@_rtadf: يايابهه يابويهه😹😹#تصميم_فيديوهات🎶🎤🎬 #مشاهدات100k🔥 #الحجي_ابو_نسر #فيديو_ستار #لايكات

↷ ᷂گكفووش.🌴🐒 ⤾ ᷂⤹
↷ ᷂گكفووش.🌴🐒 ⤾ ᷂⤹
Open In TikTok:
Region: IQ
Sunday 07 June 2026 04:50:23 GMT
42190
1930
73
313

Music

Download

Comments

roro_201214
✯♯̶أبؤطوفاטּ¹﮼⤹.🇰🇼🍃↯ :
ما فهمتت
2026-06-07 09:10:28
2
b7_.o
بقوري 💯😅 :
هههههههه
2026-06-07 07:05:00
1
n88.w2
علاوي ال كاظـم :
2026-06-07 14:28:17
0
.s47038
✗؍أإسجيـנأإטּ¹⁰¦🇰🇼 :
ماشالله 🥰
2026-06-07 15:16:49
0
user671122369025
حسون🖤🤏 :
2026-06-07 14:58:24
0
o.sw_
الضالمي 😇 :
ككـبيرر ❣️🔥.
2026-06-07 05:03:09
0
m_z_921_
🤪 :
الموسيقه الله عليك هههه 😂
2026-06-07 14:15:58
1
cr1f2
. :
يًـابّـويـة 😂😂
2026-06-07 05:04:22
0
To see more videos from user @_rtadf, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sekarang banyak orang Kristen aktif melayani di gereja. Kita mungkin menjadi pemimpin pujian, pengkhotbah, pengajar sekolah minggu, atau bahkan melakukan misi ke berbagai tempat. Kita berbicara dengan lembut, penuh kasih, dan sabar kepada jemaat atau orang-orang yang kita layani. Namun, pernahkah kita merenung, apakah sikap kita di gereja selaras dengan sikap kita di rumah? Apakah kita melayani dengan penuh kasih di gereja, tetapi di rumah kita kasar, pemarah, atau tidak sabar terhadap pasangan dan anak-anak? Rasul Paulus dalam Efesus 4:29 mengingatkan kita untuk tidak mengeluarkan perkataan kotor, melainkan perkataan yang membangun dan membawa kasih karunia. Banyak dari kita terjebak dalam kemunafikan rohani. Kita mampu menampilkan citra yang saleh dan penuh kasih di hadapan jemaat, tetapi di balik pintu rumah, kita menjadi pribadi yang berbeda. Kita mungkin fasih berbicara tentang kasih Tuhan di gereja, tetapi di rumah kita menyakiti hati orang-orang terdekat dengan kata-kata kasar, kritik yang menghancurkan, atau sikap dingin. Kita lupa bahwa pelayanan yang sejati dimulai dari rumah. Ketika kita melayani di gereja, tetapi kasar di rumah, maka pelayanan kita menjadi topeng yang menutupi hati yang keras. Kita mencemarkan nama Tuhan dan menjadi batu sandungan bagi keluarga kita sendiri. Renungan ini memanggil kita untuk menyelaraskan pelayanan kita dengan hidup kita, terutama di lingkungan terdekat kita: keluarga. Tuhan tidak butuh pelayanan yang hebat dari hati yang tidak mengasihi. Dia merindukan hati yang penuh kasih, yang melayani dengan motivasi yang murni, dan yang melihat setiap orang yang dilayani sebagai pribadi yang berharga di mata-Nya, dimulai dari keluarga kita sendiri. Mari kita berhenti berpura-pura. Biarkan setiap pelayanan yang kita lakukan lahir dari hati yang penuh kasih kepada Tuhan dan sesama. Biarkan Roh Kudus mengubah hati kita, sehingga perkataan dan sikap kita di rumah pun mencerminkan kasih Kristus. Hanya dengan hati yang diubahkan, pelayanan kita akan menjadi berkenan di hadapan Tuhan dan membawa berkat bagi keluarga kita.
Sekarang banyak orang Kristen aktif melayani di gereja. Kita mungkin menjadi pemimpin pujian, pengkhotbah, pengajar sekolah minggu, atau bahkan melakukan misi ke berbagai tempat. Kita berbicara dengan lembut, penuh kasih, dan sabar kepada jemaat atau orang-orang yang kita layani. Namun, pernahkah kita merenung, apakah sikap kita di gereja selaras dengan sikap kita di rumah? Apakah kita melayani dengan penuh kasih di gereja, tetapi di rumah kita kasar, pemarah, atau tidak sabar terhadap pasangan dan anak-anak? Rasul Paulus dalam Efesus 4:29 mengingatkan kita untuk tidak mengeluarkan perkataan kotor, melainkan perkataan yang membangun dan membawa kasih karunia. Banyak dari kita terjebak dalam kemunafikan rohani. Kita mampu menampilkan citra yang saleh dan penuh kasih di hadapan jemaat, tetapi di balik pintu rumah, kita menjadi pribadi yang berbeda. Kita mungkin fasih berbicara tentang kasih Tuhan di gereja, tetapi di rumah kita menyakiti hati orang-orang terdekat dengan kata-kata kasar, kritik yang menghancurkan, atau sikap dingin. Kita lupa bahwa pelayanan yang sejati dimulai dari rumah. Ketika kita melayani di gereja, tetapi kasar di rumah, maka pelayanan kita menjadi topeng yang menutupi hati yang keras. Kita mencemarkan nama Tuhan dan menjadi batu sandungan bagi keluarga kita sendiri. Renungan ini memanggil kita untuk menyelaraskan pelayanan kita dengan hidup kita, terutama di lingkungan terdekat kita: keluarga. Tuhan tidak butuh pelayanan yang hebat dari hati yang tidak mengasihi. Dia merindukan hati yang penuh kasih, yang melayani dengan motivasi yang murni, dan yang melihat setiap orang yang dilayani sebagai pribadi yang berharga di mata-Nya, dimulai dari keluarga kita sendiri. Mari kita berhenti berpura-pura. Biarkan setiap pelayanan yang kita lakukan lahir dari hati yang penuh kasih kepada Tuhan dan sesama. Biarkan Roh Kudus mengubah hati kita, sehingga perkataan dan sikap kita di rumah pun mencerminkan kasih Kristus. Hanya dengan hati yang diubahkan, pelayanan kita akan menjadi berkenan di hadapan Tuhan dan membawa berkat bagi keluarga kita.

About