a fair trial. People in this area are moderate.
2026-06-05 22:03:08
0
tom553225
Tom55 :
I heard that...5.9 and 6.0…..
2026-06-05 15:43:15
0
roger.bower6
Roger Bower ❌️ :
Karmelo is guilty that simple
2026-06-05 16:14:26
8
user8767235612824
user8767235612824 :
Any murder is senseless
2026-06-05 16:04:02
5
jaymort6
Jay mort :
He didn’t run for safety and look for somebody. He ran out of the stadium and tried to blend in with the crown and get away. He’s guilty.
2026-06-05 19:27:12
3
user33961076587434
Saltwater Savage :
hes guilty
2026-06-05 15:03:37
3
donalddavis637
Don :
his own tean wanted 3 black women removed from the jury pool
2026-06-06 00:25:14
1
billy.wilson160
Billy Wilson :
The possible black jurors said they could be impartial so they were struck from the pool
2026-06-05 19:21:23
2
hr_guy
Live4Today :
Would anything be said on social media if all the jurors were black?
2026-06-05 10:10:36
3
appleuser699246911
appleuser699246911 :
They removed the three black jurors because they were all k-12 educators and the prosecution did not want there to be any sort of bias.
2026-06-05 07:26:09
2
danieldeleon9966
Daniel Deleon996 :
See every one is missing the point.a prohibited weapon was brought on school grounds. It was premeditated.
2026-06-05 19:57:11
1
user495432077
user495432077 :
People are gonna have to understand. Just because you’re small doesn’t mean a thing. A gun or a knife makes us all 6 foot 1 and 215 lbs. be aware. Don’t assume. Mind your business. Walk away
2026-06-05 23:35:01
0
To see more videos from user @zuliya.290, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Puluhan ribu orang larut dalam gemuruh musik. Lampu panggung berkilauan, suara penyanyi menggema, tepuk tangan bersahutan. Namun di tengah semarak konser Wali itu, perhatian justru tertuju pada sebuah baki berisi air mineral. Malam itu, Minggu (06/09/2026), Lapangan Sor Sengon menjadi bagian dari rangkaian hari keempat Peringatan Harlah dan Tasyakuran Ke-7 Sabilu Taubah. Sejak pagi hingga malam, beragam hiburan ditampilkan untuk para jamaah dan penonton yang hadir. Seusai kumandang salat Isak, jarum jam menunjukkan pukul 19.30. Lapangan perlahan dipenuhi penonton. Kilat cahaya lampu dari atas panggung berpadu dengan deretan gambar dan teks bergerak, menandai opening penampilan grup band “Wali” dari Jakarta. Faank (vokal), Apoy (gitar), Tommy (bass), dan Ovie (keyboard) mulai menunjukkan aksinya. Sang vokalis, Faank, menyapa puluhan ribu penonton yang sejak sore berdatangan. Sambutan meriah pun menggema. Lagu-lagu seperti Cari Jodoh, Aku bukan Bang Toyib, Tobat Maksiat, dan Emang Dasar menghidupkan suasana. Suara khas Faank berpadu dengan gitar, bass, keyboard, dan drum. Musik mengalir, membuat penonton ikut bernyanyi dan bergembira. Di antara mereka, Gus Iqdam pun larut dalam suasana. Dengan pakaian sederhana seperti biasanya, mengenakan kain sarung, kaos berpadu jaket, dan pecis hitam, Gus Iqdam menikmati konser bersama penonton lainnya. Sesekali ia tampak ikut bernyanyi sambil mengangkat tangan dan bertepuk tangan mengikuti irama. Namun, di tengah kemeriahan itu, sebuah pemandangan sederhana tiba-tiba mencuri perhatian. Seorang pedagang asongan penjual air mineral berkeliling membawa baki di tengah acara konser. Gus Iqdam kemudian mendekatinya. Melihat itu, Gus Iqdam langsung memborong minuman tersebut. Bukan untuk dirinya sendiri. Sambil membawa baki, Gus Iqdam berjalan di tengah kerumunan dan membagikan puluhan botol air mineral kepada penonton. Sambil terus bernyanyi, ia memberikan air tersebut secara gratis. Para penonton pun menyambut dengan senang hati. Di sinilah psikologi emotional contagion terasa nyata. Kegembiraan seseorang dapat menular kepada orang lain melalui ekspresi, perilaku, dan suasana yang tercipta. Musik telah menghadirkan kegembiraan, tetapi tindakan berbagi membuat kegembiraan itu menemukan bentuk yang lebih nyata. Dalam komunikasi, pesan juga tidak selalu lahir dari kata-kata. Komunikasi nonverbal bekerja melalui gerak, ekspresi, dan tindakan. Tanpa perlu banyak berbicara, Gus Iqdam menyampaikan pesan sederhana melalui sebuah baki: kebahagiaan akan terasa lebih berarti ketika dibagikan. Dalam perspektif tasawuf, sikap seperti itu dekat dengan konsep ikhlas: melakukan kebaikan tanpa menjadikan diri sebagai pusat perhatian. Nilai sebuah pemberian bukan hanya terletak pada apa yang diberikan, tetapi juga pada ketulusan ketika memberikannya. Falsafah Jawa “sepi ing pamrih, rame ing gawe” pun terasa menemukan bentuknya malam itu. Tidak banyak kata, tetapi ada tindakan. Tidak perlu mencari sorotan, tetapi manfaatnya dirasakan banyak orang. Kemeriahan konser pun tetap berjalan dengan aman. Puluhan ribu penonton menikmati malam tanpa satu kericuhan pun terjadi. Hingga akhirnya, Gus Iqdam menutup konser dengan doa bersama Wali Band dan seluruh penonton. Malam itu, panggung memang dipenuhi cahaya. Musik juga telah mengguncang udara. Tetapi mungkin, kenangan yang paling lama tinggal justru bukan tentang kerasnya suara atau gemerlap lampu. Melainkan tentang sebuah baki sederhana yang berpindah dari tangan seorang pedagang, ke tangan Gus Iqdam, lalu kepada puluhan penonton. Sebuah baki yang mengingatkan kita: kadang-kadang, pesan tentang kebaikan tidak perlu disampaikan dengan kalimat panjang. Cukup dilakukan dengan tulus, lalu biarkan kebaikan itu menemukan jalannya sendiri dari satu hati ke hati yang lain. *Abdullah Al-Kafi Pegiat Literasi/Penulis Buku Gus Iqdam/Guru MTs Negeri 2 Magelang. #GusIqdam #HarlahSabiluTaubah7 #WaliBand #KebaikanBerbagi
Puluhan ribu orang larut dalam gemuruh musik. Lampu panggung berkilauan, suara penyanyi menggema, tepuk tangan bersahutan. Namun di tengah semarak konser Wali itu, perhatian justru tertuju pada sebuah baki berisi air mineral. Malam itu, Minggu (06/09/2026), Lapangan Sor Sengon menjadi bagian dari rangkaian hari keempat Peringatan Harlah dan Tasyakuran Ke-7 Sabilu Taubah. Sejak pagi hingga malam, beragam hiburan ditampilkan untuk para jamaah dan penonton yang hadir. Seusai kumandang salat Isak, jarum jam menunjukkan pukul 19.30. Lapangan perlahan dipenuhi penonton. Kilat cahaya lampu dari atas panggung berpadu dengan deretan gambar dan teks bergerak, menandai opening penampilan grup band “Wali” dari Jakarta. Faank (vokal), Apoy (gitar), Tommy (bass), dan Ovie (keyboard) mulai menunjukkan aksinya. Sang vokalis, Faank, menyapa puluhan ribu penonton yang sejak sore berdatangan. Sambutan meriah pun menggema. Lagu-lagu seperti Cari Jodoh, Aku bukan Bang Toyib, Tobat Maksiat, dan Emang Dasar menghidupkan suasana. Suara khas Faank berpadu dengan gitar, bass, keyboard, dan drum. Musik mengalir, membuat penonton ikut bernyanyi dan bergembira. Di antara mereka, Gus Iqdam pun larut dalam suasana. Dengan pakaian sederhana seperti biasanya, mengenakan kain sarung, kaos berpadu jaket, dan pecis hitam, Gus Iqdam menikmati konser bersama penonton lainnya. Sesekali ia tampak ikut bernyanyi sambil mengangkat tangan dan bertepuk tangan mengikuti irama. Namun, di tengah kemeriahan itu, sebuah pemandangan sederhana tiba-tiba mencuri perhatian. Seorang pedagang asongan penjual air mineral berkeliling membawa baki di tengah acara konser. Gus Iqdam kemudian mendekatinya. Melihat itu, Gus Iqdam langsung memborong minuman tersebut. Bukan untuk dirinya sendiri. Sambil membawa baki, Gus Iqdam berjalan di tengah kerumunan dan membagikan puluhan botol air mineral kepada penonton. Sambil terus bernyanyi, ia memberikan air tersebut secara gratis. Para penonton pun menyambut dengan senang hati. Di sinilah psikologi emotional contagion terasa nyata. Kegembiraan seseorang dapat menular kepada orang lain melalui ekspresi, perilaku, dan suasana yang tercipta. Musik telah menghadirkan kegembiraan, tetapi tindakan berbagi membuat kegembiraan itu menemukan bentuk yang lebih nyata. Dalam komunikasi, pesan juga tidak selalu lahir dari kata-kata. Komunikasi nonverbal bekerja melalui gerak, ekspresi, dan tindakan. Tanpa perlu banyak berbicara, Gus Iqdam menyampaikan pesan sederhana melalui sebuah baki: kebahagiaan akan terasa lebih berarti ketika dibagikan. Dalam perspektif tasawuf, sikap seperti itu dekat dengan konsep ikhlas: melakukan kebaikan tanpa menjadikan diri sebagai pusat perhatian. Nilai sebuah pemberian bukan hanya terletak pada apa yang diberikan, tetapi juga pada ketulusan ketika memberikannya. Falsafah Jawa “sepi ing pamrih, rame ing gawe” pun terasa menemukan bentuknya malam itu. Tidak banyak kata, tetapi ada tindakan. Tidak perlu mencari sorotan, tetapi manfaatnya dirasakan banyak orang. Kemeriahan konser pun tetap berjalan dengan aman. Puluhan ribu penonton menikmati malam tanpa satu kericuhan pun terjadi. Hingga akhirnya, Gus Iqdam menutup konser dengan doa bersama Wali Band dan seluruh penonton. Malam itu, panggung memang dipenuhi cahaya. Musik juga telah mengguncang udara. Tetapi mungkin, kenangan yang paling lama tinggal justru bukan tentang kerasnya suara atau gemerlap lampu. Melainkan tentang sebuah baki sederhana yang berpindah dari tangan seorang pedagang, ke tangan Gus Iqdam, lalu kepada puluhan penonton. Sebuah baki yang mengingatkan kita: kadang-kadang, pesan tentang kebaikan tidak perlu disampaikan dengan kalimat panjang. Cukup dilakukan dengan tulus, lalu biarkan kebaikan itu menemukan jalannya sendiri dari satu hati ke hati yang lain. *Abdullah Al-Kafi Pegiat Literasi/Penulis Buku Gus Iqdam/Guru MTs Negeri 2 Magelang. #GusIqdam #HarlahSabiluTaubah7 #WaliBand #KebaikanBerbagi

About