@kristals12345: @Jorgito bar

kriss.mountain.  running
kriss.mountain. running
Open In TikTok:
Region: SV
Tuesday 09 June 2026 01:49:27 GMT
2678
84
6
44

Music

Download

Comments

martn6911
Martín :
increíble, interesante muy interesante
2026-06-09 02:49:45
1
almamarcelalazocarias
Jesucristo hijo de Pantera :
cierto
2026-06-14 01:54:21
0
zam71354
Abogado Samuel Díaz :
los Sumerios
2026-06-12 02:57:22
0
robertocas43
Roberto Castillo :
si esos dioses desaparecieron no eran verdadero
2026-06-15 23:36:52
0
capricenter_69
JULIO BORGES :
otra historia más inspirada en la historia biblica
2026-06-09 19:35:31
0
gustavooseche
Gustavo Oseche :
Es que todas esas historias que cuentan los judíos en sus "libros sagrados" fueron tomadas por ellos de los cuentos que oían de las caravanas de mercaderes que pasaban por los lugares donde ellos criaba a sus chivos y luego, cuando aprendieron a escribir lo contaron como si fueran sus experiencias de sus propias vidas. Ahora tienen a Hollywood y ya no tienen que escribir tanto solo proyectan sus cuentos en la pantalla de cine😆😂😂😂😂😅😂😂
2026-06-10 01:15:41
0
To see more videos from user @kristals12345, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Bumi memang nggak mau sekolah lagi.”   Kalimat itu membuatku terdiam.   Awalnya aku hanya kesal melihat kaki Bumi yang bengkak setelah mencari ubi sendirian di malam hari. Bocah itu bahkan harus menahan sakit karena terpeleset di ladang.   “Kenapa kamu cari ubi malam-malam? Kalau terjadi sesuatu gimana?”   Bukannya merasa bersalah, dia malah menjawab santai.   “Ini cuma keseleo, Om. Nggak parah.”   Sikap tenangnya justru membuatku makin kesal.   Aku membalut kakinya sambil terus mengomel. Leon, Ratu, dan Damar sampai menatapku heran. Mungkin mereka tidak pernah melihatku seperti ini. Biasanya aku tidak peduli pada urusan orang lain, tetapi entah kenapa aku selalu berbeda saat bersama Bumi.   Karena sudah terlalu malam, aku membawanya ke rumah kami. Tak lama kemudian Cak Karyo datang dan langsung menanyainya.   “Kok bisa sampai begini? Kamu ngapain malam-malam cari ubi?”   Jawaban Bumi membuat suasana mendadak sunyi.   “Bumi belum dibayar Pakde Jono, jadi Bumi nggak punya uang buat beli beras.”   Dadaku terasa sesak.   Di usia sekecil itu, dia harus memikirkan cara agar keluarganya bisa makan. Sementara banyak orang seusiaku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu.   Cak Karyo menasihatinya agar meminta bantuan jika kesulitan. Namun Bumi hanya menunduk.   “Bumi memang nggak mau sekolah lagi.”   “Kenapa?” tanyaku.   “Kamu diganggu teman-teman lagi?”   Dia menggeleng.   Aku meminta teman-temanku masuk ke kamar. Aku tahu Bumi tidak nyaman bercerita di depan banyak orang.   “Sekarang nggak ada siapa-siapa. Kamu bisa cerita.”   Namun dia hanya berkata pelan,   “Bumi mau pulang, Om.”   Akhirnya aku mengantarnya pulang.   Di perjalanan, aku terus mengingatkan bahwa keluar rumah malam-malam tanpa izin bisa membuat ibunya khawatir.   Lalu Bumi berkata sesuatu yang membuatku sulit bernapas.   “Ibu nggak tahu kalau berasnya habis, Om. Bumi nggak mau bikin ibu sedih.”   Aku terdiam.   Namun kalimat berikutnya jauh lebih menyakitkan.   “Keberadaan Bumi membuat ibu dan nenek malu. Bumi cuma anak yang dianggap membawa kesialan.”   Aku langsung menghentikan motor.   “Dengar, Bumi. Nggak ada anak yang terlahir dengan kesalahan.”   Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.   “Semua anak berharga. Jangan pernah bilang seperti itu lagi.”   “Tapi orang-orang sini bilang....”   “Jangan dengarkan kata orang, Bumi!”   Untuk pertama kalinya aku melihat matanya benar-benar goyah.   Lalu dia mengucapkan sesuatu yang membuatku semakin bingung.   “Papa nggak pernah tahu aku ada, Om.”   “Maksud kamu?”   Namun seperti biasa, Bumi tidak menjawab.   “Ayo pulang, Om. Nanti ibu nyariin.”   Sesampainya di rumah, aku menggendongnya sampai ke teras.   Rumah sederhana itu dipenuhi tanaman mawar yang membuat suasana malam terasa tenang.   “Di sini aja, Om. Bumi bisa jalan sendiri.”   Sebelum masuk, dia malah mengusirku.   “Sana pulang. Jangan sampai ketahuan tetangga.”   “Setidaknya bilang terima kasih dulu.”   Bumi tersenyum.   “Terima kasih, Om Dokter.”   Aku terpaku.   Itu pertama kalinya aku melihat senyum setulus itu. Senyum yang terasa begitu akrab, seolah pernah kulihat di masa lalu.   Namun keterpanaanku buyar ketika terdengar suara dari dalam rumah.   “Bumi, kamu di mana, Le?”   Itu suara ibunya.   Pintu rumah perlahan terbuka.   Seorang wanita keluar dengan wajah lelah dan jilbab sederhana.   Lalu saat melihatnya, duniaku seperti berhenti berputar.   “Ka... kamu... bagaimana bisa?” Bersambung...  Baca selengkapnya di KBM APP. Judul : Kotak Bekal dari Ibu Penulis : nayyukii_ #dramarumahtangga  #tiktokstory  #kisahinspiratif
“Bumi memang nggak mau sekolah lagi.” Kalimat itu membuatku terdiam. Awalnya aku hanya kesal melihat kaki Bumi yang bengkak setelah mencari ubi sendirian di malam hari. Bocah itu bahkan harus menahan sakit karena terpeleset di ladang. “Kenapa kamu cari ubi malam-malam? Kalau terjadi sesuatu gimana?” Bukannya merasa bersalah, dia malah menjawab santai. “Ini cuma keseleo, Om. Nggak parah.” Sikap tenangnya justru membuatku makin kesal. Aku membalut kakinya sambil terus mengomel. Leon, Ratu, dan Damar sampai menatapku heran. Mungkin mereka tidak pernah melihatku seperti ini. Biasanya aku tidak peduli pada urusan orang lain, tetapi entah kenapa aku selalu berbeda saat bersama Bumi. Karena sudah terlalu malam, aku membawanya ke rumah kami. Tak lama kemudian Cak Karyo datang dan langsung menanyainya. “Kok bisa sampai begini? Kamu ngapain malam-malam cari ubi?” Jawaban Bumi membuat suasana mendadak sunyi. “Bumi belum dibayar Pakde Jono, jadi Bumi nggak punya uang buat beli beras.” Dadaku terasa sesak. Di usia sekecil itu, dia harus memikirkan cara agar keluarganya bisa makan. Sementara banyak orang seusiaku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Cak Karyo menasihatinya agar meminta bantuan jika kesulitan. Namun Bumi hanya menunduk. “Bumi memang nggak mau sekolah lagi.” “Kenapa?” tanyaku. “Kamu diganggu teman-teman lagi?” Dia menggeleng. Aku meminta teman-temanku masuk ke kamar. Aku tahu Bumi tidak nyaman bercerita di depan banyak orang. “Sekarang nggak ada siapa-siapa. Kamu bisa cerita.” Namun dia hanya berkata pelan, “Bumi mau pulang, Om.” Akhirnya aku mengantarnya pulang. Di perjalanan, aku terus mengingatkan bahwa keluar rumah malam-malam tanpa izin bisa membuat ibunya khawatir. Lalu Bumi berkata sesuatu yang membuatku sulit bernapas. “Ibu nggak tahu kalau berasnya habis, Om. Bumi nggak mau bikin ibu sedih.” Aku terdiam. Namun kalimat berikutnya jauh lebih menyakitkan. “Keberadaan Bumi membuat ibu dan nenek malu. Bumi cuma anak yang dianggap membawa kesialan.” Aku langsung menghentikan motor. “Dengar, Bumi. Nggak ada anak yang terlahir dengan kesalahan.” Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Semua anak berharga. Jangan pernah bilang seperti itu lagi.” “Tapi orang-orang sini bilang....” “Jangan dengarkan kata orang, Bumi!” Untuk pertama kalinya aku melihat matanya benar-benar goyah. Lalu dia mengucapkan sesuatu yang membuatku semakin bingung. “Papa nggak pernah tahu aku ada, Om.” “Maksud kamu?” Namun seperti biasa, Bumi tidak menjawab. “Ayo pulang, Om. Nanti ibu nyariin.” Sesampainya di rumah, aku menggendongnya sampai ke teras. Rumah sederhana itu dipenuhi tanaman mawar yang membuat suasana malam terasa tenang. “Di sini aja, Om. Bumi bisa jalan sendiri.” Sebelum masuk, dia malah mengusirku. “Sana pulang. Jangan sampai ketahuan tetangga.” “Setidaknya bilang terima kasih dulu.” Bumi tersenyum. “Terima kasih, Om Dokter.” Aku terpaku. Itu pertama kalinya aku melihat senyum setulus itu. Senyum yang terasa begitu akrab, seolah pernah kulihat di masa lalu. Namun keterpanaanku buyar ketika terdengar suara dari dalam rumah. “Bumi, kamu di mana, Le?” Itu suara ibunya. Pintu rumah perlahan terbuka. Seorang wanita keluar dengan wajah lelah dan jilbab sederhana. Lalu saat melihatnya, duniaku seperti berhenti berputar. “Ka... kamu... bagaimana bisa?” Bersambung... Baca selengkapnya di KBM APP. Judul : Kotak Bekal dari Ibu Penulis : nayyukii_ #dramarumahtangga #tiktokstory #kisahinspiratif

About