@phamthanhtu199: Máy bơm lốp mini #maybomlop #maybomhoi #bomlopxe #tienichcuocsong #giadungtienich

TÚ PHẠM
TÚ PHẠM
Open In TikTok:
Region: VN
Saturday 13 June 2026 02:39:31 GMT
778
7
0
3

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @phamthanhtu199, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

KH. Sa’id bin KH. Armia (1896–1974) adalah seorang ulama arif billah dari Cikura, Bojong, Tegal, Jawa Tengah. Beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren dan tauhid yang kuat. Ayahnya, KH. Armia bin Kyai Kurdi, adalah pendiri Pesantren Attauhidiyyah Cikura dan dikenal sebagai ulama besar penyebar akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah. • **Masa Belajar dan Guru-guru**   Sejak muda, KH. Sa’id menempuh jalan ilmu dan suluk dengan penuh adab dan kesungguhan. Di antara guru-guru beliau adalah:   - KH. Armia bin Kyai Kurdi (ayah)   - Kyai Romdhon (Lemah Duwur)   - KH. Abu Ubaidah (Giren)   - Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki   - Syekh Ali bin Ahmad Basalamah (Mursyid Tarekat Tijaniyyah)   Dari dua guru terakhir, beliau menerima sanad Tarekat Tijaniyyah. Namun, meskipun memiliki kedudukan tinggi dalam tasawuf, beliau tetap menempatkan **tauhid** sebagai inti dakwah dan pendidikan umat. • **Ulama Tauhid yang Disaksikan Langit**   Suatu hari, Syekh Ali Basalamah datang ke Tegal setelah mendengar adanya seorang ulama yang mengajarkan tauhid Imam as-Sanusi dengan kedalaman luar biasa. Ketika beliau melihat KH. Sa’id sedang mengajar, Allah membuka pandangan batinnya: Di sisi kanan KH. Sa’id tampak Rasulullah ﷺ, dan di sisi kirinya tampak Imam as-Sanusi رحمه الله.   Isyarat ini dipahami para ulama sebagai tanda bahwa ilmu yang diajarkan KH. Sa’id adalah ilmu yang lurus, bersambung sanadnya, dan penuh keberkahan. • **Murid-murid dan Cahaya Kewalian**   Di antara murid beliau yang paling masyhur adalah **Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih**, pendiri Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah, Malang.   Usulan Habib Abdurrahman untuk menyelenggarakan haul KH. Armia mulai dilakukan sebagai sarana menghidupkan tauhid dan mengenang perjuangan para ulama, yang hingga kini dihadiri jamaah dari berbagai daerah dan luar negeri. • **Karomah dan Penjagaan Allah**   KH. Sa’id dikenal sebagai sosok yang sangat wara’, zuhud, dan menjaga pandangan. Suatu malam, ketika beliau keluar untuk shalat tahajud di masjid, beliau melihat seorang perempuan cantik yang berkata bahwa dirinya bukan manusia dan bukan jin, tetapi bidadari karena tidak dapat menunggu beliau di surga.   Namun KH. Sa’id tidak terpengaruh sedikit pun. Hatinya tetap tertambat kepada Allah. Kisah ini diceritakan bukan untuk mengagungkan beliau, melainkan untuk menunjukkan: Kemuliaan sejati bukan pada karomah, tetapi pada keteguhan tauhid dan keikhlasan kepada Allah. • **Karya-karya Kitab KH. Sa’id bin KH. Armia**   KH. Sa’id juga meninggalkan warisan keilmuan dalam bentuk karya tulis, di antaranya:   1. **Ta‘limul Mubtadi’in (Risalah Awwal)**   Kitab tauhid dasar yang membahas akidah Ahlussunnah dengan metode Sifat Dua Puluh, ditulis dalam bahasa Jawa Pegon agar mudah dipahami.   2. Beberapa risalah dan catatan pengajaran tauhid dan akhlak. Melalui karya-karya ini, dakwah beliau terus hidup meskipun jasadnya telah kembali ke rahmatullah.   • **Dakwah dan Warisan Ilmu**   Mengasuh Pesantren Attauhidiyyah Giren, beliau mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan tauhid yang murni, ibadah yang ikhlas, dan akhlak yang rendah hati.   Bagi beliau, ilmu bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk menuntun manusia mengenal Tuhannya.   **Wafat dan Teladan Abadi**   KH. Sa’id wafat pada 20 Rajab 1395 H / 29 Juli 1974 M. Makam beliau di Giren, Tegal, hingga kini tidak pernah sepi dari peziarah yang ingin meneladani hidupnya.
KH. Sa’id bin KH. Armia (1896–1974) adalah seorang ulama arif billah dari Cikura, Bojong, Tegal, Jawa Tengah. Beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren dan tauhid yang kuat. Ayahnya, KH. Armia bin Kyai Kurdi, adalah pendiri Pesantren Attauhidiyyah Cikura dan dikenal sebagai ulama besar penyebar akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah. • **Masa Belajar dan Guru-guru** Sejak muda, KH. Sa’id menempuh jalan ilmu dan suluk dengan penuh adab dan kesungguhan. Di antara guru-guru beliau adalah: - KH. Armia bin Kyai Kurdi (ayah) - Kyai Romdhon (Lemah Duwur) - KH. Abu Ubaidah (Giren) - Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki - Syekh Ali bin Ahmad Basalamah (Mursyid Tarekat Tijaniyyah) Dari dua guru terakhir, beliau menerima sanad Tarekat Tijaniyyah. Namun, meskipun memiliki kedudukan tinggi dalam tasawuf, beliau tetap menempatkan **tauhid** sebagai inti dakwah dan pendidikan umat. • **Ulama Tauhid yang Disaksikan Langit** Suatu hari, Syekh Ali Basalamah datang ke Tegal setelah mendengar adanya seorang ulama yang mengajarkan tauhid Imam as-Sanusi dengan kedalaman luar biasa. Ketika beliau melihat KH. Sa’id sedang mengajar, Allah membuka pandangan batinnya: Di sisi kanan KH. Sa’id tampak Rasulullah ﷺ, dan di sisi kirinya tampak Imam as-Sanusi رحمه الله. Isyarat ini dipahami para ulama sebagai tanda bahwa ilmu yang diajarkan KH. Sa’id adalah ilmu yang lurus, bersambung sanadnya, dan penuh keberkahan. • **Murid-murid dan Cahaya Kewalian** Di antara murid beliau yang paling masyhur adalah **Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih**, pendiri Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah, Malang. Usulan Habib Abdurrahman untuk menyelenggarakan haul KH. Armia mulai dilakukan sebagai sarana menghidupkan tauhid dan mengenang perjuangan para ulama, yang hingga kini dihadiri jamaah dari berbagai daerah dan luar negeri. • **Karomah dan Penjagaan Allah** KH. Sa’id dikenal sebagai sosok yang sangat wara’, zuhud, dan menjaga pandangan. Suatu malam, ketika beliau keluar untuk shalat tahajud di masjid, beliau melihat seorang perempuan cantik yang berkata bahwa dirinya bukan manusia dan bukan jin, tetapi bidadari karena tidak dapat menunggu beliau di surga. Namun KH. Sa’id tidak terpengaruh sedikit pun. Hatinya tetap tertambat kepada Allah. Kisah ini diceritakan bukan untuk mengagungkan beliau, melainkan untuk menunjukkan: Kemuliaan sejati bukan pada karomah, tetapi pada keteguhan tauhid dan keikhlasan kepada Allah. • **Karya-karya Kitab KH. Sa’id bin KH. Armia** KH. Sa’id juga meninggalkan warisan keilmuan dalam bentuk karya tulis, di antaranya: 1. **Ta‘limul Mubtadi’in (Risalah Awwal)** Kitab tauhid dasar yang membahas akidah Ahlussunnah dengan metode Sifat Dua Puluh, ditulis dalam bahasa Jawa Pegon agar mudah dipahami. 2. Beberapa risalah dan catatan pengajaran tauhid dan akhlak. Melalui karya-karya ini, dakwah beliau terus hidup meskipun jasadnya telah kembali ke rahmatullah. • **Dakwah dan Warisan Ilmu** Mengasuh Pesantren Attauhidiyyah Giren, beliau mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan tauhid yang murni, ibadah yang ikhlas, dan akhlak yang rendah hati. Bagi beliau, ilmu bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk menuntun manusia mengenal Tuhannya. **Wafat dan Teladan Abadi** KH. Sa’id wafat pada 20 Rajab 1395 H / 29 Juli 1974 M. Makam beliau di Giren, Tegal, hingga kini tidak pernah sepi dari peziarah yang ingin meneladani hidupnya.

About