@selirjuhoon: POV: Kamu selalu percaya, waktu paling jujur adalah saat senja. Langit tidak memaksa untuk terang, tidak juga buru-buru menjadi gelap. Ia hanya berubah perlahan, seakan memberi ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak dan mengakui lelahnya. Hari itu kamu duduk di bangku kayu dekat danau. Angin membawa aroma tanah basah setelah hujan sore. Di tanganmu ada buku yang sudah tiga halaman tidak berbalik. Bukan karena ceritanya membosankan. Hanya karena pikiranmu terlalu sibuk menata ulang kata-kata yang ingin kamu ucapkan kepadanya. "Senja ini cantik sekali," Suara Seonghyeon datang dari belakang, tenang seperti biasa. Ia duduk di sampingmu tanpa banyak tanya. Tidak pernah memaksa kamu bicara lebih dulu. Itu hal yang paling kamu sukai darinya. "Setiap hari memang cantik," jawabmu pelan, "hanya saja kita jarang benar-benar melihatnya." Ia tertawa kecil. "Maka mulai hari ini, kita lihat bersama." Kalian diam. Tidak ada janji yang diucapkan, tidak ada sumpah yang dibuat. Hanya dua orang yang membiarkan langit mengecat wajah kalian dengan warna jingga, keemasan, lalu ungu pudar. Kamu meliriknya dari sudut mata. Ia menatap lurus ke depan, tapi bibirnya sedikit terangkat. Seakan ia tahu kamu sedang memperhatikannya. "Seonghyeon," panggilanmu. "Hm?" "Kalau suatu hari kita tidak bisa duduk di sini lagi... apakah senja ini masih akan milik kita?" Ia menoleh. Mata hitamnya memantulkan langit yang perlahan meredup. Lama ia tidak menjawab. Lalu ia mengulurkan tangan, menyentuh ujung jari kelingkingmu. Tidak menggenggam. Hanya menyentuh. Seakan berkata: aku di sini. "Selama kita mau mengingatnya," ucapnya, "senja ini akan selalu milik kita. Tidak ada waktu, tidak ada jarak yang bisa mengambilnya." Angin berhembus lagi. Daun jatuh satu per satu ke permukaan danau, membuat riak yang segera hilang. Sama seperti waktu. Datang, lalu pergi. Tapi bekasnya tetap ada. Kamu bersandar sedikit ke arahnya. Ia tidak menjauh. Dan untuk pertama kalinya, kamu mengerti. Cinta tidak selalu harus tentang memiliki selamanya. Kadang cukup tentang satu senja yang kalian sepakati untuk tidak dilupakan. Langit akhirnya gelap. Lampu jalan menyala satu per satu. Seonghyeon berdiri, merapikan kerahnya. "Pulang?" tanyanya. Kamu mengangguk. "Pulang. Tapi senjanya kita bawa." Ia tersenyum. Senyum yang tidak akan pernah kamu ceritakan pada siapa pun, karena kamu ingin menyimpannya utuh. Hanya untukmu. Hanya untuk senja ini. Milik kalian. #SEONGHYEON #alternativeuniverse #moots?

🐢
🐢
Open In TikTok:
Region: ID
Friday 05 June 2026 09:29:50 GMT
3182
1086
2
62

Music

Download

Comments

selirjuhoon
🐢 :
1).Kamu berdiri bersama Seonghyeon. Bangku kayu itu kalian tinggalkan, tapi rasa hangatnya masih menempel di telapak tanganmu. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, memanjang seperti untaian mutiara yang menuntun kalian pulang. Jalan setapak di tepi danau sepi. Hanya terdengar suara langkah kalian yang tidak beraturan, sesekali beradu karena kalian berjalan terlalu dekat. Tidak ada yang berani memecah diam lebih dulu. Seakan kata-kata bisa membuat senja yang baru saja kalian simpan menjadi rapuh. "Kamu dingin?" tanya Seonghyeon tiba-tiba. Ia melepas cardigan abu-abunya tanpa menunggu jawaban. "Bau deterjen sabun," gumammu pelan sambil menarik kerahnya lebih dekat. Hangatnya bukan hanya dari benang wol. Hangatnya dari orang yang meminjamkannya. Ia tersenyum kecil, "Bagus kalau begitu. Berarti dia berguna." Kalian berhenti di bawah satu lampu jalan yang cahayanya paling terang. Bayangan kalian jatuh ke aspal, berdekatan tapi tidak bersentuhan. Kamu menatap bayangan itu lama. Dua siluet yang berjalan seirama, padahal jarak aslinya masih ada satu kepalan tangan. "Seonghyeon," kamu memanggil lagi. Kali ini suaramu lebih kecil. "Iya?" "Terima kasih sudah mau menemani senja ini. Aku kira aku akan menghabiskannya sendirian seperti biasa."
2026-06-05 09:34:12
2
To see more videos from user @selirjuhoon, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About