@chls00012: พี่รักน้องภูวินทร์ทุกพาร์ทเลยนะ 🥺🫳🏻 @phuwintang #phuwintang #ภูวินทร์ตั้งศักดิ์ยืน #CATTSHIRTxPHUWIN

✨🐻ลสหัวใจปภว🐼✨
✨🐻ลสหัวใจปภว🐼✨
Open In TikTok:
Region: TH
Saturday 13 June 2026 07:34:38 GMT
21010
8963
51
361

Music

Download

Comments

yugyeom889955
Yugyeom889955 :
คนเก่งของมี๊🤟💙🤟
2026-06-16 02:37:08
2
ray.marktuan
Ray_MT🐰💚 :
รักนะพุพุของมิ๊😻
2026-06-13 12:47:32
11
amirahfiore
amirah fiore :
these eyes that tear up with joy at our meeting deserve nothing but love and support from us. Phuwiiiiiin love you my pretty soul 💞🤗🥰
2026-06-15 15:09:21
0
nooleklovekay
เล็ก อยากเป็นเกย์ :
มัมหมีมีน้ำตา ภูวินทร์ เก่งที่สุด ซัพพอร์ตตลอดไปนะครับ🥰
2026-06-13 14:03:57
7
kikky9699
Kky Smilezz🦖 :
รักพุพุนร้าาาซัพพอร์ตทุกพาร์ทที่ลูกทำ🤟🏻❤️🍑
2026-06-15 06:46:52
1
gordash6
🦋น้องสุ ใจดี 🧊 :
น่ารัก😍
2026-06-13 13:20:32
3
naetone
เนตอนจะไปเชียงใหม่ :
ปุ่มรีต้องมาแน้วคับ😭🥹
2026-06-13 14:05:47
1
thunade
ซึนาเดะ (อยากเกิดเป็นเมะอ่ะ) :
น่ารักเปล่งประกายที่สุด
2026-06-14 01:13:13
1
phqx_mee
ไรอะ :
เก่งที่สุดในใจมี๊แล้วคั้ป🥰
2026-06-14 01:25:24
1
ininkodfenfenn
ฟินฟิน :
คนเก่งงง🥹🤍
2026-06-13 11:48:59
4
nm_nannaphat
K.knomping ☾︎☼︎ :
คนเก่ง🥹
2026-06-13 18:22:18
1
xexxeexe
🐼🐻1212312121🦈🎸💜 :
พุพุเก่งมากๆเลยยย ดีใจที่มีคนรักพุพุเยอะขนาดนี้ 🥰🥰
2026-06-14 15:24:32
2
meaow.c
ยู่ยี่จู้จี้ :
รักที่สุด💕
2026-06-14 11:36:57
1
ppbbmt
moomoomoo :
โง๊ยยเด็กจะร้องไห้สิ่นะนั่น พุพุเก่งมากเลยน้า💓💓
2026-06-13 18:08:59
1
panutchakorn_41
Panutchakorn 🍑 :
รักพุพุนะ 😘😘
2026-06-13 16:27:17
1
tee455804
T🇱🇦 :
เอ็นดูร้องเลยพุพุเก่งมาก🥰🥰
2026-06-13 15:36:51
0
jesdo07
แพม ชอบกินผัก🥬 :
รักพุพุเหมือนกันนะค้าบ🥰
2026-06-14 02:44:07
1
user16340690339632
หนูรัก พิมมาลัย :
2026-06-14 12:10:29
1
laddaboonaphai
LB... :
2026-06-15 09:00:31
1
mild242540
Mildddddddddddd :
รักพุพุ❤️❤️❤️❤️❤️
2026-06-15 09:05:19
1
To see more videos from user @chls00012, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kau lahir di antara retakan— bukan sebagai cahaya yang disambut, melainkan bayang yang selalu dihindari. Ibu dan ayahmu tak pernah benar-benar menatapmu sebagai anak. Dan kakak laki-lakimu… ia belajar untuk tidak mengenalmu, bahkan sebelum ia mengerti arti keluarga. • Kini usiamu sepuluh tahun. Seharusnya kau berlari tanpa takut, tertawa tanpa ragu, dan bermimpi tanpa bayangan gelap. Namun yang kau kenal hanyalah suara— teriakan yang menggema di dinding rumah, dan tangan-tangan yang seharusnya melindungi, justru menjadi sumber luka. Tak ada yang tahu, bahwa di dalam tubuh kecilmu, ada ketakutan yang hidup dan tak pernah tidur. • Hari itu, suara ayah dan ibumu kembali pecah— bukan tentang siapa yang ingin menjagamu, melainkan siapa yang ingin melepaskanmu. Kau bukan diperebutkan— kau dilemparkan. Seperti benda yang tak pernah diminta untuk dimiliki. Pada akhirnya, kau ikut dengan ayahmu, dan kakakmu, Sunghoon, memilih tinggal bersama ibu. Kau sempat berharap— mungkin ini awal yang baru. Namun harapanmu terlalu rapuh. Beberapa bulan kemudian, ayahmu menikah lagi. Dan kau… ditinggalkan. Bukan di rumah baru, melainkan di sebuah panti— tanpa pelukan, tanpa penjelasan. Seolah keberadaanmu bisa dihapus begitu saja. • Hari-harimu di panti berjalan pelan, seperti waktu yang enggan bergerak. Hingga suatu hari, untuk pertama kalinya, kau diajak pergi ke taman kota. Matamu berbinar— akhirnya kau bisa menjadi anak kecil, walau hanya sebentar. Kau berlari, tertawa, mengejar angin seperti anak-anak lain. Dan di tengah riuh itu— kau melihatnya. Sunghoon. Kakakmu. Hatimu berdebar, langkahmu bergegas mendekat. “Kakak! Kak Sunghoon!” Suaramu penuh harap— penuh rindu yang selama ini kau simpan sendiri. Ia menoleh. Namun bukan hangat yang kau temukan, melainkan dingin yang menolak. “Kak… aku kangen…” Belum selesai kalimatmu, tubuhmu terdorong jatuh ke trotoar. “Apaan sih? Aku nggak kenal kamu.” Dan ia pergi. Meninggalkanmu— sekali lagi. • Empat bulan berlalu. Dan luka itu tak pernah benar-benar hilang. Hari ini, panti kedatangan para sukarelawan. Anak-anak bersorak, termasuk dirimu. Kau mencoba bahagia— meski hatimu selalu rapuh. Namun takdir seperti ingin mengulang luka yang sama. Di antara keramaian itu— Sunghoon kembali muncul. “Y/N?” Suara itu memanggilmu. Kau menoleh. Dan waktu seakan berhenti. “Y/N… itu kamu?” Kau tersenyum kecil. “Kakak…kamu disini
Kau lahir di antara retakan— bukan sebagai cahaya yang disambut, melainkan bayang yang selalu dihindari. Ibu dan ayahmu tak pernah benar-benar menatapmu sebagai anak. Dan kakak laki-lakimu… ia belajar untuk tidak mengenalmu, bahkan sebelum ia mengerti arti keluarga. • Kini usiamu sepuluh tahun. Seharusnya kau berlari tanpa takut, tertawa tanpa ragu, dan bermimpi tanpa bayangan gelap. Namun yang kau kenal hanyalah suara— teriakan yang menggema di dinding rumah, dan tangan-tangan yang seharusnya melindungi, justru menjadi sumber luka. Tak ada yang tahu, bahwa di dalam tubuh kecilmu, ada ketakutan yang hidup dan tak pernah tidur. • Hari itu, suara ayah dan ibumu kembali pecah— bukan tentang siapa yang ingin menjagamu, melainkan siapa yang ingin melepaskanmu. Kau bukan diperebutkan— kau dilemparkan. Seperti benda yang tak pernah diminta untuk dimiliki. Pada akhirnya, kau ikut dengan ayahmu, dan kakakmu, Sunghoon, memilih tinggal bersama ibu. Kau sempat berharap— mungkin ini awal yang baru. Namun harapanmu terlalu rapuh. Beberapa bulan kemudian, ayahmu menikah lagi. Dan kau… ditinggalkan. Bukan di rumah baru, melainkan di sebuah panti— tanpa pelukan, tanpa penjelasan. Seolah keberadaanmu bisa dihapus begitu saja. • Hari-harimu di panti berjalan pelan, seperti waktu yang enggan bergerak. Hingga suatu hari, untuk pertama kalinya, kau diajak pergi ke taman kota. Matamu berbinar— akhirnya kau bisa menjadi anak kecil, walau hanya sebentar. Kau berlari, tertawa, mengejar angin seperti anak-anak lain. Dan di tengah riuh itu— kau melihatnya. Sunghoon. Kakakmu. Hatimu berdebar, langkahmu bergegas mendekat. “Kakak! Kak Sunghoon!” Suaramu penuh harap— penuh rindu yang selama ini kau simpan sendiri. Ia menoleh. Namun bukan hangat yang kau temukan, melainkan dingin yang menolak. “Kak… aku kangen…” Belum selesai kalimatmu, tubuhmu terdorong jatuh ke trotoar. “Apaan sih? Aku nggak kenal kamu.” Dan ia pergi. Meninggalkanmu— sekali lagi. • Empat bulan berlalu. Dan luka itu tak pernah benar-benar hilang. Hari ini, panti kedatangan para sukarelawan. Anak-anak bersorak, termasuk dirimu. Kau mencoba bahagia— meski hatimu selalu rapuh. Namun takdir seperti ingin mengulang luka yang sama. Di antara keramaian itu— Sunghoon kembali muncul. “Y/N?” Suara itu memanggilmu. Kau menoleh. Dan waktu seakan berhenti. “Y/N… itu kamu?” Kau tersenyum kecil. “Kakak…kamu disini" Sunghoon menatapmu tidak percaya. "Kamu ngapain disini" "Aku tinggal disini kak" Ucapmu ringan seperti tidak ada luka di Kalimat itu. Namun saat ia menyebut satu kata— “Ayah…” Dunia runtuh. Tubuhmu gemetar, napasmu tercekik oleh kenangan. Dan dalam sekejap— gelap. • Ketika kau terbaring tak sadarkan diri, barulah kebenaran terungkap. Tentang luka-lukamu. Tentang ketakutan yang kau pendam. Tentang trauma yang diam-diam menghancurkanmu. Sunghoon terdiam. Penyesalan mulai merayap— perlahan, namun pasti. • Malam itu, ia pulang dengan hati yang tak lagi utuh. “Bu… aku ketemu Y/N.” Wajah ibunya mengeras. Namun ketika Sunghoon menceritakan semuanya— tentang panti, tentang luka, tentang penyakit yang tak terlihat— hening menggantung di udara. “Dia… dibuang, Bu…” Dan untuk pertama kalinya, ibu itu tak punya jawaban. • Keesokan harinya— mereka datang ke panti. Langkah kaki ibumu terhenti di ambang pintu. Ruangan itu sunyi—terlalu sunyi untuk seorang anak kecil. Sunghoon berdiri di belakangnya, napasnya tercekat. Di atas ranjang itu— kau terbaring. Tubuhmu kecil, jauh lebih rapuh dari yang mereka ingat. “I-ini Y/N…?” Tak ada jawaban. Ibu panti mengangguk pelan. “Dia pingsan karena kelelahan… dan trauma yang terlalu sering terpicu.” (+comen) #pov #enhypen #sunghoon #alternativeuniverse #foryoupage

About