@misterpopo26: #paratiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii #fypシ #frases

El Rony
El Rony
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 11 June 2026 01:01:52 GMT
220021
31742
62
13713

Music

Download

Comments

saantiiojedaa
saantiiojedaa :
dd
2026-08-11 18:45:29
0
mauriciomoreno3418
moreno-821 :
2026-08-10 01:29:46
0
aleejoxz
Aleejoxz :
2026-07-30 19:15:11
0
To see more videos from user @misterpopo26, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Penolakan berkompromi, perang terus menerus untuk menghancurkan negara Israel dan proses perundingan damai yang berulang kali gagal, menjadi faktor utama gagalnya negara Palestina.  Jauh sebelum Islam lahir, bahkan sebelum bangsa Arab menguasai kawasan ini, telah berdiri Kerajaan Israel di utara dan Kerajaan Yehuda di selatan. Yerusalem menjadi pusat Kerajaan Yehuda, sedangkan Samaria menjadi pusat Kerajaan Israel. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa hubungan bangsa Yahudi dengan tanah tersebut telah berlangsung ribuan tahun—bukan baru dimulai pada abad ke-20. Dalam perjalanan sejarah, wilayah ini kemudian dikuasai berbagai kekaisaran: Asyur, Babel, Persia, Yunani, Romawi, Bizantium, kekhalifahan Arab, Ottoman, hingga akhirnya berada di bawah Mandat Inggris. Jadi, sebelum Israel berdiri, wilayah tersebut bukanlah sebuah negara Palestina merdeka, melainkan wilayah yang berulang kali berada di bawah kekuasaan imperium. Setelah konflik antara komunitas Yahudi dan Arab semakin sulit diselesaikan, Perserikatan Bangsa-Bangsa menawarkan kompromi. Pada November 1947, Majelis Umum PBB mengesahkan Resolusi 181, yang merekomendasikan pembagian wilayah mandat menjadi dua negara: satu negara Yahudi dan satu negara Arab. Pihak Yahudi menerima rencana tersebut meskipun wilayah yang diberikan tidak sepenuhnya sesuai keinginan mereka. Namun, kepemimpinan Arab menolaknya karena tidak bersedia menerima berdirinya negara Yahudi di wilayah itu. Pada 14 Mei 1948, menjelang berakhirnya Mandat Inggris, para pemimpin Yahudi mendeklarasikan berdirinya Negara Israel. Lalu apa yang dilakukan pihak Arab terhadap wilayah yang telah ditawarkan kepada mereka? Bukannya mendeklarasikan negara Arab Palestina, sehari setelah Israel berdiri, pasukan dari Mesir, Transyordania, Suriah, Irak, dan Lebanon menyerang Israel. Kontingen dari beberapa negara Arab lainnya juga ikut mendukung perang tersebut. Tujuannya bukan sekadar memperbaiki batas pembagian, tetapi menggagalkan berdirinya Israel. Namun hasil perang justru berlawanan. Israel bertahan dan memperluas wilayah kekuasaannya. Tepi Barat kemudian dikuasai Yordania, sedangkan Jalur Gaza dikuasai Mesir—tetapi saat itu tetap tidak didirikan negara Palestina merdeka. Karena itu, perubahan peta wilayah ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan slogan bahwa Israel datang lalu “mencuri tanah Palestina”. Sejarahnya melibatkan runtuhnya kekaisaran, mandat internasional, rencana pembagian yang ditolak, perang antarnegara, dan kesempatan mendirikan negara yang tidak digunakan. Sejarah konflik ini memang rumit, tetapi satu hal jelas: bangsa Yahudi memiliki hubungan sejarah yang sangat panjang dengan tanah Israel, dan negara Israel tidak lahir di ruang kosong.
Penolakan berkompromi, perang terus menerus untuk menghancurkan negara Israel dan proses perundingan damai yang berulang kali gagal, menjadi faktor utama gagalnya negara Palestina. Jauh sebelum Islam lahir, bahkan sebelum bangsa Arab menguasai kawasan ini, telah berdiri Kerajaan Israel di utara dan Kerajaan Yehuda di selatan. Yerusalem menjadi pusat Kerajaan Yehuda, sedangkan Samaria menjadi pusat Kerajaan Israel. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa hubungan bangsa Yahudi dengan tanah tersebut telah berlangsung ribuan tahun—bukan baru dimulai pada abad ke-20. Dalam perjalanan sejarah, wilayah ini kemudian dikuasai berbagai kekaisaran: Asyur, Babel, Persia, Yunani, Romawi, Bizantium, kekhalifahan Arab, Ottoman, hingga akhirnya berada di bawah Mandat Inggris. Jadi, sebelum Israel berdiri, wilayah tersebut bukanlah sebuah negara Palestina merdeka, melainkan wilayah yang berulang kali berada di bawah kekuasaan imperium. Setelah konflik antara komunitas Yahudi dan Arab semakin sulit diselesaikan, Perserikatan Bangsa-Bangsa menawarkan kompromi. Pada November 1947, Majelis Umum PBB mengesahkan Resolusi 181, yang merekomendasikan pembagian wilayah mandat menjadi dua negara: satu negara Yahudi dan satu negara Arab. Pihak Yahudi menerima rencana tersebut meskipun wilayah yang diberikan tidak sepenuhnya sesuai keinginan mereka. Namun, kepemimpinan Arab menolaknya karena tidak bersedia menerima berdirinya negara Yahudi di wilayah itu. Pada 14 Mei 1948, menjelang berakhirnya Mandat Inggris, para pemimpin Yahudi mendeklarasikan berdirinya Negara Israel. Lalu apa yang dilakukan pihak Arab terhadap wilayah yang telah ditawarkan kepada mereka? Bukannya mendeklarasikan negara Arab Palestina, sehari setelah Israel berdiri, pasukan dari Mesir, Transyordania, Suriah, Irak, dan Lebanon menyerang Israel. Kontingen dari beberapa negara Arab lainnya juga ikut mendukung perang tersebut. Tujuannya bukan sekadar memperbaiki batas pembagian, tetapi menggagalkan berdirinya Israel. Namun hasil perang justru berlawanan. Israel bertahan dan memperluas wilayah kekuasaannya. Tepi Barat kemudian dikuasai Yordania, sedangkan Jalur Gaza dikuasai Mesir—tetapi saat itu tetap tidak didirikan negara Palestina merdeka. Karena itu, perubahan peta wilayah ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan slogan bahwa Israel datang lalu “mencuri tanah Palestina”. Sejarahnya melibatkan runtuhnya kekaisaran, mandat internasional, rencana pembagian yang ditolak, perang antarnegara, dan kesempatan mendirikan negara yang tidak digunakan. Sejarah konflik ini memang rumit, tetapi satu hal jelas: bangsa Yahudi memiliki hubungan sejarah yang sangat panjang dengan tanah Israel, dan negara Israel tidak lahir di ruang kosong.

About