@fotbalviral: Îți mai amintești de el ?#govira

fotbalviral
fotbalviral
Open In TikTok:
Region: MD
Saturday 13 June 2026 19:31:00 GMT
13343
231
1
1

Music

Download

Comments

raresmihai12
Rareș :
primul
2026-06-13 19:37:29
1
To see more videos from user @fotbalviral, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Como Enéas Carneiro morreu? Enéas Carneiro foi um político, médico, físico, matemático e escritor brasileiro, que ficou famoso pelo seu bordão
Como Enéas Carneiro morreu? Enéas Carneiro foi um político, médico, físico, matemático e escritor brasileiro, que ficou famoso pelo seu bordão "Meu nome é Enéas". Ele ganhou fama nacional ao concorrer à presidência do Brasil em 1989, como candidato do Partido de Reedificação da Ordem Nacional, mais conhecido como PRONA. Enéas Ferreira Carneiro, nasceu em Rio Branco, no Acre, em 5 de novembro de 1938. Filho de Eustáquio José Carneiro, um barbeiro, e Mina Ferreiro Carneiro, dona de casa. Sua infância sempre foi marcada pela pobreza, e piorou ainda mais quando seu pai veio a falecer, quando Enéas tinha apenas 9 anos de idade. Durante muito tempo sua alimentação era farinha e café. Com a morte de seu pai, ele precisou buscar emprego para ajudar no sustento da família. Ele trabalhou nos mais diferentes trabalhos, que ia desde a construção civil até auxiliar de escritório. Durante sua infância, Enéas era conhecido por seu entusiasmo pelos estudos e pela ciência, e mesmo com a vida sofrida, nunca deixou de estudar. Em sua juventude, Enéas se interessou pelos textos de Engels, que o tornou num entusiasta do socialismo científico, porém mudou de pensamento logo em seguida, por entender que sem a competição a sociedade não se desenvolve.  Em 1958, aos 19 anos, ele se muda com sua mãe para o Rio de Janeiro, iniciando seus estudos na Escola de Saúde do Exército. Em 1959 formou-se terceiro-sargento auxiliar de anestesiologia, sendo primeiro lugar de sua turma. Em 1960, ele passa em primeiro lugar no Vestibular para Escola de Medicina e Cirurgia do Rio de Janeiro.  Além da área da saúde, Enéas realizou em 1962, o vestibular para matemática e física pela Faculdade de Filosofia, Ciência e Letras do Estado da Guanabara. Outra vez ele passa em primeiro lugar. Mesmo cursando duas faculdades ao mesmo tempo, e trabalhando no exército, Enéas se apaixona por Jamile Augusta Ferreira, que cursava medicina na mesma faculdade que ele. Desse casamento nasce sua primeira filha, chamada Janete. Em 1965, formou-se médico, e tomou a decisão de pedir baixa do exército, após oito anos de serviço ativo no Hospital Central do Exército, onde auxiliou os médicos em mais de 5 mil anestesias, já tendo recebido a medalha Marechal Hermes. Durante sua vida antes da política, Enéas trabalhou como anestesista no Hospital Central do Exército, como assistente na Santa Casa de Misericórdia e como professor de matemática, física, química, biologia e português em cursos pré-universitários. Ele também fez mestrado em cardiologia na Universidade Federal do Rio de Janeiro e criou um curso sobre eletrocardiograma que foi ministrado no Brasil e no Equador. Nesse período Enéas se casa mais duas vezes, e tem mais duas filhas, Gabriela do segundo casamento e Lígia do seu terceiro casamento. Sua entrada na política, só aconteceu em 1989, quando Enéas decide fundar o Partido de Reedificação da Ordem Nacional, conhecido pela sigla PRONA, e se candidatou à presidência da República. Como não tinha representação no Congresso Nacional, ele dispunha apenas de duas exposições diárias de 15 segundos no horário eleitoral. Nesse tempo, ele falava rapidamente sobre seus projetos para o país, como a reestatização das empresas privatizadas, a produção da bomba atômica, a exploração dos recursos naturais e a valorização dos professores. Ele sempre terminava seus discursos com a fras #eneiascarneiro #politica #prona #politicabrasil #nacionalismo
Sungguh ironis melihat bagaimana diskursus publik kita bisa dengan mudahnya dibajak oleh satu judul berita provokatif. Belakangan ini, ramai narasi yang menggiring opini seolah-olah Presiden menggunakan APBN untuk ibadah kurban pribadinya. Mari kita naikkan level literasi politik kita dan melihat isu ini dengan kacamata yang lebih kritis namun tetap diplomatis. Kita harus mulai membiasakan diri untuk memisahkan antara entitas personal dan institusional. Bantuan 1.098 sapi tersebut bukanlah ibadah kurban atas nama pribadi Prabowo, melainkan bagian dari Bantuan Kemasyarakatan (Banmas) Presiden. Ini adalah instrumen resmi tata negara, didanai oleh APBN, dan secara spesifik dirancang agar kehadiran negara bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput, pesantren, ormas, dan daerah-daerah yang jauh dari gemerlap Pulau Jawa. Dalam negara demokrasi, sikap kritis bukanlah sekadar opsi, melainkan kewajiban. Kita sangat berhak mengawasi pemerintah. Namun, kemarahan yang didasari oleh framing keliru hanya akan menghasilkan kebisingan tanpa makna. Jika kita benar-benar peduli pada rakyat, pindahkan fokus kritik tersebut pada substansi eksekusinya. Tanyakan dan kawal prosesnya: Apakah penyaluran sapi Banmas ini sudah transparan? Apakah distribusinya tepat sasaran dan benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak di daerah? Itulah bentuk pengawasan yang cerdas dan substantif. Berbeda pandangan politik adalah hal yang lumrah. Namun, jangan sampai keengganan kita pada sosok tertentu membuat kita secara tidak sadar ikut menyerang dan memelintir program negara yang manfaatnya jelas-jelas ditujukan untuk mengisi perut rakyat. Mari jadi masyarakat yang kritis secara objektif, bukan kritis karena termakan clickbait. 🇮🇩⚖️ #DemokrasiCerdas #KritikSubstantif #BanmasPresiden #FaktaBicara #EdukasiPolitik #PrabowoSubianto #AkalSehat #BantuanRakyat #LiterasiPolitik #IndonesiaMaju
Sungguh ironis melihat bagaimana diskursus publik kita bisa dengan mudahnya dibajak oleh satu judul berita provokatif. Belakangan ini, ramai narasi yang menggiring opini seolah-olah Presiden menggunakan APBN untuk ibadah kurban pribadinya. Mari kita naikkan level literasi politik kita dan melihat isu ini dengan kacamata yang lebih kritis namun tetap diplomatis. Kita harus mulai membiasakan diri untuk memisahkan antara entitas personal dan institusional. Bantuan 1.098 sapi tersebut bukanlah ibadah kurban atas nama pribadi Prabowo, melainkan bagian dari Bantuan Kemasyarakatan (Banmas) Presiden. Ini adalah instrumen resmi tata negara, didanai oleh APBN, dan secara spesifik dirancang agar kehadiran negara bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput, pesantren, ormas, dan daerah-daerah yang jauh dari gemerlap Pulau Jawa. Dalam negara demokrasi, sikap kritis bukanlah sekadar opsi, melainkan kewajiban. Kita sangat berhak mengawasi pemerintah. Namun, kemarahan yang didasari oleh framing keliru hanya akan menghasilkan kebisingan tanpa makna. Jika kita benar-benar peduli pada rakyat, pindahkan fokus kritik tersebut pada substansi eksekusinya. Tanyakan dan kawal prosesnya: Apakah penyaluran sapi Banmas ini sudah transparan? Apakah distribusinya tepat sasaran dan benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak di daerah? Itulah bentuk pengawasan yang cerdas dan substantif. Berbeda pandangan politik adalah hal yang lumrah. Namun, jangan sampai keengganan kita pada sosok tertentu membuat kita secara tidak sadar ikut menyerang dan memelintir program negara yang manfaatnya jelas-jelas ditujukan untuk mengisi perut rakyat. Mari jadi masyarakat yang kritis secara objektif, bukan kritis karena termakan clickbait. 🇮🇩⚖️ #DemokrasiCerdas #KritikSubstantif #BanmasPresiden #FaktaBicara #EdukasiPolitik #PrabowoSubianto #AkalSehat #BantuanRakyat #LiterasiPolitik #IndonesiaMaju

About