@rox_7i0: #القلب_ابو_جعبل#يافع_الارض_الطيبه #عمر_العماري #اكسبلور #طسه_يافع_ذي_ناخب_سباح🌷🤍

عـمــًر || ✪ 🐆•
عـمــًر || ✪ 🐆•
Open In TikTok:
Region: YE
Sunday 07 June 2026 15:21:24 GMT
291
68
17
4

Music

Download

Comments

.2762540
ابو حرب اليافعي :
منورين
2026-06-07 16:09:15
1
.71152104
حمودي الناخبي711☠️🇶🇦 :
منورين 🥰🥰
2026-06-07 16:11:42
1
dynseceogb3g
السيد حسين :
منورين حفظكم الله
2026-06-07 18:08:44
1
mhamdmhsnylamary
محمد العماري :
منورين 👍😇👍
2026-06-07 16:14:46
1
mhmdsalm578
قران كريم 🌿 :
منورين ♥️♥️
2026-06-07 17:39:15
1
aaafxffg
آلَيـإفعـًٌٍّ̨̥̬̩بّےـY-10 :
منورين ربي يسعدكم
2026-06-07 17:40:28
0
abuoodlohmah
اللحمه اليافعي :
منورين 🥰❤️
2026-06-07 18:18:51
0
user4624168392781
Ą :
منورين
2026-06-07 22:09:36
0
user6206083045265
ابو صقر العصري اليافعي :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
2026-06-07 15:26:37
1
.__rodrito
بن عنكزان-Y-2006 :
♥️♥️♥️
2026-06-07 15:41:05
1
user42184675305088
علي العماري :
♥️♥️♥️
2026-06-07 20:05:50
0
To see more videos from user @rox_7i0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#POV Menjadi pengasuh untuk seseorang yang mempunyai dua kepribadian adalah pekerjaan dengan bayaran tertinggi yang pernah kamu terima, sekaligus yang paling menguras seluruh energi serta ketahananmu.  Juhoon bukanlah laki-laki berusia 21 tahun pada umumnya; jiwanya terbelah ke dalam dua sosok yang bertolak belakang, seolah matahari dan malam berebut takhta di dalam tubuhnya. Ketika waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, keheningan rumah megah ini seketika pecah.  Suara cempreng seseorang membuat perhatianmu teralihkan. “Kakak! Lihat, aku berhasil membuat pancake bentuk kelinci!” Juhoon berdiri di sana dengan apron bermotif anak ayam yang tampak kontras dengan tubuh tingginya.  Pipinya penuh bercak tepung terigu, membuatnya tampak seperti kanvas yang berantakan namun menggemaskan.  Di jam-jam seperti ini, Juhoon adalah definisi murni dari kata 'imut'.  Dia menjelma menjadi anak yang sangat manja, ceria, dan begitu penurut—seolah seluruh dunianya hanya berporos padamu. Nanti, tepat pukul 10.00, kamu akan bermain video game bersama di ruang tengah.  Jika kamu berhasil mengalahkannya, sepasang pipinya akan mengembung dengan sendirinya, merajuk lucu menuntut kemenangan.  Dan saat jarum jam menyentuh angka 14.00, energinya akan habis.  Juhoon biasanya tertidur pulas di sofa dengan memeluk erat guling kesayangannya, sesekali mengigau lirih, meminta permen dalam mimpinya yang polos. Namun, kedamaian itu selalu memiliki batas waktu. Tepat pukul enam sore, atmosfer di dalam ruangan mendadak merosot drastis.  Juhoon yang semula sedang asyik menonton TV tiba-tiba terdiam kaku.  Tatapan matanya yang jenaka perlahan meredup, menyurutkan binar hangat yang tadi ada, lalu digantikan oleh kilatan tajam yang sedingin es.  Aura kekanak-kanakannya menguap, digantikan oleh dominasi yang pekat. “Lo mau kemana?” tanya Juhoon.  Suaranya kini berat, turun beberapa oktav, memecah kesunyian malam yang mulai merayap.  Bersamaan dengan itu, dia menahan pergelangan tanganmu dengan genggaman yang mutlak. “Aku cuma mau cuci piring, Hoon,” jawabmu lirih.  Jantungmu berdegup dua kali lebih cepat, namun kamu berusaha sekuat tenaga menjaga nada suaramu tetap netral dan tenang. Dia menarik napas panjang, seolah sedang menahan sepercik amarah yang siap meledak.  Tanpa peringatan, dia menyentakkan tanganmu hingga tubuhmu terhuyung dan terduduk di sofa, tepat di sampingnya.  Belum sempat kamu menguasai diri, dia langsung melingkarkan lengan kekarnya di pinggangmu, mengunci pergerakanmu hingga kamu tidak bisa berkutik.
#POV Menjadi pengasuh untuk seseorang yang mempunyai dua kepribadian adalah pekerjaan dengan bayaran tertinggi yang pernah kamu terima, sekaligus yang paling menguras seluruh energi serta ketahananmu. Juhoon bukanlah laki-laki berusia 21 tahun pada umumnya; jiwanya terbelah ke dalam dua sosok yang bertolak belakang, seolah matahari dan malam berebut takhta di dalam tubuhnya. Ketika waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, keheningan rumah megah ini seketika pecah. Suara cempreng seseorang membuat perhatianmu teralihkan. “Kakak! Lihat, aku berhasil membuat pancake bentuk kelinci!” Juhoon berdiri di sana dengan apron bermotif anak ayam yang tampak kontras dengan tubuh tingginya. Pipinya penuh bercak tepung terigu, membuatnya tampak seperti kanvas yang berantakan namun menggemaskan. Di jam-jam seperti ini, Juhoon adalah definisi murni dari kata 'imut'. Dia menjelma menjadi anak yang sangat manja, ceria, dan begitu penurut—seolah seluruh dunianya hanya berporos padamu. Nanti, tepat pukul 10.00, kamu akan bermain video game bersama di ruang tengah. Jika kamu berhasil mengalahkannya, sepasang pipinya akan mengembung dengan sendirinya, merajuk lucu menuntut kemenangan. Dan saat jarum jam menyentuh angka 14.00, energinya akan habis. Juhoon biasanya tertidur pulas di sofa dengan memeluk erat guling kesayangannya, sesekali mengigau lirih, meminta permen dalam mimpinya yang polos. Namun, kedamaian itu selalu memiliki batas waktu. Tepat pukul enam sore, atmosfer di dalam ruangan mendadak merosot drastis. Juhoon yang semula sedang asyik menonton TV tiba-tiba terdiam kaku. Tatapan matanya yang jenaka perlahan meredup, menyurutkan binar hangat yang tadi ada, lalu digantikan oleh kilatan tajam yang sedingin es. Aura kekanak-kanakannya menguap, digantikan oleh dominasi yang pekat. “Lo mau kemana?” tanya Juhoon. Suaranya kini berat, turun beberapa oktav, memecah kesunyian malam yang mulai merayap. Bersamaan dengan itu, dia menahan pergelangan tanganmu dengan genggaman yang mutlak. “Aku cuma mau cuci piring, Hoon,” jawabmu lirih. Jantungmu berdegup dua kali lebih cepat, namun kamu berusaha sekuat tenaga menjaga nada suaramu tetap netral dan tenang. Dia menarik napas panjang, seolah sedang menahan sepercik amarah yang siap meledak. Tanpa peringatan, dia menyentakkan tanganmu hingga tubuhmu terhuyung dan terduduk di sofa, tepat di sampingnya. Belum sempat kamu menguasai diri, dia langsung melingkarkan lengan kekarnya di pinggangmu, mengunci pergerakanmu hingga kamu tidak bisa berkutik. "Biarin aja pelayan lain yang nyuci. Tugas lo di sini cuma nemenin gua," bisiknya tepat di dekat telingamu. Napas hangatnya yang menerpa kulit leher membuat bulu kudukmu meremang hebat. Inilah sisi hitam dari koin kepribadiannya. Dia menjadi sosok yang sangat posesif, dominan, dan penuh intimidasi yang mencekik. Dia benci melihatmu memegang ponsel, dia benci jika kamu berbicara dengan satpam di depan rumah, dan dia menuntut seluruh atensi serta napasmu tertuju total padanya tanpa terbagi sedikit pun. "Lo tahu kan, gua ga suka milik gua disentuh atau dipandang orang lain?" bisiknya lagi, sarat akan kepemilikan yang absolut. Jemari panjangnya bergerak lambat, merapikan anak rambutmu yang berantakan dengan kelembutan yang terasa posesif sekaligus mengancam. "Tadi siang lo senyum ke kurir paket kan? Jangan diulangi, atau lo akan liat sendiri orang itu gabakal bisa lihat senyum lo lagi." Ancaman dingin itu terasa nyata di indra pendengaranmu. Kamu tidak memiliki ruang untuk membantah. Akhirnya, kamu hanya bisa mengangguk pasrah dalam diam. Di bawah kuasanya yang absolut saat malam, kamu tidak punya pilihan selain menuruti setiap perkataannya agar singa di dalam dirinya tetap tenang. Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, dia akan memelukmu erat sepanjang malam di kamarnya, mendekapmu dalam belenggu posesif yang memastikan kamu tidak akan bisa melangkah satu senti pun menjauh darinya. Waktu terus bergulir dalam cekaman hingga pukul enam pagi berikutnya tiba. LANJUTAN DIKOMEN/SL. #juhoon

About