@traiteur_hamza1:

الشاف حمزة
الشاف حمزة
Open In TikTok:
Region: DZ
Friday 12 June 2026 13:02:51 GMT
198752
3291
10
499

Music

Download

Comments

bejaia_gh6
bejaia06 :
Allah ibarék Top
2026-06-22 12:07:35
0
soumiashraoua
om jihan :
ماشاء الله عليك 🥰🥰
2026-06-18 22:33:44
0
sibal.jdjfbdkbd
Sibal Jdjfbdkbd :
وعلاه مديرش ليڨن
2026-06-12 22:10:18
0
user7759192012494
user7759192012494 :
اعلاش هاد التبدير قطع البطيخ نيشان اعطيو لناس ياكلو
2026-06-22 19:17:27
0
consumerchannel
Kamel azoug :
🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-20 07:52:04
0
kawtertitou
ام البنات للحلويات💕😊 :
🥰🥰🥰
2026-06-12 14:16:56
0
sarahimekraz
sarah hhimekraz :
❤️❤️❤️
2026-06-12 14:27:06
0
lm.is_22
Lm.is_22 :
🥰🥰🥰
2026-06-12 17:43:30
1
zahrat3182
Zahrat :
🥰🥰🥰🥰
2026-06-12 17:03:04
0
la.casa572
la casa :
❤️❤️❤️
2026-06-12 14:17:12
0
To see more videos from user @traiteur_hamza1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Al-Buthi menganalogikan konsep qada’ & qodar dengan seorang guru, yang mana sang guru itu tahu betul mengenai kuantitas dan kapasitas murid-muridnya. Dalam pengetahuan dan statistik sang guru bahwa murid ini akan rangking 1, murid itu gagal dan sisanya hanya mendapatkan nilai yang pas-pasan. Sang guru pun menuliskan nasib para muridnya itu di cacatan pribadinya dan kemudian ia letakkan di kantor. Setelah itu, guru tersebut masih terus tanpa henti-hentinya membimbing, mengajar dan menasihati mereka.  Hingga ketika tiba waktu bagi raport, maka terjadilah sesuai semua apa yang ditulis oleh sang guru. Di sini al-Buthi mengajak kita refleksi dengan sebuah pertanyaan: Jika perkaranya demikian, bagaimana pendapatmu bilamana ada seorang murid yang membuka cacatan gurunya dan ia tau siapa saja yang lulus dan gagal, kemudian ia menghadap gurunya dan mengklaim bahwa gurunya itu telah memaksa murid-muridnya dengan apa yang diketahuinya. Dan sang guru telah menyetir mereka sampai di tujuan itu — apakah pernyataan ini diterima oleh akal ??  Analogi di atas adalah simplifikasi terkait masalah hubungan qada’ dengan perbuatan manusia. Kita akui bahwa sebatas tahu akan terjadinya sesuatu itu tidak memberikan efek dengan adanya sesuatu tersebut. Akan tetapi terjadinya sesuatu itu adalah karena silsilah sebab-musabbabnya bukan ilmunya orang alim atau kebodohannya orang yang bodoh. Dalam lembaran selanjutnya, al-Buthi membedah konsep lain yaitu kejahatan manusia adalah kehendaknya Allah. Di sini beliau lagi-lagi memberikan analogi sebelum memperjelas teori. Adalah umpamanya seorang majikan yang memiliki keraguan dengan amanah budaknya, ia pun mengujinya dalam bentuk perintah yaitu dengan memberinya sejumlah uang untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Sang majikan mengutus budak tersebut sendirian tanpa ada yang menemaninya. Akar kehendak budak itu pertama terhubung dengan ujian sang majikan. Adapun yang terlahir dari kehendak awal daripada pengkhianatan si budak dengan mengambil uang tersebut adalah kehendak yang berangkat dari kehendaknya majikan melalui akar ujian yang harus melahirkan salah satu dari dua natijah (hasil). Bukan artinya kehendak sang majikan itu yang berhubungan langsung dengan apa yang menjadi pilihan si budak antara memberi uang tersebut kepada fakir miskin atau dimasukkan kantongnya. Jika demikian maka akan terjadinya kontradiksi dengan kehendak awal sang majikan yaitu ingin menguji kejujuran budaknya.  Walhasil, kehendak Allah terhubung dengan semua perbuatan manusia. Namun, bukan dengan paksaan dan ilzam, tetapi dengan cara Allah membentangkan pilihan kepada manusia dan mereka yang akan bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Akal mereka adalah kompas sekaligus dalil Allah dalam perkara taklif.  Seandainya akal diciptakan seperti bentuk manusia, maka ia adalah orang yang pertama kali mengenakan jubah kehambaan kepada Allah sebelum makhluk lain.  Ali Syihab, 1 Muharram 1448 H
Al-Buthi menganalogikan konsep qada’ & qodar dengan seorang guru, yang mana sang guru itu tahu betul mengenai kuantitas dan kapasitas murid-muridnya. Dalam pengetahuan dan statistik sang guru bahwa murid ini akan rangking 1, murid itu gagal dan sisanya hanya mendapatkan nilai yang pas-pasan. Sang guru pun menuliskan nasib para muridnya itu di cacatan pribadinya dan kemudian ia letakkan di kantor. Setelah itu, guru tersebut masih terus tanpa henti-hentinya membimbing, mengajar dan menasihati mereka. Hingga ketika tiba waktu bagi raport, maka terjadilah sesuai semua apa yang ditulis oleh sang guru. Di sini al-Buthi mengajak kita refleksi dengan sebuah pertanyaan: Jika perkaranya demikian, bagaimana pendapatmu bilamana ada seorang murid yang membuka cacatan gurunya dan ia tau siapa saja yang lulus dan gagal, kemudian ia menghadap gurunya dan mengklaim bahwa gurunya itu telah memaksa murid-muridnya dengan apa yang diketahuinya. Dan sang guru telah menyetir mereka sampai di tujuan itu — apakah pernyataan ini diterima oleh akal ?? Analogi di atas adalah simplifikasi terkait masalah hubungan qada’ dengan perbuatan manusia. Kita akui bahwa sebatas tahu akan terjadinya sesuatu itu tidak memberikan efek dengan adanya sesuatu tersebut. Akan tetapi terjadinya sesuatu itu adalah karena silsilah sebab-musabbabnya bukan ilmunya orang alim atau kebodohannya orang yang bodoh. Dalam lembaran selanjutnya, al-Buthi membedah konsep lain yaitu kejahatan manusia adalah kehendaknya Allah. Di sini beliau lagi-lagi memberikan analogi sebelum memperjelas teori. Adalah umpamanya seorang majikan yang memiliki keraguan dengan amanah budaknya, ia pun mengujinya dalam bentuk perintah yaitu dengan memberinya sejumlah uang untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Sang majikan mengutus budak tersebut sendirian tanpa ada yang menemaninya. Akar kehendak budak itu pertama terhubung dengan ujian sang majikan. Adapun yang terlahir dari kehendak awal daripada pengkhianatan si budak dengan mengambil uang tersebut adalah kehendak yang berangkat dari kehendaknya majikan melalui akar ujian yang harus melahirkan salah satu dari dua natijah (hasil). Bukan artinya kehendak sang majikan itu yang berhubungan langsung dengan apa yang menjadi pilihan si budak antara memberi uang tersebut kepada fakir miskin atau dimasukkan kantongnya. Jika demikian maka akan terjadinya kontradiksi dengan kehendak awal sang majikan yaitu ingin menguji kejujuran budaknya. Walhasil, kehendak Allah terhubung dengan semua perbuatan manusia. Namun, bukan dengan paksaan dan ilzam, tetapi dengan cara Allah membentangkan pilihan kepada manusia dan mereka yang akan bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Akal mereka adalah kompas sekaligus dalil Allah dalam perkara taklif. Seandainya akal diciptakan seperti bentuk manusia, maka ia adalah orang yang pertama kali mengenakan jubah kehambaan kepada Allah sebelum makhluk lain. Ali Syihab, 1 Muharram 1448 H

About