@_terikatjanji: nonton lengkap ada di yt sulianto indra putra #kontencom #kontencomxsulianto

Terikat janji malam ini
Terikat janji malam ini
Open In TikTok:
Region: ID
Friday 12 June 2026 23:15:32 GMT
14947
13
0
2

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @_terikatjanji, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada jiwa yang hanya bisa mengenal Tuhannya ketika dunia mulai tidak lagi memeluknya. Seperti kata para arifin dalam Al-Hikam Ibnu Atha’illah: “Boleh jadi engkau diberi sesuatu yang tidak engkau sukai, namun di dalamnya ada keselamatanmu. Dan boleh jadi engkau disempitkan, padahal di situlah keluasan makrifat dibukakan.” Allah tidak pernah lalai dalam mengatur hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an Ia berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Seakan hidup ini adalah jalan pulang yang dipenuhi tanda-tanda. Dan ujian adalah tanda yang paling jujur—ia tidak menipu, ia tidak berbohong, ia hanya memaksa hati untuk berhenti bersandar kepada selain-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari & Muslim) Maka ternyata, yang kita kira luka bisa jadi adalah penghapus noda jiwa. Yang kita kira kehilangan, bisa jadi adalah cara Allah mengembalikan kita kepada kemurnian. Para wali Allah memahami ini seperti orang yang memahami bahwa api tidak selalu membakar—kadang ia memurnikan. Seperti Nabi Ayyub ‘alaihissalam, yang kehilangan tubuh, harta, dan keluarga, namun tidak kehilangan “Ya Rabb”-nya. Hingga dari kesabaran yang sunyi itu, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba.” (QS. Shad: 44) Dan dalam kisah para sufi, ada Rabiah Al-Adawiyah yang berkata dalam sunyi malamnya, bahwa cinta kepada Allah tidak bertambah karena nikmat, dan tidak berkurang karena musibah. Sebab yang ia cari bukan pemberian, tetapi Pemilik segala pemberian. Ujian itu seperti hujan yang jatuh di tanah kering. Tanah tidak mengerti sakitnya hujan, tetapi ia tahu satu hal: tanpa hujan, ia tidak akan pernah hidup. Maka air mata yang jatuh dalam diam, bisa jadi bukan tanda kehancuran, tetapi tanda bahwa hati sedang disirami rahmat yang tak terlihat. Dan mungkin, ketika hidup mulai mematahkan harapan-harapan kecilmu, itu bukan akhir—melainkan cara Allah meruntuhkan apa yang membuatmu lupa untuk menengadah. Sebab pada akhirnya, Allah tidak ingin engkau hanya kuat menghadapi dunia, tetapi ingin engkau kembali… mengenal-Nya. Al faqirul Ilmi Al hallajz  #sunyi #fy #renungan #makrifat #tasawuf
Ada jiwa yang hanya bisa mengenal Tuhannya ketika dunia mulai tidak lagi memeluknya. Seperti kata para arifin dalam Al-Hikam Ibnu Atha’illah: “Boleh jadi engkau diberi sesuatu yang tidak engkau sukai, namun di dalamnya ada keselamatanmu. Dan boleh jadi engkau disempitkan, padahal di situlah keluasan makrifat dibukakan.” Allah tidak pernah lalai dalam mengatur hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an Ia berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Seakan hidup ini adalah jalan pulang yang dipenuhi tanda-tanda. Dan ujian adalah tanda yang paling jujur—ia tidak menipu, ia tidak berbohong, ia hanya memaksa hati untuk berhenti bersandar kepada selain-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari & Muslim) Maka ternyata, yang kita kira luka bisa jadi adalah penghapus noda jiwa. Yang kita kira kehilangan, bisa jadi adalah cara Allah mengembalikan kita kepada kemurnian. Para wali Allah memahami ini seperti orang yang memahami bahwa api tidak selalu membakar—kadang ia memurnikan. Seperti Nabi Ayyub ‘alaihissalam, yang kehilangan tubuh, harta, dan keluarga, namun tidak kehilangan “Ya Rabb”-nya. Hingga dari kesabaran yang sunyi itu, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba.” (QS. Shad: 44) Dan dalam kisah para sufi, ada Rabiah Al-Adawiyah yang berkata dalam sunyi malamnya, bahwa cinta kepada Allah tidak bertambah karena nikmat, dan tidak berkurang karena musibah. Sebab yang ia cari bukan pemberian, tetapi Pemilik segala pemberian. Ujian itu seperti hujan yang jatuh di tanah kering. Tanah tidak mengerti sakitnya hujan, tetapi ia tahu satu hal: tanpa hujan, ia tidak akan pernah hidup. Maka air mata yang jatuh dalam diam, bisa jadi bukan tanda kehancuran, tetapi tanda bahwa hati sedang disirami rahmat yang tak terlihat. Dan mungkin, ketika hidup mulai mematahkan harapan-harapan kecilmu, itu bukan akhir—melainkan cara Allah meruntuhkan apa yang membuatmu lupa untuk menengadah. Sebab pada akhirnya, Allah tidak ingin engkau hanya kuat menghadapi dunia, tetapi ingin engkau kembali… mengenal-Nya. Al faqirul Ilmi Al hallajz #sunyi #fy #renungan #makrifat #tasawuf

About