@khan.q2391:

Khan Q23
Khan Q23
Open In TikTok:
Region: PK
Tuesday 09 June 2026 16:13:01 GMT
281166
9586
530
3969

Music

Download

Comments

romankarki684
WN, Naruto🥋🥋, :
2026-06-16 07:35:38
0
allah.is.best795
Allah is best :
please like and follow me my TikTok account video support please 🙏🥺
2026-06-18 16:55:21
0
mrjibon370
🌚কাইল্লা ছেড়া 🌚 :
2026-06-18 17:20:11
0
rajiya6880
রাজিয়া সুলতানা পপি :
আমি হাসতে হাসতে শেষ 😅😅😅😆😆
2026-06-16 09:59:17
0
abdul.aahat.rafsan
Abdul Aahat Rafsan :
2026-06-16 15:32:22
0
user7954155306737
user7954155306737 :
2026-06-16 10:56:24
1
omareosf129
Omer :
2026-06-18 05:37:17
0
haldar645
araf haldar 🙂✨nnnn :
2026-06-15 16:03:46
0
7865121472hussain
Hussain789 :
2026-06-11 07:54:38
1
gamerboybio
tgr Jerry FF :
2026-06-16 04:44:54
0
faiq.faiq085
faiqfaiq986 :
🤣🤣🤣🤣😇😇😇
2026-06-09 20:05:55
1
ahmed_sifat.88
A̷W̷M̷^S̷I̷F̷F̷U̷… :
😂😂😂
2026-06-18 17:39:12
0
jihanaafruzpihu7
Pihu🖤🖤 :
🥰🥰🥰
2026-06-18 16:44:07
0
mkkhan.99
masaoodkhan :
😁😁😁
2026-06-18 17:07:49
0
To see more videos from user @khan.q2391, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV 3 | Bagi Sean, larangan adalah perintah. Di antara anak keturunan bangsawan, mungkin hanya dia yang berani melanggar aturan yang dianggap sakral oleh keluarganya. Di keluarga Winata, ada aturan tak tertulis yang dijaga turun-temurun sejak lama. Darah menak Sunda tidak boleh menikah dengan darah luar Sunda. Namun bagi Sean, aturan itu tak lebih penting dari rasa cintanya. Didalam ruang tamu rumah klasik malam itu, suasana mendadak terasa jauh lebih berat. Padahal beberapa menit sebelumnya, Sean pulang dengan senyum yang tak kunjung hilang setelah mengantarmu pulang berkeliling di Bandung. Namun senyum itu perlahan memudar begitu Eyang mulai berbicara. “Kalau untuk berteman, silahkan.” Sean masih diam. “Tapi untuk menjadi bagian dari keluarga ini...” Eyang berhenti sejenak. “Bukan dia orangnya, Sean.” Didalam hening yang menggantung, tatapan Eyang tak sekalipun bergeser darinya. Sementara Sean hanya membalas tatapan itu dengan ekspresi polos. “Yaudah.” Ia mengangkat bahunya ringan. “Terus kenapa?” Kali ini bukan hanya Eyang yang terdiam. Bundanya yang sejak tadi duduk di sofa seberang, perlahan mengangkat kepalanya. “Sean.” Nada suaranya pelan, namun cukup untuk menjadi sebuah peringatan. Sean menoleh. “Apa?” “Jaga bicaramu.” Rahang Sean mengeras tipis, namun ia tetap diam. Eyang kembali melanjutkan. “Y/n terlahir dari darah yang berbeda.” “Y/n terlahir dari darah luar Sunda, Sean.” Alih-alih terkejut memikirkan ucapan itu, Sean justru kini terlihat terlalu santai. “Tapi Sean suka, Eyang.” Jawabannya keluar begitu sederhana. Begitu mudah Seolah persoalan sebesar itu, dapat selesai hanya dengan satu kalimat. Namun Eyang tetap menatapnya dengan serius. “Ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini soal keluarga.” ••• Malam itu, Sean sama sekali tidak terlihat terpengaruh oleh percakapan di ruang keluarga tadi. Setidaknya begitulah yang terlihat. Di dalam kamar luas bercahaya remang itu, ia berdiri di balkon sambil memainkan ponselnya. Angin malam Dago sesekali mengusik rambutnya, sementara jemarinya bergulir pelan mencari satu nama yang baru beberapa hari lalu tersimpan di kontaknya. Namamu. Sudut bibirnya langsung terangkat begitu panggilan itu tersambung. “Halo?” Sean mengembuskan tawa pendek. “Selamat malam, Nona.” Terdengar kekehan samar darimu di seberang. “Kak Sean?” “Iya geulis, ini Aa. Your handsome future boyfriend.” Tawamu langsung pecah. “Apasih Kak…” Entah kenapa, sesederhana itu saja sudah cukup membuat suasana hati Sean membaik. “Kenapa nelpon?” tanyamu. Sean menyandarkan siku pada pagar balkon. Alasannya sebenarnya sederhana. Sejak bertemu denganmu, pikirannya tak pernah benar-benar jauh darimu. “Ada berita penting,” katanya pelan. Keningmu langsung berlipat bingung. “Apa?” Sean menatap jalanan Dago dibawah sana yang mulai lengang. “Aku lagi di balkon.” Beberapa detik hening, kalimatnya lagi-lagi membuatmu kembali mengernyit. “Oh...” Kamu mengangguk samar. “And then?” Sean menundukkan kepala sambil terkekeh pelan. “Terus aku kepikiran kamu.” Hening, tak ada jawaban. Tapi tanpa Sean tahu, pipimu jelas memerah disana. “Agak repot juga ternyata,” lanjutnya. “Kenapa?” tanyamu mencoba biasa saja. “Soalnya belum jadi pacar aja udah kepikiran terus.”  Kamu langsung menghela napas panjang. “Kak...” “Iya, sayang~?” sahutnya dengan manis yang sengaja nada dibuat-buat. Di seberang sana, kamu langsung menjatuhkan tubuh ke atas kasur sambil menutupi wajah dengan bantal. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya kamu kembali mengangkat ponsel ke telinga. “Besok aku jemput, ya?” “Emang nggak ngerepotin?” tanyamu pelan. Padahal pertanyaan itu hanya basa-basi. Sejak nama Sean muncul di layar ponselmu, jantungmu sudah terlalu berisik untuk diajak bekerja sama. Sean mendengus geli. “Lebih suka direpotin sama cewek cantik.” Ia berhenti sebentar, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. “Apalagi ceweknya yang lagi telepon sama aku sekarang.” Kamu langsung memejamkan mata rapat-rapat. “Ternyata anak bangsawan tuh doyan gombal, ya?” +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fypage
POV 3 | Bagi Sean, larangan adalah perintah. Di antara anak keturunan bangsawan, mungkin hanya dia yang berani melanggar aturan yang dianggap sakral oleh keluarganya. Di keluarga Winata, ada aturan tak tertulis yang dijaga turun-temurun sejak lama. Darah menak Sunda tidak boleh menikah dengan darah luar Sunda. Namun bagi Sean, aturan itu tak lebih penting dari rasa cintanya. Didalam ruang tamu rumah klasik malam itu, suasana mendadak terasa jauh lebih berat. Padahal beberapa menit sebelumnya, Sean pulang dengan senyum yang tak kunjung hilang setelah mengantarmu pulang berkeliling di Bandung. Namun senyum itu perlahan memudar begitu Eyang mulai berbicara. “Kalau untuk berteman, silahkan.” Sean masih diam. “Tapi untuk menjadi bagian dari keluarga ini...” Eyang berhenti sejenak. “Bukan dia orangnya, Sean.” Didalam hening yang menggantung, tatapan Eyang tak sekalipun bergeser darinya. Sementara Sean hanya membalas tatapan itu dengan ekspresi polos. “Yaudah.” Ia mengangkat bahunya ringan. “Terus kenapa?” Kali ini bukan hanya Eyang yang terdiam. Bundanya yang sejak tadi duduk di sofa seberang, perlahan mengangkat kepalanya. “Sean.” Nada suaranya pelan, namun cukup untuk menjadi sebuah peringatan. Sean menoleh. “Apa?” “Jaga bicaramu.” Rahang Sean mengeras tipis, namun ia tetap diam. Eyang kembali melanjutkan. “Y/n terlahir dari darah yang berbeda.” “Y/n terlahir dari darah luar Sunda, Sean.” Alih-alih terkejut memikirkan ucapan itu, Sean justru kini terlihat terlalu santai. “Tapi Sean suka, Eyang.” Jawabannya keluar begitu sederhana. Begitu mudah Seolah persoalan sebesar itu, dapat selesai hanya dengan satu kalimat. Namun Eyang tetap menatapnya dengan serius. “Ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini soal keluarga.” ••• Malam itu, Sean sama sekali tidak terlihat terpengaruh oleh percakapan di ruang keluarga tadi. Setidaknya begitulah yang terlihat. Di dalam kamar luas bercahaya remang itu, ia berdiri di balkon sambil memainkan ponselnya. Angin malam Dago sesekali mengusik rambutnya, sementara jemarinya bergulir pelan mencari satu nama yang baru beberapa hari lalu tersimpan di kontaknya. Namamu. Sudut bibirnya langsung terangkat begitu panggilan itu tersambung. “Halo?” Sean mengembuskan tawa pendek. “Selamat malam, Nona.” Terdengar kekehan samar darimu di seberang. “Kak Sean?” “Iya geulis, ini Aa. Your handsome future boyfriend.” Tawamu langsung pecah. “Apasih Kak…” Entah kenapa, sesederhana itu saja sudah cukup membuat suasana hati Sean membaik. “Kenapa nelpon?” tanyamu. Sean menyandarkan siku pada pagar balkon. Alasannya sebenarnya sederhana. Sejak bertemu denganmu, pikirannya tak pernah benar-benar jauh darimu. “Ada berita penting,” katanya pelan. Keningmu langsung berlipat bingung. “Apa?” Sean menatap jalanan Dago dibawah sana yang mulai lengang. “Aku lagi di balkon.” Beberapa detik hening, kalimatnya lagi-lagi membuatmu kembali mengernyit. “Oh...” Kamu mengangguk samar. “And then?” Sean menundukkan kepala sambil terkekeh pelan. “Terus aku kepikiran kamu.” Hening, tak ada jawaban. Tapi tanpa Sean tahu, pipimu jelas memerah disana. “Agak repot juga ternyata,” lanjutnya. “Kenapa?” tanyamu mencoba biasa saja. “Soalnya belum jadi pacar aja udah kepikiran terus.” Kamu langsung menghela napas panjang. “Kak...” “Iya, sayang~?” sahutnya dengan manis yang sengaja nada dibuat-buat. Di seberang sana, kamu langsung menjatuhkan tubuh ke atas kasur sambil menutupi wajah dengan bantal. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya kamu kembali mengangkat ponsel ke telinga. “Besok aku jemput, ya?” “Emang nggak ngerepotin?” tanyamu pelan. Padahal pertanyaan itu hanya basa-basi. Sejak nama Sean muncul di layar ponselmu, jantungmu sudah terlalu berisik untuk diajak bekerja sama. Sean mendengus geli. “Lebih suka direpotin sama cewek cantik.” Ia berhenti sebentar, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. “Apalagi ceweknya yang lagi telepon sama aku sekarang.” Kamu langsung memejamkan mata rapat-rapat. “Ternyata anak bangsawan tuh doyan gombal, ya?” +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fypage

About