@vaniyaga_trust: Di Bawah Cahaya-Nya, Di Hadapan Ampunan-Nya Dalam salah satu munajat yang dinisbatkan kepada Abu Yazid al-Busthami, terdapat ungkapan yang sangat mendalam: “Ya Allah, dengan cahaya-Mu aku mohon petunjuk, dengan kelembutan ciptaan-Mu aku bersembunyi... dosaku berada dalam kehendak-Mu, aku mohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.” Kalam ini bukan sekadar rangkaian doa, melainkan gambaran perjalanan ruhani seorang hamba yang telah mengenal hakikat kefakirannya di hadapan Allah. Permohonan petunjuk melalui “cahaya Allah” mengingatkan kita pada firman-Nya: “Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35) Dalam perspektif tasawuf, cahaya (an-nur) bukan hanya sinar yang terlihat oleh mata, melainkan cahaya hidayah yang menerangi hati. Hati yang disinari hidayah akan mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara bisikan nafsu dan panggilan Ilahi. Sebaliknya, hati yang terhijab oleh dosa akan kehilangan kejernihan pandangan batinnya. Kemudian, ungkapan “dengan kelembutan ciptaan-Mu aku bersembunyi” menunjukkan kesadaran akan luthf Allah—kelembutan dan kasih sayang-Nya yang meliputi seluruh makhluk. Seorang salik (pejalan menuju Allah) menyadari bahwa setiap nikmat, setiap kesempatan untuk beribadah, bahkan setiap tarikan napas adalah manifestasi rahmat Allah. Karena itu, ia berlindung bukan pada kekuatannya sendiri, melainkan pada kasih sayang Rabb-nya. Yang menarik adalah pengakuan: “dosaku berada dalam kehendak-Mu.” Kalimat ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan maksiat, melainkan merupakan adab seorang arif yang memahami bahwa segala sesuatu terjadi dalam lingkup iradah Allah. Namun, pemahaman ini justru melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Ia tidak menyalahkan takdir, tetapi mengakui kelemahan dirinya dan segera kembali kepada Allah dengan taubat. Al-Qur'an menegaskan: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31) Dalam khazanah tasawuf, taubat bukan hanya meninggalkan dosa. Taubat adalah kembali (ruju') kepada Allah setiap saat. Bahkan para wali bertobat dari kelalaian hati, meskipun manusia biasa mungkin menganggapnya bukan dosa. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia menyadari kekurangan dirinya. Munajat ini juga mengajarkan keseimbangan antara khauf (rasa takut) dan raja' (harap). Sang hamba mengakui dosanya, tetapi tidak berputus asa. Ia mengetuk pintu Allah dengan penuh harapan, sebab yang ia tuju adalah Dzat Yang Maha Lembut (Al-Latif) dan Maha Pemberi Nikmat (Al-Mun'im). Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah lebih bergembira menerima taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali kendaraannya yang hilang di tengah padang pasir. Pada akhirnya, kalam hikmah ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan orang yang merasa suci, melainkan perjalanan orang yang sadar akan kelemahan dirinya. Cahaya hidayah, kelembutan rahmat, pengakuan dosa, dan ketulusan taubat adalah bekal utama dalam suluk menuju-Nya. Ketika seorang hamba mampu berdiri di hadapan Allah dengan hati yang penuh iftiqār (merasa membutuhkan Allah), saat itulah ia sedang menapaki jalan para arifin, jalan yang berujung pada kedekatan dan keridaan-Nya. Semoga Allah menjadikan hati kita senantiasa diterangi cahaya hidayah, dihiasi taubat yang tulus, dan diliputi kelembutan rahmat-Nya. Aamiin. Salam santun🙏
Vibrant@nwar
Region: ID
Friday 12 June 2026 01:45:16 GMT
Music
Download
Comments
ndra :
.
2026-06-12 15:41:16
0
To see more videos from user @vaniyaga_trust, please go to the Tikwm
homepage.