@wgfragrancehouse: #CapCut

wgfragrancehouse
wgfragrancehouse
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 11 June 2026 15:07:38 GMT
451
65
12
6

Music

Download

Comments

donnarunyon
donnarunyon :
now that's someone to watch dance...
2026-06-11 23:49:32
0
kimberlyblessed64
Kimberly ❤️ :
perfect rhythm 👌 🥰
2026-06-14 21:56:56
0
tonyamorgan611
Tonya Morgan :
I wish you would be my plus one at a wedding this weekend
2026-06-12 00:40:10
0
deemcrae822
deemcrae822 :
Well done 👏
2026-06-12 03:36:51
0
maryjenkins511
Mary Jenkins :
gee so handsome an got my moves
2026-06-12 14:36:00
0
pattithomas06
Patti :
Love it ❤️❤️
2026-06-12 14:33:16
0
maximocigars
stevenhernandez178 :
Ese es AI pero es algo que el aria 🤣🤣
2026-06-20 00:08:16
0
melidaserrano8
Mserrano :
No manchessssss weyyyyyyyyy💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻
2026-06-11 18:27:49
0
rebeccapowell742
Rebecca Powell :
❤️❤️❤️
2026-06-11 19:23:46
0
dalia.parker6
I like to do YouTube 🙏🏽💜 :
💯💯💯
2026-06-18 14:17:51
0
To see more videos from user @wgfragrancehouse, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Penemuan lokasi Lubang Buaya—sumur m4ut tempat pembuangan jenazah 7 Pahlawan Revolusi dalam peristiwa G30S/PKI—merupakan salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah modern Indonesia. Lokasi ini berhasil ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 di kawasan Desa Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Kronologi lengkap penemuan lokasi sumur Lubang Buaya melibatkan kesaksian kunci, pelacakan intelijen, hingga proses evakuasi yang dramatis: 1. Peran Penting Saksi Kunci: Agen Polisi Sukitman Penemuan lokasi ini tidak lepas dari sosok Sukitman, seorang polisi muda berpangkat Agen Polisi Dua yang secara tidak sengaja ikut diculik oleh pasukan Cakrabirawa pada dini hari 1 Oktober 1965 saat ia sedang berpatroli di dekat rumah Brigjen D.I. Panjaitan. Menyaksikan Eksekusi: Sukitman dibawa ke markas rahasia kelompok G30S di kawasan Lubang Buaya. Dalam kondisi tertawan, ia melihat banyak orang mengerumuni sebuah sumur tua dan menyaksikan proses pembuangan jenazah para perwira TNI AD. Berhasil Lolos: Setelah kelompok penyerang mengosongkan area, Sukitman berhasil ditemukan oleh tim patroli Resimen Cakrabirawa yang telah berpihak pada pemerintah Orde Baru. Dari interogasi terhadap Sukitman, didapatkan petunjuk arah dan gambaran jelas mengenai keberadaan sumur maut tersebut. 2. Operasi Pelacakan oleh RPKAD dan TNI AU Berbekal informasi dari Sukitman dan laporan intelijen terkait pergerakan pasukan pemberontak yang mundur ke arah Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, pasukan Angkatan Darat bergerak. Pada 3 Oktober 1965, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, bekerja sama dengan satuan TNI AU, mengepung dan menyisir kawasan perkebunan karet di Desa Lubang Buaya yang sebelumnya telah dikosongkan oleh kelompok pemberontak.  3. Penemuan Kamunflase Sumur Maut Saat menyisir halaman sekitar rumah warga bernama Bambang (seorang guru yang terafiliasi dengan organisasi PKI), pasukan mencurigai sebidang tanah di bawah pohon pisang. Metode Kamuflase: Sumur tua yang memiliki diameter sekitar 75 cm dengan kedalaman 12 meter tersebut telah ditimbun dengan tanah, sampah, dedaunan, serta batang pohon pisang untuk menyamarkan keberadaannya. Titik Terang: Pasukan melakukan penggalian manual. Setelah menggali hingga kedalaman sekitar 8 meter, tercium bau busuk yang menyengat. Penggalian dihentikan sementara pada malam hari karena kendala teknis dan keamanan. 4. Proses Evakuasi Jenazah (4 Oktober 1965) Pada keesokan harinya, 4 Oktober 1965, proses pengangkatan jenazah dilakukan secara penuh. Evakuasi ini dipimpin oleh satuan elite Korps Komando Angkatan Laut (KKO, sekarang Marinir) yang memiliki keahlian menyelam dan peralatan tabung oksigen, dibantu oleh pasukan RPKAD. Satu per satu, jenazah para perwira TNI AD diangkat dari dasar sumur dalam kondisi bertumpuk: Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani Mayor Jenderal Raden Soeprapto Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono Mayor Jenderal Siswondo Parman Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo Lettu Pierre Tendean  Penemuan lokasi ini menjadi bukti material terbesar yang mengakhiri operasi rahasia G30S. Tempat ini kemudian diabadikan oleh pemerintah Indonesia dengan mendirikan Monumen Pancasila Sakti (Museum Lubang Buaya) sebagai pengingat sejarah bagi generasi penerus. cr : @okazuofficial_  - - - - #masukberanda #beranda #g30spki #pahlawanrevolusi #pemberontakan
Penemuan lokasi Lubang Buaya—sumur m4ut tempat pembuangan jenazah 7 Pahlawan Revolusi dalam peristiwa G30S/PKI—merupakan salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah modern Indonesia. Lokasi ini berhasil ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 di kawasan Desa Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Kronologi lengkap penemuan lokasi sumur Lubang Buaya melibatkan kesaksian kunci, pelacakan intelijen, hingga proses evakuasi yang dramatis: 1. Peran Penting Saksi Kunci: Agen Polisi Sukitman Penemuan lokasi ini tidak lepas dari sosok Sukitman, seorang polisi muda berpangkat Agen Polisi Dua yang secara tidak sengaja ikut diculik oleh pasukan Cakrabirawa pada dini hari 1 Oktober 1965 saat ia sedang berpatroli di dekat rumah Brigjen D.I. Panjaitan. Menyaksikan Eksekusi: Sukitman dibawa ke markas rahasia kelompok G30S di kawasan Lubang Buaya. Dalam kondisi tertawan, ia melihat banyak orang mengerumuni sebuah sumur tua dan menyaksikan proses pembuangan jenazah para perwira TNI AD. Berhasil Lolos: Setelah kelompok penyerang mengosongkan area, Sukitman berhasil ditemukan oleh tim patroli Resimen Cakrabirawa yang telah berpihak pada pemerintah Orde Baru. Dari interogasi terhadap Sukitman, didapatkan petunjuk arah dan gambaran jelas mengenai keberadaan sumur maut tersebut. 2. Operasi Pelacakan oleh RPKAD dan TNI AU Berbekal informasi dari Sukitman dan laporan intelijen terkait pergerakan pasukan pemberontak yang mundur ke arah Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, pasukan Angkatan Darat bergerak. Pada 3 Oktober 1965, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, bekerja sama dengan satuan TNI AU, mengepung dan menyisir kawasan perkebunan karet di Desa Lubang Buaya yang sebelumnya telah dikosongkan oleh kelompok pemberontak. 3. Penemuan Kamunflase Sumur Maut Saat menyisir halaman sekitar rumah warga bernama Bambang (seorang guru yang terafiliasi dengan organisasi PKI), pasukan mencurigai sebidang tanah di bawah pohon pisang. Metode Kamuflase: Sumur tua yang memiliki diameter sekitar 75 cm dengan kedalaman 12 meter tersebut telah ditimbun dengan tanah, sampah, dedaunan, serta batang pohon pisang untuk menyamarkan keberadaannya. Titik Terang: Pasukan melakukan penggalian manual. Setelah menggali hingga kedalaman sekitar 8 meter, tercium bau busuk yang menyengat. Penggalian dihentikan sementara pada malam hari karena kendala teknis dan keamanan. 4. Proses Evakuasi Jenazah (4 Oktober 1965) Pada keesokan harinya, 4 Oktober 1965, proses pengangkatan jenazah dilakukan secara penuh. Evakuasi ini dipimpin oleh satuan elite Korps Komando Angkatan Laut (KKO, sekarang Marinir) yang memiliki keahlian menyelam dan peralatan tabung oksigen, dibantu oleh pasukan RPKAD. Satu per satu, jenazah para perwira TNI AD diangkat dari dasar sumur dalam kondisi bertumpuk: Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani Mayor Jenderal Raden Soeprapto Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono Mayor Jenderal Siswondo Parman Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo Lettu Pierre Tendean Penemuan lokasi ini menjadi bukti material terbesar yang mengakhiri operasi rahasia G30S. Tempat ini kemudian diabadikan oleh pemerintah Indonesia dengan mendirikan Monumen Pancasila Sakti (Museum Lubang Buaya) sebagai pengingat sejarah bagi generasi penerus. cr : @okazuofficial_ - - - - #masukberanda #beranda #g30spki #pahlawanrevolusi #pemberontakan

About