@theymightbeloudmaggots: #fyp

theymightbeloudmaggots
theymightbeloudmaggots
Open In TikTok:
Region: US
Saturday 13 June 2026 07:07:43 GMT
668
73
1
1

Music

Download

Comments

To see more videos from user @theymightbeloudmaggots, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pertamax makin mahal. Pertalite pun menjadi pelarian. Masalahnya, ketika jutaan pengguna mulai meninggalkan BBM nonsubsidi dan beralih ke BBM bersubsidi, yang menanggung tagihannya bukan Pertamina. Melainkan APBN. Harga Pertamax kini sudah menembus Rp16.250 per liter, sementara Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter. Selisih Rp6.250 per liter membuat semakin banyak masyarakat berpikir ulang untuk tetap menggunakan BBM nonsubsidi. Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, memperingatkan bahwa migrasi besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite dapat memicu ledakan beban subsidi energi. Simulasinya tidak main-main. Jika 20% pengguna Pertamax berpindah ke Pertalite, tambahan beban subsidi diperkirakan mencapai Rp3,8 hingga Rp6,5 triliun per tahun. Jika migrasi mencapai 60%, APBN berpotensi menanggung tambahan beban hingga Rp19,5 triliun per tahun. Padahal hingga Mei 2026, subsidi dan kompensasi energi sudah mencapai Rp203,7 triliun atau sekitar 45,6% dari pagu yang disediakan negara. Artinya, ruang fiskal pemerintah sebenarnya sudah sesak bahkan sebelum gelombang perpindahan pengguna Pertamax terjadi secara penuh. Ironisnya, masyarakat tidak bisa disalahkan. Ketika harga BBM nonsubsidi terus naik, pilihan paling rasional bagi banyak keluarga adalah mencari bahan bakar yang lebih murah. Namun di sisi lain, semakin banyak yang beralih ke Pertalite, semakin besar pula tagihan subsidi yang harus dibayar negara. Pertanyaannya: Apakah kebijakan energi hari ini benar-benar menyelesaikan masalah? Atau justru sedang memindahkan beban dari pompa bensin ke kas negara? #SipilBerserikat
Pertamax makin mahal. Pertalite pun menjadi pelarian. Masalahnya, ketika jutaan pengguna mulai meninggalkan BBM nonsubsidi dan beralih ke BBM bersubsidi, yang menanggung tagihannya bukan Pertamina. Melainkan APBN. Harga Pertamax kini sudah menembus Rp16.250 per liter, sementara Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter. Selisih Rp6.250 per liter membuat semakin banyak masyarakat berpikir ulang untuk tetap menggunakan BBM nonsubsidi. Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, memperingatkan bahwa migrasi besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite dapat memicu ledakan beban subsidi energi. Simulasinya tidak main-main. Jika 20% pengguna Pertamax berpindah ke Pertalite, tambahan beban subsidi diperkirakan mencapai Rp3,8 hingga Rp6,5 triliun per tahun. Jika migrasi mencapai 60%, APBN berpotensi menanggung tambahan beban hingga Rp19,5 triliun per tahun. Padahal hingga Mei 2026, subsidi dan kompensasi energi sudah mencapai Rp203,7 triliun atau sekitar 45,6% dari pagu yang disediakan negara. Artinya, ruang fiskal pemerintah sebenarnya sudah sesak bahkan sebelum gelombang perpindahan pengguna Pertamax terjadi secara penuh. Ironisnya, masyarakat tidak bisa disalahkan. Ketika harga BBM nonsubsidi terus naik, pilihan paling rasional bagi banyak keluarga adalah mencari bahan bakar yang lebih murah. Namun di sisi lain, semakin banyak yang beralih ke Pertalite, semakin besar pula tagihan subsidi yang harus dibayar negara. Pertanyaannya: Apakah kebijakan energi hari ini benar-benar menyelesaikan masalah? Atau justru sedang memindahkan beban dari pompa bensin ke kas negara? #SipilBerserikat

About